Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 7


__ADS_3

Ray dan Ned duduk disofa berdua sembari menunggu minuman mereka. Dan dari jauh terlihat Amara terus memperhatikan mereka berdua, Amara bertanya-tanya siapa pria yang bersama dengan Ray itu.



Amara berjalan mendekati Hugo kembali setelah mengantarkan minuman.


"Hugo, siapa pria yang bersama dengan Ray? Kelihatannya mereka sangat akrab." Tanya Amara pada Hugo.


"Oh, dia Ned. Dia adalah kakak Ray, mereka memang terlihat seperti teman karena umur mereka hanya beda satu tahun. Oh iya Amara ini. Tolong Antarkan pada mereka berdua."


"Jadi dia kakak Ray."


"Iya, cepat antarkan."


Amara pun berjalan mendekati mereka berdua untuk mengantarkan minumannya.


Dan terlihat Ray diam-diam terus mengawasi langkah Amara. Pandangan Ray tak bisa teralihkan dari wajah Amara, Ray terus memandangnya dengan tatapan dingin.



Amara langsung meletakan beberapa botol alkohol dan gelas dimeja tempat duduk Ray dan Ned. Ketika Amara sudah meletakkannya, dan mencoba meninggalkan mereka.


Tiba-tiba seseorang memegang tangan Amara, Amara pun dengan cepat membalikan badannya, karena ia rasa yang memegang tangannya itu adalah Ray. Namun ketika ia membalikan badannya, seseorang yang memegang tangan Amara adalah Ned bukan Ray, Amara pun terkejut.


"Tunggu. Siapa namamu?" Tanya Ned sembari memegang tangan Amara.


"A-Amara." Jawab Amara pelan.


Seketika mata Ray berapi-api, Amara terus melihat ke arah Ray ketika Ned memegang tangannya.


"Apa kamu baru bekerja disini Amara?"


"Ya, aku baru bekerja disini, memangnya kenapa?"


"Tidak, bukan apa-apa Amara, kembalilah bekerja."


Ned pun dengan senyuman manisnya melepas


tangan Amara.


Setelah Amara pergi, Ray langsung bertanya pada Ned kenapa Ned bertanya seperti itu.


"Ned kenapa kamu bertanya soal itu padanya?"

__ADS_1


"Ya karena penampilan dia sangat berbeda sendiri disini, lihat semua wanita pekerja diclub ini menggunakan pakaian yang sangat terbuka, sedangkan wanita tadi menggunakan gaun simpel yang sangat cocok untuk acara party. Dia tak pantas bekerja diclub, kelihatannya Amara wanita yang polos."


Seketika Ray pun terdiam dan tersadar jika gaun simpel berwarna putih yang sedang Amara gunakan adalah gaun yang ia belikan malam itu.


"Oh iya dimana Gerry dari tadi aku belum melihatnya Ray."


"Dia sedang sibuk memperbaiki mobilnya Ned, walapun aku sudah memerintahkan Gerry untuk memegang DSC ini, tetap saja dia jarang datang kesini."


Lalu tiba-tiba Ned mendapatkan panggilan dari managernya, Ned pun mencoba mencari tempat yang sepi agar bisa mendengar suara managernya karena ditempat itu sangat bising.


"Ray tunggu sebentar aku mendapatkan panggilan dari manager."


Ray pun hanya menganggukan kepalanya.


Ned berjalan mendekati ring tempat orang-orang bermain MMA. Karena di tempat itu tak ada yang sedang menggunakannya. Ned mengobrol bersama managernya ditelepon.


Setelah beberapa menit menelpon, Ned melihat Amara sedang duduk disamping ring MMA, dan Ned pun menghampirinya.


"Amara, Sedang apa kamu disini?" Tanya Ned.


"A-aku, aku sedang... Ned, kamu Ned kan kakak Ray. Tolong bantu aku, keluarkan aku dari sini a-aku... "


Belum selesai Amara berbicara, Amara melihat Ray sudah ada dibelakang Ned. Ray pun memberikan tatapan tajam pada Amara, agar Amara menutup mulutnya.



Amara pun tiba-tiba berlari keluar dari tempat MMA itu setelah melihat Ray yang mulai marah.


"Hey Amara!" Sahut Ned yang melihat Amara langsung berlari meninggalkannya.


"Ned! Kau Sedang apa? Cepat pulang kerumah, ayah dan ibu ingin bertemu denganmu. Barusan ibu mengirimku pesan." Ucap Ray yang berjalan menghampiri Ned.



