
Tak lama Ray dan Amara terlelap, mereka berdua tidur dengan posisi, Amara yang memeluk Ray dari belakang dan Ray yang memegang erat tangan Amara.
Karena sudah tengah malam semua orang yang tadinya bermain di ruangan bawah, kini masuk kekamar mereka masing-masing.
Dillon tidur sendirian, Gerry satu kamar bersama Bonita dan Ned satu kamar dengan Sarah.
Ya, ini permasalahan antara Ned dan Sarah. Mereka berdua mendapatkan kamar lantai dua yang bersampingan langsung dengan Kamar Ray dan Amara.
Sarah sudah ada didalam kamar, ia terlelap lebih dulu dibandingkan dengan Ned.
"Kenapa aku harus tidur dengan dia," kata Ned sembari menatap Sarah yang sudah tertidur didalam kamar. "Haruskah aku tidur di sofa saja?"
Ned Tiba-Tiba mengambil satu bantal ia membawanya kelantai bawah untuk tidur di sofa. Tapi sebelum Ned pergi, Ned tiba-tiba membuka pintu kamar Ray dan Amara.
Hng, Ned kamu tidak sopan.
Ketika Ned membukanya Ned benar-benar terkejut ketika melihat Amara memeluk Ray dari belakang.
"Sepertinya Amara juga memang mencintai Ray. Tapi aku rasa mereka belum pacaran, tapi kenapa mereka sedekat itu?" Ucap batin Ned.
Ned menutup kembali pintu kamar Ray dan Amara, Ned langsung pergi menuju sofa di lantai bawah. Ketika Ned berjalan menuju sofa, tiba-tiba langkah Ned terhenti ketika melihat sesosok bayangan hitam berjalan menuju area parkir.
Sesosok hitam yang Ned lihat adalah pria yang terus meneror Ray dan mencoba membunuh Ray. Ned ingin memotretnya namun Handphonenya tertinggal dikamar.
"Siapa dia. Kenapa dia sangat mencurigakan."
Karena Ned merasa khawatir Ned mengunci seluruh pintu dan Jendela Vilanya.
Suara nyanyian kodok dimalam hari dari arah danau terdengar sedikit menakutkan. Suara Ranting-Ranting pohon yang bergesekan karena tiupan angin membuat suasana malam dihutan lebih terasa.
Ned merasa takut tidur di sofa, Ned terpaksa mengunjungi kamar Dillon untuk tidur bersama, Namun Dillon sudah mengunci pintu kamarnya.
"Kenapa harus dikunci segala si Dill, Argh... "
Ned akhirnya memutuskan untuk tidur bersama Sarah. Ned benar-benar meyakinkan dirinya untuk tidur bersama Sarah.
"Tak apa Ned, Ingat dia bukan siapa-siapa kamu, jadi jangan khawatir."
Ned tiba di kamar, Ned langsung membaringkan badannya disamping Sarah yang tengah tertidur pulas.
****
Tepat pukul dua dini hari, Ray terbangun dari tidurnya, Ray melepaskan genggaman tangannya dari tangan Amara.
__ADS_1
"Astaga, aku melukai tangan Amara."
Ray tersadar saat bangun dari tidurnya, jika ia telah melukai tangan Amara. Ray pun pergi menuju arah dapur untuk mengambil kotak p3k.
Setelah Ray mengambilnya, Ray langsung memberikan Betadin pada luka Amara dan membalutnya dengan perban. Seketika pergelangan tangan Amara terbalut oleh perban putih.
Ray pun kembali tidur disamping Amara, kini Ray yang memeluk Amara dari belakang. Ray memberikan ciuman dipipi Amara dan telinga Amara, karena posisi tidur Amara menyamping.
" ... Ra sepertinya aku sudah melupakan Bella dan kini aku mulai mencintamu... Tapi kakaku juga mencintaimu. Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku mengalah pada kakakku? Maafkan aku jika aku tiba-tiba menjadi seseorang yang tsundere kepadamu di hadapan semua orang."
Amara tiba-tiba terbangun setelah Ray membisikan kata-kata itu padanya.
Sontak Ray terkejut.
"Ray... "
"Amara, apa kamu mendengar semuanya?"
Amara membalikan badannya dan menghadap pada Ray. Amara menyentuh wajah Ray perlahan dengan tangannya yang dibalut oleh perban.
