
"Ray... Kenapa kamu melepaskannya?"
"Amara, maafkan aku. Aku hanya mencintai Bella, aku tak bisa memberikan hatiku pada orang lain. Hatiku hanya untuk Bella."
Seketika Amara meneteskan air matanya dan menjauh dari Ray.
Ray akhirnya pergi meninggalkan Amara dan kembali kerumah sakit untuk menemui Ned.
Sebenaranya tak hanya Amara yang patah hati, karena Ray menolaknya. Sejujurnya Ray juga mulai cinta pada Amara. Namun setelah Ray tahu Ned menyukai Amara, Ray harus berpura-pura tidak menyukai Amara lagi sekarang.
Ray akhirnya kembali ke rumah sakit dengan hampa.
"Ray, kenapa kamu belum menghubungi ibu dan ayahmu?" Tanya Gerry pada Ray yang sedang duduk di ruang tunggu.
"Aku sudah memberitahu mereka, mereka akan segera tiba disini."
"Lalu,Siapa orang yang kamu temui semalam Ray?"
"Amara."
"Amara, ada apa lagi dengannya?"
"Ned menyukai Amara, aku meminta Amara agar menjadi kekasihnya, Tapi Amara tidak mau."
"Astaga, Setelah kamu menyukai Amara kini Ned juga menyukai Amara?"
"Apa maksudmu aku menyukai Amara? Aku tidak menyukainya. Dalam hatiku hanya ada Bella tak ada orang lain."
Ray marah dengan ucapan Gerry yang menyinggungnya.
"Lalu kenapa kamu mengurung Amara?"
"Sudahlah lupakan semuanya, sekarang aku ingin fokus pada Ned kakaku."
Seorang dokter dan kedua suster keluar dari ruang IGD setelah memeriksa Ned.
"Apa kalian keluarganya?" Tanya dokter itu pada Ray dan Gerry.
"Iya dok, Apa Ned baik-baik saja? Atau lukanya parah?" Tanya Ray dengan penuh kekhawatiran di wajahnya.
"Sekarang dia koma, kepalanya terbentur dengan sangat keras. Sehingga membuatnya tak sadarkan diri. Mungkin besok dia akan segera pulih." Jelas sang dokter.
Ned dan Gerry pun masuk kedalam ruang IGD untuk melihat keadaan Ned.
Ketika Ray melihat Ned, Ray terus memikirkan ucapan Ned jika dia menyukai Amara.
Tanpa pikir panjang lagi, Ray berniat untuk menemui Amara sekali lagi.
"Ger, aku titip Ned. Aku rasa aku harus berbicara sekali lagi dengan Amara."
__ADS_1
"Tapi Ray, ini sudah larut pasti Amara sudah tidur."
Namun saran Ned tak menggoyahkan niat Ray untuk kembali menemui Amara lagi.
Ray pun dengan cepat menemui Amara lagi kerumahnya.
Namun... Ketika Ray tiba disana dan mengetuk-ngetuk pintu rumah Amara. Amara sudah tak ada dirumahnya.
Tok! Tok! Tok!
Amara! Amara!
Ray mendobrak pintu rumah Amara, karena Ray rasa Amara ada didalam.
Namun sayang Amara benar-benar tak ada. Amara menghilang.
Ray bingung kepada siapa ia harus bertanya, karena suasana perumahan Amara malam itu, sudah sangat sepi dan tak ada yang berlalu lalang.
"Kemana Amara pergi? Aku sangat membutuhkannya." Gumam Ray sembari memegang kepalanya.
Hingga Keeseokan harinya...
Ray kembali lagi untuk menemui Amara, Ray datang lagi kerumah Amara. Namun hasilnya nihil, Amara tetap tidak ada. Ray pun datang ketaman dimana Amara selalu berjualan bunga disana.
Setibanya Ray ditaman, Ray bertanya pada anak laki-laki yang saat itu mengantar dirinya menemui Amara.
"Hei, apa kamu masih ingat saya?" Tanya Ray pada anak laki-laki yang pernah mengantarnya menuju rumah Amara.
"Oh kakak ini, iya saya ingat. Ada apa? Apa anda ingin saya mengantar anda lagi kerumah kak Amara?"
"Kak Amara, sudah lama saya tak melihat dia hampir 2 minggu kak Amara tak terlihat."
