
Tak biasanya Ray pergi sepagi ini menuju kantornya, Ternyata Ray pergi ke psikiater karena Ray masih trauma dengan semua yang telah terjadi dengannya selama penculikan itu.
Ray menceritakan segalanya pada psikiater itu, bahkan Ray hampir menteskan air matanya. Dan sekarang Ray mengalami trauma berat. Ray selalu bermimpi melihat si tudung hitam dan tali yang mengikat kedua tanganya dengan telentang dalam ruangan yang gelap.
Karena rasa trauma itu Ray kini mendapatkan resep obat dari dokter agar ia bisa tidur dan segera pulih dari trauma. Sebelumnya Ray sudah trauma dengan kematian kekasihnya. Kini Ray trauma dengan penculikan itu hingga mengganggu aktifitasnya.
Setelah Ray mengunjungi psikiater, kini Ray berangkat kerja. Ketika Ray berada didalam kantor, Ray membuka laptopnya dan mencari tahu akun sosial media milik Sarah, lalu mencari follower yang di ikutinya. Ray mencari akun sosial media Jovan yang tak lain adalah si tudung hitam yang mencoba membunuhnya.
Jovan.
Setelah Ray mengetik nama Jovan. Munculah akun Jovan yang diikuti oleh akun Sarah.
Ray benar-benar mencari tahu dimana si Jovan itu tinggal. Setelah beberapa menit Ray menyelami sosial media Jovan. Ray akhirnya menemukan tempat tinggal Jovan.
Ray dengan cepat mengganti bajunya dengan pakaian biasa dengan jaket kulitnya yang berwarna hitam. Ray berlari menuju area parkir kantornya, dan dengan cepat Ray masuk kedalam mobilnya dan melaju cepat menuju alamat rumah Jovan.
"Semuanya salah si manusia brengsek itu. Dan aku harus berani melawannya." kata Ray sembari membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dan akhirnya Ray menemukan rumah Jovan pagi itu. Ray memarkirkan mobilnya sedikit lebih jauh dari rumah Jovan. Ray memantaunya dari dalam mobil dan rumah Jovan tampak sepi seperti tak berpenghuni.
Setelah lama menunggu dan memantau rumah Jovan, Ray tiba-tiba pergi menuju club Dandelions Dillon.
Setibanya Ray disana, club itu masih sepi karena masih pagi. Ray menghampiri meja bar dan bertanya pada pelayan pria yang sudah datang.
"Apa Sarah sudah disini?" tanya Ray kepada pelayan club itu.
"Sarah... Dia sudah satu minggu tak bekerja disini." Jawab sang pelayan.
"Kemana dia?"
"Aku tidak tahu."
"Bisakah kamu memberiku nomer handphone Dillon, aku baru mengganti handphoneku jadi aku kehilangan nomernya."
Sang pelayan pun memberikan nomer handphone Dillon pada Ray.
Setelah Ray mendapatkan nomer handphone Dillon, Ray dengan cepat memanggil Dillon.
Tuttt tuttt tuttt
Dillon sama sekali tak mengangkat handphonenya. Karena Dillon tak mengangkat panggilan dari Ray. Ray akhirnya pergi menuju kantor Dillon. Tak lama Ray tiba di kantornya dan terlihat Dillon sedang bekerja diruangan pribadinya seorang diri.
"Ray ada apa? Kenapa kamu kemari?"
__ADS_1
"Dill apa kamu tahu dimana Sarah?"
"Sarah? Sudah satu minggu aku tak melihatnya, aku menelponnya tapi nomernya tak aktif. Kenapa Ray?"
"Apa kamu tahu dimana rumah Sarah?"
"Ya aku tahu, akan ku kirimkan alamat rumahnya."
Dillon mengirimkan alamat rumah Sarah pada Ray, Setelah Ray mendapatkannya. Kini Ray berniat mendatangi rumah Sarah.
Setelah Ray tiba disana, Ray langsung mengetuk pintu rumahnya. Ketika Ray mengetuk pintu rumahnya tak ada yang menyautinya.
Kemana Sarah pergi?
Pada akhirnya semua usaha Ray nihil. Tak ada hasil apapun hari itu, padahal Ray berniat mencari tahu soal Jovan sang pembunuh.
