
Dillon menarik tangan Amara dengan begitu eratnya.
"Cepat! Kita pulang Luna. Akan ku beritahu ayah dan ibu, jika kamu memang benar-benar nakal melebihi diriku. Akan ku beritahu mereka apa yang telah kau perbuat dengan anak dari keluarga Dario."
Dillon mendorong masuk Amara kedalam mobilnya. Dan terlihat Amara benar-benar kesakitan.
Kejadiaan itu dilihat langsung oleh Gerry dan Bonita.
"Ned! Kenapa kamu tak menghentikan Dillon. Kasian Amara." ucap Gerry pada Ned.
"Biarkan Amara bertemu keluarganya dulu, dan memikirkan keputusannya lagi. Karena Amara tak menjawab pertanyaanku."
"Astaga Ned, kenapa kamu melakukan itu?"
"Ger, aku tahu itu hal yang buruk. Tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar mabuk malam itu. Aku tak sengaja, tapi aku berjanji akan bertanggung jawab padanya."
"Ray masih belum ditemukan dan masalah baru ada lagi." Sambung Bonita.
Tiba-tiba Ned mendapatkan panggilan dari polisi. Ned dengan cepat mengangkatnya.
"Halo pak. Bagaimana? Apa kalian menemukan Ray?" Tanya Ned dengan serius.
"Ya kami sudah melacak nomer handphone si penjahat itu. Dan kami menemukan lokasi handphonenya berada di jembatan yang dibawahnya mengalir sungai. Sepertinya si penculik itu membuang handphonenya."
Polisi langsung mematikan panggilannya. Ned merasa kecewa dengan kabar pertama yang ia dapatkan dari polisi.
"Bagaimana Ned, ada kabar apa?" tanya Gerry menghampiri Ned yang melamun.
"Hei Ned!"
"I-iya Ger, E-eum... Polisi bilang. Penjahat itu membuang handphoennya di sungai bawah jembatan jalan raya. Mereka belum menemukan Ray."
"Astaga. Bagaimana ini, sudah empat hari Ray belum kembali dan aku terus berbohong pada ayah dan ibu jika Ray baik-baik saja, Ray sibuk bekerja."
"Ned, kita harus turun tangan. Besok kita kesana, kita pergi ke jembatan yang dibawahnya mengalir air sungai. Pasti si penjahat tudung hitam itu pergi ke arah sana."
Ned menganggukan kepalanya, dan menyetujui ajakan Gerry.
"Baiklah besok pagi kita kesana. Karena besok sudah masuk hari kelima sejak Ray diculik."
__ADS_1
****
Dalam perjalanan menuju arah jalan pulang. Amara terus diam dikursi belakang mobil Dillon. Amara menangis tanpa suara didalam mobil, Amara benar-benar memikirkan bagaimana jika Ray tahu jika ia hamil anak Ned.
"Ray kamu dimana... " ucap batin Amara sembari melihat keluar jendela mobil. "Aku tahu kita belum ada ikatan apapun tapi aku benar-benar mencintaimu Ray dan takut kehilanganmu."
"Ingat. Jangan beritahu ayahku dan ibumu jika aku mempekerjakanmu dan mengurungmu diclubku."
"Kamu tega Dill padaku, ini sudah hampir empat tahun aku tak menemui mereka dan kamu terus memperlakukanku seperti ini."
"Lagipula kamu hanya adik tiriku, aku tak peduli. Jika kamu mengatakan aku terus mengancamu dan akan membunuh ibumu. Aku akan benar-benar menghabisinya."
"Tolong jelaskan padaku kenapa kamu membenciku dan juga ibuku?"
"Karena ibumu menikah dengan ayahku, sehingga kasih sayangnya berkurang padaku. Ayahku terlalu menyanyangi ibumu dan juga kamu Luna. Sekarang aku punya rencana."
Akhirnya Amara tiba dirumahnya. Karena Amara masih lemah untuk berjalan, Dillon menuntun Amara masuk kedalam rumah.
Dan terlihat Ayah Dillon dan ibu Amara sedang makan di meja makan.
"Ayah... Lihat aku menemukan Laluna."
LUNA!!!
Ibu Amara yang tahu Luna ditemukan oleh Dillon merasa bahagia. Ia berlari menghampiri anak perempuannya itu, begitu pula ayah Dillon yang menjadi ayah tirinya Amara. Mereka memeluk Amara dengan erat.