"Apa kamu tahu keluarga kak Amara?"
"Setahuku kak Amara tak punya siapa-siapa. Dia sendirian."
"Baiklah terima kasih, jika kamu melihat kak Amara datanglah kegedung kantor itu. Disana tempatku bekerja." ucap Ray sembari menunjuk kegedungnya yang dekat dengan taman.
"Baiklah."
Lagi-lagi Ray mendapatkan hasil yang nihil, Ray tak dapat kabar apapun tentang Amara.
Pada akhirnya Ray kembali menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Ned.
Setelah Ray tiba dirumah sakit, Ray terkejut karena Ned sudah sadarkan diri. Dan terlihat Ned sedang makan disuapi oleh ibunya.
"Ned... Syukurlah kamu siuman." ucap Ray sembari menghampiri Ned.
"Hai Ray, aku sudah membaik."
"Ray cepat kemari suapi kakakmu ini, ibu ingin pergi ke toilet sebentar." Timpal sang ibu.
Ray dengan cepat melakukan perintah ibunya. Ray duduk dikursi disamping ranjang Ned.
__ADS_1
"Ned... Apa kamu ingat ucapanmu ketika kamu dan aku berada di mobil Ambulan semalam?"
"Ucapan, Ucapan apa Ray? Apa aku mengucapkan kata-kata yang aneh?"
Ned lupa dengan apa yang ia ucapkan semalam kepada Ray. Ray pun merasa lega setelah tahu Ned lupa dengan ucapannya bahwa ia menyukai Amara.
"Oh iya, sekarang kamu jangan mengurung lagi Amara Ray, aku sedih ketika melihat kamu melakukan hal itu. Hatiku juga terluka ketika melihat Amara menangis karena semua bunganya hancur, ketika aku mengantarnya pulang, dia tak bisa merawatnya karena kamu mengurungnya Ray."
"Ned, Apa kamu menyukai Amara?"
Ketika Ray melontarkan pertanyaan itu. Seketika Ned terdiam.
"Ned, Aku bertanya padamu, Apa kamu menyukai Amara?"
"Apa si Ray, aku sudah bilang, aku belum bisa berpacaran. Aku ingin fokus dengan karirku."
Suasana semakin canggung ketika mereka berdua berbicara soal Amara.
"Ned sebenarnya... Amara menghilang."
"Menghilang? Apa maksudmu?"
"Sejak malam hingga pagi tadi aku mencarinya, tapi dia tak ada dimana-mana Ned."
"Haruskah kita melaporkannya pada polisi?"
"Tak perlu Ned, lagi pula dia bukan siapa-siapa kita."
Ned pun seketika marah pada Ray setelah Ray mengatakan hal itu.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu sudah membuatnya sengsara, kamu mengambil waktu berharga Amara Ray. Dan sekarang kamu membuangnya begitu saja!"
"Ray aku sudah berjanji pada Amara, bahwa aku ingin mengganti semua waktunya yang hilang begitu saja dengan waktu yang indah. Aku sudah berjanji padanya, Amara harus ditemukan."
"Ned ucapanmu menjelaskan segalanya. Aku tahu kamu menyukai Amara. Aku tak akan ikut campur lagi dengan hal apapun yang berkaitan dengan Amara."
Ray pergi begitu saja setelah bertengkar dengan Ned.
****
Satu minggu telah berlalu, Luka Ned mulai membaik. Sedangkan Ray sibuk bekerja dan mencari Amara diam-diam tanpa sepengetahuan Ned maupun Gerry.
Namun tetap saja hasilnya nihil, Ray tak menemukan Amara selama satu minggu ini.
Dan pada akhirnya Ray kehilangan Amara, wanita pertama yang mengungkapkan perasaanya padanya. Kenapa Amara pertama bagi Ray? Karena sebelumnya ketika Ray menyukai Bella, Ray-lah yang mengungkapkan perasaanya pada Bella, Bukan Bella.
Mau tak mau kehidupan Ray berubah lebih drastis dari sebelumnya.
Ray menjalani hidupnya sendirian dengan monoton, Bekerja, menghabiskan waktu bersama Gerry dan melakukan hobinya, Tanpa adanya seorang kekasih.
__ADS_1
3 tahun kemudian...
...Kira-kira seperti apa kehidupan mereka setelah tiga tahun kemudian yah?...