Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 45


__ADS_3

"Dill, kenapa kamu membawa Amara kemari?" Tanya Ned.


"Dia memaksa ikut. Tapi aku sudah menyuruhnya menunggu di mobil bersama Gerry. Kenapa dia kemari." Jawab Dillon merasa bersalah.


Amara pun berlari menghampiri mereka.


"Ned, Ray apa yang terjadi."


Kata Amara cemas. Tiba-tiba Amara memeluk Ned.


"Ned, maafkan aku. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu." ucap Amara dalam pelukan Ned. Ned pun tersenyum karena Amara mengkhawatirkannya.


"Aku baik-baik saja." jawab Ned. Sembari memeluk Amara.


Ketika mereka berpelukan, Jovan tiba-tiba menembak punggung Ned.


Darrr!!!


Ned!


Ray dan Amara berteriak. Jovan menembak Ned sebanyak dua kali di bagian punggungya.


Setelah dua peluru masuk ke tubuh Ned dibagian punggungnya. Jovan masih saja ingin menembaknya lagi. Lalu dengan cepat Ray merebut tembakan Dillon yang akan Dillon gunakan untuk menembak balik Jovan.


Ray pun menembak Jovan beberapa kali sehingga dua peluru mengenai organ pital Jovan bahakan jantung Jovan terkena tembakan Ray. Dan akhirnya Jovan tewas seketika.


Ray menembak Jovan dengan penuh kemarahan dan tangisan. Setelah Jovan tak sadarkan diri. Ray langsung memeluk Ned.


Ned!!!


Ray berteriak sembari memeluk Ned yang tertembak. Ned pingsan dalam pelukan Amara. Sehingga darah Ned menempel dibaju Amara.


"Awas Ray! Cepat kita bawa Ned ke mobil. Dia harus segerda dibawa ke rumah sakit."


Dillon dan Amara mencoba menopang Ned dan membawanya keluar dari gedung itu menuju mobil. Gerry yang dari tadi berada di dalam mobil, langsung berlari keluar dan menggantikan Amara menopang Ned. Karena Ray juga kesakitan, Amara akhirnya membantu Ray berjalan.


Wajah mereka semua tampak ketakutan, mata mereka berkaca-kaca.


Setelah mereka didalam mobil. Gerry pun dengan cepat membawa mobilnya menuju rumah sakit.


"Ned bertahanlah. Ray kamu juga harus bertahan oke." kata Amara yang duduk dikursi kedua. Dengan posisi Amara duduk disebelah kanan, Ray disebelah kiri dan Ned ditengah.

__ADS_1


"Ra... Aku dan Ray akan baik-baik saja. Oh iya Dill. Saat kesakitan seperti ini aku ingin bertanya. Kenapa kamu baik-baik saja? Padahal tadi anak buah Jovan menembakmu dibagian perut." tanya Ned sembari menahan rasa sakit.


"Oh aku lupa melepasnya." Dillon pun melepas sebuah benda anti peluru diperutnya.


"Lihat ini. Aku menggunakan ini. Aku mempunyai satu dan aku memakainya."


"Aku takut Kalian berdua akan ditangkap polisi karena menggunakan senjata itu dan membunuh Jovan." Sambung Amara cemas.


"Tenang Amara, aku mempunyai izin atas senjata-senjataku. Aku yakin kita akan baik-baik saja. Polisi sudah tahu jika Jovan itu orang yang membunuh Sarah, meneror, menculik Ray dan juga mencoba menembak Ned."


Setelah Dillon mengatakan hal itu Amara sedikit tenang. Tak lama akhirnya mereka menemukan rumah sakit yang dekat dengan lokasi gudang itu.


Akhirnya Ned dan Ray mendapatkan pertolongan pertama.


Kini Ray dan Ned berada diruangan yang sama. Setelah mereka berdua diobati.


Gerry dan Dillon pergi menemui polisi untuk mengurus Jovan dan kejadian tadi. Sedangkan Amara berada dirumah sakit menununggu Ray dan Ned. Amara juga mencoba menelpon kedua orang tua Ray dan Ned.


Ned masih belum siuman karena obat bius, Ned telah menjalani operasi pengambilan dua peluru yang mengenai tubuhnya.


Tiba-tiba Ray terbangun lebih dulu karena luka Ray tak terlalu parah.


"Ray... Bagaimana keadaanmu? Apa sekarang sudah membaik?" tanya Amara dengan wajah cemas.


