Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 44


__ADS_3

Ketika Ray tiba disana. Terlihat Selina dan Amara tengah bertengkar, Ned tak ada dirumah karena sedang sibuk bekerja di kantor Ray.


Selina! Amara!


Ray berteriak agar Selina dan Amara berhenti bertengkar. Selina dan Amara saling menjambak rambut mereka satu sama lain. Walau Ray sudah berteriak mereka tetap tak mendengar. Ray akhirnya turun tangan dan memisahkan mereka berdua.


Hentikan!!!


R-ray...


Selina dan Amara seketika terkejut melihat Ray tiba-tiba ada disana.


"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Ray dengan tatapan penuh kemarahan.


"Ray! Amara ingin mengusirku dari sini." Kata Selina sembari menunjuk Amara.


"Dia bohong Ray! Aku hanya mencegah Selina agar dia tak masuk kekamarmu. Karena dia tak ada hak masuk kekamarmu dia hanya tamu disini." Amara menyangkal kebohongan Selina.


"Lagi pula kamu siapanya Ray, kenapa kamu menghalang-halangiku. Ray itu milikku. Aku sudah pernah tidur bersamanya di Selandia. Dan kamu itu hanya istri kakaknya Ray."


Tiba-tiba Amara menatap Ray dan pergi menuju kamarnya dengan perasaan yang buruk.


"Selina jaga mulutmu jika kamu tinggal disini. Jika kamu tak menjaga mulutmu aku akan mencarikan kontrakan untukkmu." Ucap Ray dingin.


"T-tapi Ray..."


Ray dengan cepat pergi begitu saja. Untuk kembali menuju rumah Gerry.


****


Malam itu Ray tengah memandang pemandangan kota dari jendel ruang pribadinya yang berada di DSC. Ray mengingat masa-masa dirinya ketika bersama dengan Amara diruang itu.


Ketika Ray tengah mengenang masa-masa itu, tiba-tiba Ray mendapatkan panggilan dari Amara. Tangan Ray tiba-tiba mendingin.


"Halo."


"H-halo Ray. Ray ini sudah jam 12malam. Tapi Ned belum pulang. Aku mencemaskannya." Amara berbicara sembari terisak.


"Ned belum pulang. Baiklah aku akan mencarinya."


Ray dengan cepat mematikan panggilan Amara. Dan berlari keluar menuju mobilnya untuk mencari Ned. Ketika didalam mobil Ray menelpon Gerry untuk menelpon semua staf kantornya dan mencari tahu dimana Ned.


Ray pergi menuju arah kantornya. Karena Ned bekerja di kantornya. Ketika Ray tiba dikantornya semua staf dan pekerja sudah tidak ada dan kantor pun sudah terkunci semua.


"Astaga! Kemana Ned." gumam Ray.


Ray mempunyai firasat jika Jovan pasti membawa Ned. Ray pun mengirimkan pesan text digrup yang membernya tak lain adalah Gerry, Dillon, Ned, Amara dan juga Bonita.

__ADS_1


Ray mengirim pesan bahwa dirinya akan ke gedung terbengkalai itu lagi dan meminta kepada mereka semua untuk berkumpul dirumahnya. Karena disana ada Niki putra Ned dan Amara yang harus dilindungi.


Semua orang sempat marah dan menahan Ray agar tak datang seorang diri ke gedung itu. Namun Ray mematikan handphonenya.


Ketika didalam mobil Ray melihat tembakan yang ia gunakan tadi ada diatas dashboard mobilnya. Ray pun menatapnya dan berniat membawa tembakan itu menuju gedung terbengkalai.


Sudah benar-benar tengah malam. Ray dengan berani terus menuju gedung itu walau menempuh perjalanan yang panjang.


Setibanya Ray disana. Terlihat ada dua mobil terparkir disamping gedung itu. Dan Ray mengenalnya, jika mobil itu milik Ned.


"Brengsek! Sekarang dia membawa kakaku." Gumam Ray dengan penuh Amarah.


Ray pun mengambil tembakannya dan menyembunyikannya dibalik jaketnya dan berjalan menuju gudang itu dengan penuh kemarahan.


Ray mengintip sedikit dari balik pintu. Dan benar saja Ned tengah di ikat. Dan dijaga oleh empat anak buah bertubuh besar Jovan. Namun Ray tak melihat Jovan ada disana. Ned terlihat tak sadarkan diri wajahnya penuh dengan memar.


Ray pun mempersiapkan dirinya, Ray menarik napas dengan dalam dan masuk kedalam gedung itu.


Blak!!!


