
Semua orang sudah berkumpul didepan vila untuk makan malam.
Terima kasih makanannya....
Ucap semua orang kepada Gerry dan Ned yang sudah lelah membakar daging. Amara duduk dan berhadapan langsung dengan Ned.
Ned memberikan banyak potongan daging kepada Amara.
"Cukup, kenapa kamu memberikan banyak potongan daging pada Amara Ned. Aku juga ingin memakannya." Kata Sarah sembari memegang tangan Ned.
"Sudah aku bilang jangan memegang tanganku." ucap Ned pada Sarah. "Disana masih banyak daging. Jadi ga perlu khawatir kamu tinggal ambil saja."
"Ned, Sarah. Jika kalian terus bertengkar aku yakin kalian akan jadi pasangan." Timpal Gerry pada mereka berdua.
Disaat suasana tengah seperti itu. Ray dan Amara saling mencuri-curi pandang satu sama lain, karena tempat duduk mereka yang jauh.
"Ned itu cocok sama Luna bukan Sarah." Sambung Dillon dan membuat suasana menjadi canggung. Terutama Ray, Ned dan Amara.
Makan malam belum selesai tiba-tiba Ray mendapatkan panggilan. Ketika Ray mendapat panggilan dari seseorang. Mimik wajah Ray berubah lagi menjadi seperti seseorang yang ketakutan dan hal itu diketahu oleh Amara.
Ray tiba-tiba menjauh dari mereka untuk mengangkat panggilan dari handphonenya. Ray berjalan ke arah hutan untuk mengangkatnya.
"Ray kamu mau kemana?" Tanya Dillon.
"Ada panggilan masuk, aku harus mengangkatnya." Jawab Ray.
Ray berjalan ke arah hutan dibelakang Vila untuk mengangkatnya. Amara yang melihatnya, merasa curiga padanya.
"Kenapa dia harus mengangkat panggilan sejauh itu?" Tanya batin Amara.
Ray yang sudah ada didalam hutan dibelakang vila, ia berdiri disamping pohon besar dan mengangkat panggilan itu.
"Hallo."
"Sialan, dari banyaknya panggilan. Kamu baru menjawab panggilanku sekarang." ucap seorang pria yang menelepon Ray itu.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? Kenapa kamu selalu meneror saya dengan pesan pembunuhan itu?"
"Aku tidak akan berhenti menerormu sampai kamu mati. Kamu sudah membunuh Bella saya. Kamu sudah membunuh cinta pertama saya. Andai kamu tidak muncul dihahapan Bella, mungkin Bella tak akan mencintaimu dan mati dalam keadaan seperti itu."
"Aku tak pernah membunuhnya. Siapa kamu sebenarnya? Apa yang kamu inginkan dariku agar kamu berhenti menerorku."
"Aku tak ingin apapun darimu, Aku tak butuh uangmu brengsek! Aku ingin membunuhmu diwaktu yang tepat."
Tuttt tuttt tuttt
Seorang pria yang meneror Ray tiba-tiba mematikan panggilannya. Lalu Ray membanting handphonenya sejauh mungkin.
Argh!!!!
"Bella... Siapa pria itu, siapa dia Bell?"
__ADS_1
Gumam Ray sembari menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar. Dan tiba-tiba Ray melihat seseorang berpakaian serba hitam dengan tudung berwarna hitam, membawa tembakan dan mengarahkan tembakan itu padanya.
Seketika mata Ray terbelalak, nafasnya tak stabil karena melihat si tudung hitam itu.
Namun seseorang yang bertudung hitam itu langsung pergi, setelah tahu Amara keluar dari pintu belakang vila.
Amara keluar dari pintu belakang Vila dan berjalan menghampiri Ray. Karena melihat Ray ketakutan seorang diri didalam hutan.
"Astaga Ray... Ada apa dengannya, kenapa Ray seperti ketakutan." Gumam Amara.
Amara berlari menghampiri Ray dan manusia misterius yang membawa tembakan dan bertudung hitam itu, tiba-tiba menghilang, setelah Amara menghampiri Ray.
"Ray! Apa yang sedang kamu lakukan?"
Ray menutup matanya dengan kedua tanganya badannya bergemetar ketakutan.
"Ray... "
Ketika Amara memanggil namanya, Ray langsung melihat ke arah Amara dan memeluknya sembari menangis Ketakutan. Ray memeluknya begitu erat.
"Ray... Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Ra... Tidurlah denganku malam ini, aku benar-benar takut."