Mereka duduk bersama diruang keluarga. Ibu Amara menyiapkan beberapa makanan untuk Amara.
"Luna... Kamu pergi kemana selama tiga tahun ini? Kami sudah mencarimu kemana-mana tapi kami tak menemukanmu. Dan sekarang Dillon membawamu pulang, Dill Ayah bangga padamu."
Amara senang karena Ayah tirinya baik padanya dan juga ibunya. Amara nyaman tinggal bersama mereka. Namun karena Dillon terus mengancamnya, Amara ketakutan dan tertekan tinggal bersama mereka. Jadi Amara pergi meninggalkan mereka dan berpura-pura menjadi orang lain.
"Aku baik-baik saja Ayah, aku bertemu dengan orang-orang baik diluarsana."
"Luna... Bisakah kamu jelaskan pada ibu. Siapa yang menculikmu? Jika tak ada yang menculikmu lalu kenapa kamu pergi menghilang tiga tahun lamanya, apa yang membuatmu melakukan hal itu?"
Ketika ibunya bertanya tentangnya. Amara tetap tak memberitahu alasannya pergi, Amara tetap patuh pada Dillon. Amara tak memberitahu kedua orang tuanya jika Dillon terus mengancam dirinya.
"Bu, sekarang lupakan masasalalu, sekarang aku kembali. Jangan tanyakan hal apapun karena aku baik-baik saja. Aku minta maaf pada kalian berdua. Aku mohon lupakan masalah itu, aku baik-baik saja, jangan bahas itu lagi."
__ADS_1
"Baiklah, tapi... Kamu terlihat pucat ada apa denganmu?" tanya ibu Amara.
Seketika Amara menatap mata Dillon dan memberi kode bahwa jangan beritahu jika dirinya tengah hamil.
Namun bukan Dillon jika mulutnya tak reseh. Dillon membocorokan segalanya.
"Ayah, ibu. Sebenarnya... D-dia, dia sedang hamil."
Seketika kedua orang tua mereka terkejut, terutama Amara.
"Apa kamu bilang? Kamu sedang berbohongkan Dillon. Kamu sedang membohongi kami kan."
"Yah... Kenapa ayah selalu tak percaya padaku? Sekarang aku mau jujur, sebenarnya aku benci dengan ibu dan Luna. Karena mereka berdua Ayah tak mempercayaiku dan lebih menyayangi mereka. Luna hamil dan di tak tahu siapa ayah dari anak itu karena dia melakukannya saat mabuk! Sekarang aku tak peduli kalian lebih percaya aku atau Luna. Jika kalian tak percaya cek saja dia ke dokter."
Dillon tiba-tiba pergi membawa mobilnya. Ayah Dillon mencoba memanggil Dillon dan mengejarnya namun Dillon pergi dengan mobilnya.
"Sayang... Luna, Jangan marah karena ucapan Dillon. Dillon baru kali ini marah besar seperti itu. Sekarang ayah ingin dengar langsung dari mulutmu Luna. Perkataan Dillon bohongkan."
"Iya... Ibu percaya padamu Luna, kamu anak baik dan polos. Kamu tak mungkin melakukan hal buruk itukan."
"... Bu, Ayah. Ucapan Dillon benar. Aku sedang hamil. Aku baru mengetahuinya sekarang setelah dokter mengeceknya."
"Engga... Kami tahu kamu berbohong. Dillon memaksamu berbohong kan?"
"Tidak Ayah... Cobalah untuk percaya padanya dan beri Dillon perhatian. Jangan khawatirkan aku."
Tiba-tiba Ibu Amara menamparnya.
Plak!!!
"Kamu pulang dengan membawa anak yang tidak tahu siapa ayahnya. Kamu benar-benar kotor. Aku tak ingin melihat wajahmu lagi, ibumu ini benar-benar kecewa padamu Luna."
"Bu... Aku minta maaf, pria itu tak sengaja melakukannya padaku saat kita berlibur di vila."
"Siapa pria itu. Kenapa dia tak bertanggung jawab? Beritahu ibumu."
"Dia bertanggung jawab padaku. Tapi aku tak ingin menikahinya, Aku tak mencintainya."
"Mau tidak mau, kamu harus tetap menikahinya. Kasian anakmu nanti."
__ADS_1
Amara menangis karena bebannya terasa berat baginya. Di satu sisi Amara mencemaskan Ray karena Ray belum ditemukan, satu sisi lagi ia tengah mengandung anak dari kakaknya Ray. Dan ia tak mencintainya.