"Hmm, aku sudah lebih baik." setelah mengatakan itu pada Amara. Ray tiba-tiba melihat ke arah Ned yang berbaring diranjang sebelahnya.


"Ra... Apa kamu sudah mulai mencintai Ned? Aku melihat kamu benar-benar mengkhawatirkannya saat kejadian digudang itu."


Ray menanyakan hal yang membuat suasana canggung. Walau begitu Amara tetap menjawabnya.


"Aku rasa begitu Ray. Selama aku tinggal bersamanya rasa cintaku pada Ned mulai tumbuh walau sedikit demi sedikit aku bisa menerimanya."


Ray tak memberikan reaksi apapun bahkan Ray tak merespon ucapan Amara lagi.


Tapi Amara tiba-tiba memegang tangan Ray yang sedang di infus secara perlahan.


"Ray... Aku juga mengkhawatirkanmu. Aku tak hanya mengkhawatirkan Ned, tapi aku juga mengkhawatirkanmu. Aku mohon jangan bersikap dingin terus padaku."


Ray tetap tak merespon Amara. Dan akhirnya Amara menjauh dari Ray dan kembali duduk disofa yang ada didalam kamar rumah sakit.


Tak lama ibu dan ayah mereka tiba dirumah sakit.

__ADS_1


Ibunya menangis melihat kedua anaknya terbaring di ranjang rumah sakit. Dengan cepat sang ibu memeluk Ray dengan erat. Karena Ray sudah sadarkan diri.


Ibunya menangis tanpa berkata-kata sembari memeluk Ray. Hingga perasaanya mulai sedikit lebih tenang, akhirnya ibunya mulai berbicara pada Ray.


"Apa yang terjadi Ray? Kenapa kalian berdua bisa terluka seperti ini?"


Ray pun menjelaskan segalanya, semua kejadian yang menimpanya. Setelah menjelaskan semuanya tiba-tiba Ned sadarkan diri. Amara yang sadar akan hal itu langsung menghampiri Ned.


Ned...


Amara...


"Ya ampun Ned, akhirnya kamu sadar." Kata Amara sembari memegang tangan Ned perlahan.


"Ned... Ini ibu nak."


"Bu... Aku minta maaf telah mencemaskan kalian."


Ketika mereka tengah mengobrol. Tiba-tiba Ned kesakitan. Ned tak tahan dengan rasa sakitnya.


Argh!!! Ini terlalu menyakitkan.


Ned menangis sembari menahan rasa sakit. Amara pun memeluknya sedangkan ayah Ned mencoba memanggil dokter. Ray dan ibunya sangat khawatir melihat Ned kesakitan akibat tembakan yang mengenai tubuhnya.


"Ned... Bertahanlah aku mohon. Kamu kuat Ned."


"Arghh!! Amara ini s-sangat menyakitkan."


Ned mengerang kesakitan dalam pelukan Amara. Dan tak lama dokter pun datang dan memeriksa kembali Ned. Akhirnya Ned diberi obat agar rasa sakitnya tak terasa setelah operasi.


Setelah tiga hari Ray dan Ned dirawat dirumah sakit. Akhirnya mereka bisa pulang. Kepulangan Ray dan Ned disambut oleh semua orang. Ned yang begitu merindukan Niki langsung mencium kening Niki yang sedang digendong oleh Gerry.


Mereka semua berkumpul dirumah Ray. Sembari membicarakan kasus Jovan.


"Dill bagaimana kasus Jovan?" tanya Ray. Dengan kepala yang dibalut perban.


"Kamu tenang aja Ray. Jovan memang sudah membuat masalah dimana-mana. Bahkan karyawannya banyak yang melaporkannya karena kasus pelecehan dan tak memberi gaji pada karayawannya. Dia juga sudah membunuh Sarah yang malang dan mencoba membunuhmu juga Ned. Kasusnya sudah selesai sekarang, kini Jovan sudah tiada."


Semua orang kini telah terbebas dari Jovan terutama Ray yang selalu mendapatkan pesan teror darinya.


Satu masalah Ray telah selesai. Namun masih ada satu masalah Ray yang masih belum terselesaikan. Kini masalahnya tentang perasaan antara dirinya dan juga Amara. Karena perasaan itu masih mengganggu dirinya hingga saat ini.

__ADS_1


__ADS_2