"Seseorang akan membunuhku."
"Apa! Kamu berbohongkan padaku Ray?"
"Tidak, aku tidak berbohong Ra, tadi ada seseorang bertudung hitam mencoba menembakku."
Amara masih bingung, haruskah ia percaya atau tidak dengan ucapan Ray.
"Baiklah, ini sudah malam ayo kita masuk kedalam."
Amara pun tetap memeluk Ray dan membawanya masuk kedalam.
Semua orang tengah berkumpul diruang tamu kecuali Ray dan Amara. Sontak saja ketika Amara masuk bersama Ray melalui pintu belakang, mereka semua terkejut.
"Ray, Luna, kalian habis darimana?" Tanya Bonita.
Ray seketika sedikit menjauh dari Amara, seperti tak mau memberitahu semua orang jika dirinya dekat dengan Amara.
Ray berubah drastis dia memberikan sikap tsundere pada Amara. Ned yang melihatnya mulai mengacuhkan pandanganya dari Ray.
Ray tiba-tiba pergi ke kamarnya sendirian dengan wajah yang murung. Ray masih ketakutan dengan kejadian yang baru saja terjadi padanya.
"Ray! Ini belum waktunya untuk tidur, kemari main bersama kami dulu!" teriak Gerry.
__ADS_1
Namun Ray tak mau, Ray lebih memilih pergi ke kamarnya.
"Sudahlah Ger, dia tak mau bermain dengan kita," Ucap Ned pada Gerry. "Luna cepat kemari main bersama kami." Tiba-Tiba Ned memanggil Amara untuk ikut bermain, namun Amara menolaknya.
"Ned, semuanya aku ingin istirahat aku akan bermain besok. Aku sangat lelah."
"Baiklah tak masalah, kamu beristirahat saja dengan Ray diatas." Sambung Gerry.
Amara pun naik kelantai dua menuju kamarnya.
"Tunggu apa dia akan tidur bersama Ray?" tanya Sarah dengan wajah juteknya.
"Iyalah Sarah. Kenapa, Kamu cemburu?"
"E-enggalah Ger!"
"Inget ya malam ini hanya Dillon yang akan tidur dikamarnya sendirian. Kamu dan Ned akan tidur bersama Sarah dan aku dengan Bonitaku." Ucap Gerry sedikit lebay.
"Ish! Apaansi Ger, kamu bikin malu aku." Jawab Bonita malu.
"Ingat, Jangan lakuin hal yang engga-engga Ger. Bisa-bisa Bonita nanti..."
"Apaansi Ned, udah tenang aja. Pikiran kamu kotor juga ya Ned."
Mereka asik bercanda tawa diruang tamu malam itu.
****
Tok tok tok
Amara mengetuk pintu kamar yang didalamnya ada Ned. Setelah mengetukknya Amara langsung masuk kedalam kamar dan menutup kembali pintunya.
Terlihat Ray sedang membaringkan badannya menghadap ke arah jendela luar yang langsung disuguhi pemandangan danau dimalam hari.
"Ray... " Panggil Amara. Namun Ray tetap saja diam, pikirannya membut Ray terus melamun.
Amara pun tiba-tiba naik keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya kesamping. Lalu Amara memeluk Ray perlahan. Ray pun terkejut, Namun Ray tetap diam dan tak mencoba melepaskan tangan Amara yang memeluknya dari belakang.
"Ray... Ada apa? Apa yang terjadi, kenapa ada orang yang mencoba menghilangkan nyawamu?"
Ketika Amara bertanya akan hal itu, Ray tiba-tiba memegang tangan Amara dengan begitu eratnya sehingga Amara kesakitan. Ray menangis tanpa suara.
Argh...
Amara sedikit merintih saat pergelangan tangannya digenggam dengan erat oleh Ray. Walau begitu Amara tak marah,karena Amara merasa Ray sedang mencoba menahan Amarahnya agar tak keluar.
Ketika Ray menggengam begitu erat tangan Amara sehingga Amara kesakitan. Amara pun memeluk Ray lebih erat lagi agar Ray tak ketakutan.
"Ray... Tenanglah aku disini... "
Karena genggaman yang begitu erat. Tak sengaja kuku dari jari-jari Ray menusuk kulit tangan Amara sehingga pergelangan tangan Amara berdarah sedikit.
Amara menyadarinya, tapi tidak dengan Ray.
__ADS_1
Amara yang memeluk Ray dari belakang terus menggigit bibirnya menahan sakit.