"Ada apa denganmu Ned?"


"Ray... Kemana wanita itu pergi, Maksudku Amara dia meminta tolong padaku agar aku mengeluarkannya dari sini. Dan dia juga tahu namaku."


"Dia memang selalu seperti itu Ned, dia pekerja baru disini jadi maklumi saja. Mungkin dia sedang dalam pengaruh alk*hol. Cepat pulang Ayah dan ibu ingin bertemu denganmu."


"Baiklah, aku pergi dulu."


Ned pun pergi untuk menemui ayah dan ibunya.

__ADS_1


****


Setelah Ned pergi tiba-tiba emosi Ray mulai berapi-api dia dengan cepat ia menghampiri Amara yang ada didekat meja bar Hugo.


Ray menarik tangan Amara dan membawanya kembali ke atas.


Ketika didalam Lift Ray terus memegang tangan Amara dengan erat dan itu membuat Amara kesakitan. Karena tangan yang sedang Ray genggam adalah tangan Amara yang terluka akibat ikatan sabuk milik Ray.


"Lepaskan tanganku Ray, tadi pagi baru saja kamu membuat luka ditanganku, sekarang kamu memperparah luka ditanganku." Gumam Amara sembari mencoba melepaskan genggaman tangan Ray yang terlalu kuat.


Namun Ray malah menggenggamnya semakin erat dan membuat tangan Amara lebih sakit dari sebelumnya.


Setibanya diruang pribadi Ray, Ray melepaskan genggaman tangan Amara. Ray mendorong Amara kedekat tembok lalu memegang dagu Amara dan mencoba memarahinya.


"Kenapa kamu mencoba mendekati Ned! Dia kakakku, kenapa kamu meminta tolong padanya. Apa kamu berusaha melepaskan diri dari sini, atau kamu mencoba menggodanya, hah!"


Amara tak mengucapkan satu katapun dihadapan Ray yang sedang dalam emosi ini. Amara terus menatap wajah Ray dengan air matanya yang berlinang.


"Sepertinya kau itu wanita penggoda, pertama kamu menggoda Gerry dan sekarang Ned kakakku. Kamu itu harus bersikap seperti Bella jangan bersikap seperti wanita murahan, kamu itu harus seperti Bella, dia bukan wanita murahan sepertimu."


Ucapan Ray yang menghina Amara seketika membuat Amara sakit hati. Amara menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya dari Ray. Namun Ray mencoba memegang wajah Amara dan membuat Amara menatap matanya ketika Ray berbicara. "Lihat mataku Amara!" bentaknya.


Amara tiba-tiba berbicara dengan lirih dihadapan Ray. Karena Amara tahu sikap Ray yang keras tidak bisa dilawan dengan sikap keras lagi, Jadi Amara harus berbicara dengan lembut padanya.


"Ray... Lihat aku, aku bukan Bella. Jangan samakan aku dengan Bellamu. Aku bahkan tidak tahu kesalahanku padamu apa, sehingga kamu mengurungku, memarahiku disini tanpa sebab, aku bahkan tidak mengenalmu. Apa salahku Ray katakan padaku." lirih Amara.



Seketika Ray terdiam, kemarahannya mencair setelah


mendengar ucapan Amara yang begitu lemah lembut dihadapannya.


Ray melepaskan kedua tangannya dari bahu Amara dan duduk diatas ranjang, Ray duduk diatas ranjang sembari menopang kepalanya. Sembari memikirkan semua perkataan Amara.


Amara memandangnya lalu berjalan mendekatinya. Amara duduk dilantai dan memandang wajah Ray yang duduk diatas ranjang.


"Ray apakah ucapanku salah?" Tanya Amara lirih.


"Tidak, kamu memang benar, semua perkataanmu benar." Jawab Ray spontan.


Lalu tiba-tiba Amara menyentuh tangan Ray yang menopang kepalanya. Ray pun terkejut melihat Amara memegang tangannya dan duduk dihadapannya.


Ray menyadari jika tangan Amara memang terluka, tangannya merah dan lebam akibat ulahnya. Ray memegang  tangan Amara perlahan ketika tangan Amara sangat dekat dengan wajahnya, Lalu Ray mengelusnya perlahan.

__ADS_1


Amara pun terkejut melihat Ray memegang tangannya penuh dengan kehati-hatian.


__ADS_2