Hari mulai gelap, karena seharian Ray mencari-cari Sarah diberbagai tempat. Ray pulang kerumah dengan rasa lelah.
Ketika Ray pulang terlihat Amara sedang mengais Niki sembari menyusuinya.
Ray berjalan masuk lalu berpapasan dengan Amara.
"Ray..."
Tiba-tiba Ray berbicara dihadapan Amara.
"Jangan bersikap seperti itu lagi padaku. Sekarang kamu cintai saja Ray dan jangan memberi harapan padaku dengan bersikap lemah lembut seperti itu. Bersikaplah seperti itu pada Ned, dia suamimu. Belajarlah untuk mencintainya." Jelas Ray dengan wajah marahnya pada Amara.
Setelah Ray mengatakan hal itu, Ray langsung pergi ke kamarnya. Amara menundukan pandanganya sembari menatap putranya.
Setelah masuk ke dalam kamar. Ray tiba-tiba berteriak dan marah.
Argh!!!!
Kenapa! Kapan aku bisa lepas dari semua rasa sakit ini.
Ray merasa hidupnya sangat berat. Pikirannya tak bisa tenang. Ray pun mengambil obat tidur resep dari psikiater dan meminumnya. Hingga akhirnya Ray terlelap.
****
Malam ini Amara tak bisa tidur karena Niki terus menangis. Ned yang sadar akan hal itu mendatangi Amara.
Ned mengetuk pintunya dan masuk kedalam kamar Amara.
__ADS_1
"Ada apa... Kenapa Niki terus menangis?" tanya Ned dengan lembut pada Amara.
Ternyata Amara tengah melamun dan membiarkan Niki menangis disisinya.
"Astaga Amara! Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?" Ucap Ned sembari menghampiri Niki dan mengaisnya berusaha menenangkannya.
Amara tetap saja melamun dengan tatapan yang kosong. Ned pun mendekatinya sembari mengais Niki, Ned menepuk-nepuk pipi Amara agar Amara tersadar. Namun Amara tetap saja melamun.
Amara!!!
Ned berteriak dihadapannya. Dan seketika Amara tersadar dengan tatapan yang masih kosong.
"Ada apa denganmu? Niki menangis, dia haus Ra... "
"Semua ini gara-gara kamu Ned! Kini Ray tak mencintaiku. Dia membenciku Ned, kenapa kamu melakukan ini padaku Ned."
Amara menangis dihadapan Ned sembari mengeluh jika semua yang terjadi padanya disebabkan oleh Ned.
"Andai kamu tak melakukan hal buruk itu padaku, aku tak akan mempunyai anak dan tak akan menikahimu demi anak ini."
"Jadi kamu menyesal melahirkan Niki... "
"YA! Aku juga menyesal mengenalmu Ned, aku sudah bilang padamu aku tak menyukaimu aku hanya mencintai Ray."
Amara menangis dengan keras di iringi dengan tangisan Niki putranya yang kehausan.Hingga Ray terbangun dan mendatangi kamar mereka.
"Amara, Ned ada apa?" Tanya Ray panik.
"R-Ray... Ray aku mencintamu Ray."
Amara seketika berlari dan memeluk Ray dan berkata bahwa ia begitu mencintainya.
"Aku tak pernah mencintai Ned, aku hanya mencintaimu Ray. Aku terpaksa menikah dengannya. Aku ingin dirimu Ray."
Amara terus berkata seperti itu dalam pelukan Ray. Ray hanya bisa terdiam sembari menatap Wajah Ned yang tengah mengais Niki yang menangis. Ray pun melepaskan pelukan Amara.
Amara! Lihat Niki! Dia kehausan.
Ada apa denganmu!
Ray meninggikan suaranya agar Amara tersadar namun Amara tetap tak mau menyusui putranya. Ray pun mengabaikan Amara dan menuju dapur untuk membuat susu untuk Niki.
Ned tak bisa membuat Amara mencintainya walaupun mereka sudah dikarunia putra. Ned hanya bisa diam dan pasrah dengan perilaku Amara yang berubah. Amara terlalu cinta dengan Ray sehingga membuat Ned terjebak dalam Dilema.
__ADS_1
Setelah Ray membuatkan susu untuk Niki, Ray akhirnya memberikan susu itu pada Ned.