"Apa kamu serius Ray? Kamu mulai mencintaiku walau sudah tiga tahun berlau, kita tidak saling bertemu."
Ray terdiam seakan tak mau memberikan jawaban atas pertanyaan Amara.
Dan tiba-tiba Ray memberikan ciuman pada Amara dibibirnya yang berwarna merah muda merona.
****
Argh!!!
Teriakan di pagi hari membuat semua orang terbangun dari tidurnya. Terutama Ray dan Amara.
"Ray, Siapa itu?"
"Entah, ayo kita lihat."
Ray dan Amara keluar dari kamarnya pagi itu ,untuk melihat siapa yang berteriak dipagi hari. Ketika mereka keluar ternyata suara teriakan itu berasal dari kamar Ned dan Sarah.
Argh!!!
"Kenapa kamu tidur disini, apa yang kamu lakukan padaku semalam!" Ucap Sarah sembari melemparkan bantal kepada Ned.
"Apaan si Geer banget jadi orang!" Balas Ned dengan teriakan.
__ADS_1
Amara pun masuk kedalam kamar mereka dan mengehentikan pertengkarannya.
"Sarah! Cukup Sar, ada apa dengan kalian?"
"Lihat Luna, dia tidur bersamaku malam ini, saat aku terbangun dia sedang memelukku. Aku takut dia melakukan hal yang tidak-tidak padaku."
"Ga mungkin Sar, Ned orang baik dia ga akan melakukan hal buruk padamu."
"Lun kamu percayakan kalo aku tidak melakukan hal seburuk itu, iyakan?"
"Iya Ned, aku percaya."
Ketika Ned berbalik badan, Ned terkejut melihat Ray berdiri didepan pintu kamarnya.
Karena mereka masih bertengkar satu sama lain, Ned pun mengacuhkan Ray dan melewatinya begitu saja.
Ray yang sudah tahu sikap Ned, mencoba tetap tenang. "Aku tahu Ned memang tak pernah mau kalah orangnya." ucap Ray dalam hatinya.
Udara di pagi hari yang cukup segar dan sejuk, membuat mereka semua terbangun dengan segarnya, namun berbeda dengan Dillon, Dillon malah menarik selimut lagi karena cuacanya membuat Dillon nyaman untuk tidur kembali.
Amara, Bonita dan Sarah mereka tengah berada didapur untuk menyiapkan sarapan dipagi hari. Mereka menyiapkan beberapa telur, sereal dan beberapa makanan lainnya untuk dinikmati bersama nanti.
Ray yang menggunakan kaos hitam berjalan menuju tepi danau sendirian pagi itu. Ray merasa pikirannya menjadi lebih baik saat menikmati pemandangannya.
Hingga waktunya tiba untuk sarapan, Ray masih saja berjalan-jalan ditepi danau. Hingga membuat semua orang menunggu.
"Astaga kenapa Ray tak segera kembali untuk sarapan." Kata Gerry yang duduk dimeja makan bersama dengan semua orang. "Bonita, tolong panggil Ray untuk sarapan."
Ketika Gerry menyuruh Bonita untuk memanggil Ray. Tiba-tiba Amara menahannya.
"Nita, biar aku saja yang panggil Ray."
"Tidak Luna, kamu duduk saja. Gerry menyuruh Bonita bukan kamu, cepat duduk disamping Ned." Timpal Dillon.
Dillon benar-benar aneh, karena sejak awal Dillon seperti mencoba membuat Amara dekat dengan Ned, Karena Dillon tahu Ned menyukainya.
Walau Dillon mencoba menghentikan Amara untuk memanggil Ray. Amara tetap kekeh ingin memanggil Ray menuju danau. Amara bahkan membawa beberapa roti dan segelas susu untuk Ray.
"LUNA! Aku bilang tak perlu!" Sentak Dillon.
"Dill, Tak perlu menyentakknya. Biarakan Luna memanggil Ray." Ucap Ned dengan tatapan sedikit cemburu kepada Amara.
Amara akhirnya pergi menuju danau menghampiri Ray.
__ADS_1
"Sepertinya Luna menyukai Ray." Ucap Bonita.
"Iya sayang, aku rasa juga begitu. Tapi Ray sepertinya tak menyukai Luna." Sambung Gerry.