Ray menendang kedua pintu besar gudang itu, sehingga mereka semua terkejut.


Ray...


Ned bergumam.


Teriak salah satu anak buah Jovan. Jovan pun keluar dari ruangan yang ada dilantai dua dengan bahu yang dibalut oleh perban.


"Well well well.... Aku yakin kamu pasti kembali Ray... " Kata Jovan dengan senyuman smirk-nya.


"Kenapa kamu membawaku kakaku Sialan!"


"Hohoh, santai Ray. Aku membawanya hanya untuk memancingmu. Sekarang lebih baik serahkan dirimu padaku atau kamu menyerahkan kakak-mu untuk ku?"


Ray tak menjawab ucapan Jovan. Ray hanya menatap Jovan dengan kemarahan.


"Kamu ga mau jawab Ray. Baiklah sekarang aku gunakan one plus one, aku akan menembak kakak-mu dulu lalu selanjutnya aku akan menembak-mu Ray."


Ray semakin marah setelah Jovan mengatakan itu, Ray pun mengeluarkan tembakannya dan mengarahkan ke kepala Jovan. Namun tiba-tiba ketika Ray mengeluarkan tembakannya, Ke empat anak buah Jovan mengeluarkan tembakan juga dan mengarahkannya ke kepala Ned. Ray pun terkejut hingga matanya terbelalak.


"Apa! Apa kamu ingin menembakku? Jika kamu menembak-ku. Ke empat raksasa gendut itu bakalan tembak Ned." cetus Jovan.


Ray pun menurunkan tembakannya dan menjauhkannya dari kepala Jovan.


"Ray! Jangan gegabah, jauhkan tembakanmu darinya." Kata Ned pada Ray.


Ray pun menatap mata Ned. Ray mengatakan perasaanya lewat tatapan itu.

__ADS_1


Tiba-tiba dari pintu belakang Ray melihat Ada Dillon yang mengendap-ngendap dengan membawa tembakannya. Ray pun berusaha menglihkan Jovan dengan terus menatapnya.


Darrr! Darrr!


Darrr! Darrr!


Empat peluru mengenai ke empat tangan anak buah Jovan hingga mereka tersungkur. Dillon menembaknya dengan sasaran yang tepat.


Mata Jovan terbelalak melihat semua kejadian itu. Jovan mencoba merebut tembakan yang ada ditangan Ray, namun Ray menahannya sehingga mereka berebut senjata api itu. Dan yah. Tembakan itu terlempar begitu jauh, membuat Ray dan Jovan hanya menyisahkan tangan kosong tanpa senjata.


"KALIAN BANGUN!!!"


Jovan meneriaki ke empat anak buahnya yang tersungkur dilantai karena kesakitan akibat tembakan Dillon.


Terlihat Dillon sedang membuka ikatan Ned.


Ketika Dillon akan membukanya salah satu dari anak buah Jovan menembaknya dibagian perut. Hingga membuat Ned dan Ray terkejut.


DILLON!!!


Ray berteriak, Ned yang ada disamping Dillon berteriak juga namun ketika Ned melihat kearah perut Dillon. Perut Dillon tak berdarah, Dillon malah menembak balik anak buah Jovan dibagian bahu satu-nya. Dan melanjutkan membuka ikatan Ned.


Ketika Ray lengah, Dillon tiba-tiba mengambil botol alkohol dan melemparkanya ke arah kepala Ray.


Prang!


Seketika botol alkohol yang kosong itu pecah mengenai kepala Ray dibagian belakang. Kepala Ray pun berdarah namun tak banyak.


Argh!!!


Ray berteriak kesakitan karena pecahan botol itu membuat kepalanya berdarah.


Dillon dengan cepat menembak kaki Jovan,


Setelah melepaskan ikatan Ned. Ned yang sudah terlepas dari ikatan-nya, berlari menghampiri Ray, yang terluka dibagian kepalanya.


Karena Jovan tak ingin kalah Jovan berlari dengan kakinya yang terluka menghampiri anak buahnya untuk mengambil tembakan yang ada di tangan mereka.


"Ray... Kamu ga papa?" tanya Ned cemas.


"Aku ga papa Ned, sekarang kita harus pergi dari sini." kata Ray dengan nafas yang sesak.


Tiba-tiba ketika Ray, Dillon dan Ned sedang berdekatan untuk menolong Ray. Suara Amara terdengar dari arah pintu.


NED!!!


Amara berteriak memanggil nama Ned sembari berdiri di pintu gudang itu.

__ADS_1


Semua orang pun terkejut dan menolehkan pandangannya pada Amara yang ada dibelakang mereka.


__ADS_2