Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 17


__ADS_3

Ketika Dillon terus berdebat dengan Ned, Amara sama sekali tak membuka mulutnya. Amara seperti terikat dengan Dillon.


"Luna sekarang katakan pada mereka siapa diri kamu sebenarnya. Amara atau Laluna?" Ucap Dillon sembari menatap tajam mata Amara.


"A-aku... Aku Laluna. Bukan Amara."


"Kalian dengarkan, Dia itu Laluna. Bukan Amara, Apa kalian lupa jika didunia ini ada saja orang yang mirip wajahnya."


Ned terdiam dan terus menatap Amara, Ned tahu jika Amara berbohong.



"Sekarang kalian sudah tahu dia itu Laluna bukan Amara, Lalu apa yang kalian berdua inginkan darinya?" Cetus Dillon.


Tiba-tiba Ned mengeluarkan handphonenya dan mentransfer sepuluh juta pada Dillon.


"Lihat, Ini buktinya Dillon," Kata Ned sembari menunjukan bukti transfer. "Aku sudah mentransfer sepuluh juta padamu. Jadi biarkan aku berbicara dengan Luna berdua saja malam ini."


Mata Gerry seketika terbelalak. Setelah tahu Ned tiba-tiba mentransfer sepuluh juta pada Dillon.


"Ned apa yang kamu lakukan? Amara bukan barang, maksudku Luna bukan barang." Kata Gerry dengan wajah marahnya.



Lalu Dillon tiba-tiba menarik tangan Gerry dan membiarkan Ned bersama dengan Luna didalam berduaan.



"Sudah Ayo kita keluar Gerr, Jangan ganggu mereka."


Dillon pun menarik tangan Gerry agar keluar dari ruangan itu. Lalu Dillon menutup pintunya.


Akhirnya hanya ada Ned dan Luna (Amara)


"Kenapa kamu membeliku Ned? Seharusnya kamu simpan saja uang sepuluh jutamu itu."


"Aku tahu kamu itu Amara bukan Luna, Bukan kamu bukan Laluna."


"Kamu baru saja membeliku Ned, sekarang apa yang ingin kamu lakukan padaku?" Kata Amara sembari berjalan ke arah jendela. "Aku tahu kamu menyukaiku, Tiga tahun yang lalu Ray mengatakan perasaanmu padaku. Ray berkata 'Kakakku mencintamu Amara' Tapi aku menolaknya, Maafkan aku."



Ned tersenyum smirk


"Lihat kamu itu memang Amara bukan Luna, Kenapa kamu berbohong dihadapan Dillon? Apa kamu menyembunyikan sesuatu bersamanya?"


"Ned, Sekarang kamu sudah membayar sepuluh juta pada Dillon. Lakukan apa yang kamu mau padaku, jangan membuang waktu."


"Amara, kenapa kamu berubah seperti ini?"


"Namaku bukan Amara disini. Namaku Laluna panggil aku Luna. Aku sedang bekerja." Ucap Amara sembari berjalan mendekati Ned. "Ned, Tolong lakukan saja apa yang kamu mau disini padaku, Karena ada satu kamera yang terus mengawasiku disini."


Ned pun terkejut ketika melihat ada satu kamera yang terus mengawasi mereka diruangan itu.


"Astaga ada apa dengan Dillon. Kenapa dia melakukannya."

__ADS_1


"Baiklah, Aku ingin memelukmu Luna."


Ned pun perlahan mendekati Amara untuk memelukknya. Namun ketika Ned selangkah lebih dekat dengannya, Amara malah memberikan satu langkah menjauh dari Ned.


"Kenapa... Kenapa kamu menjauh Luna? Kamu bilang, lakukan apa yang aku mau."


"M-maafkan aku, Aku tak akan melakukannya lagi. Peluklah aku sekarang Ned."


Ned akhirnya memeluk erat Amara.


"Amara... Beritahu aku kenapa kamu berbohong, Kenapa kamu berpura-pura menjadi orang lain?" Bisik Ned ditelinga Amara.


"Ned, Aku mohon jangan mau tahu soal hidupku. Dan kamu tahu Ned, Setelah kamu memelukku sekarang. Aku berfikir bahwa kamu adalah pria kedua yang memberiku pelukan yang sangat nyaman."


"Lalu, Siapa pria pertama yang membuatmu nyaman?"


"Ray... Adikkmu."


Seketika Ned terkejut dan melepaskan pelukannya.


"Apa kamu mencintainya? Bukankah Ray mengurungmu saat itu dan kamu ingin lepas darinya. Lalu kenapa setelah tiga tahun kamu baru mengatakannya?"


"Aku sudah mengatakan padanya, Tapi Ray menolakku, Aku mengatakan pada Ray bahwa aku mencintainya dimalam saat kamu kecelakaan Ned. Ray memintaku agar aku jadi kekasihmu, Tapi aku menolaknya karena aku tak mencintaimu Ned."


Ned pun merasa kecewa dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Amara.


Tiba-tiba Ned pergi meninggalkan Amara.



"Ned! Kamu mau kemana? Astaga ada apa dengan anak itu. Dil aku duluan, terima kasih minumannya."


Gerry berlari mengejar Ned yang tiba-tiba pergi begitu saja.


****


Dilain waktu tepat pukul sepuluh malam, Ray baru menyelesaikan pekerjaannya. Ray langsung pulang kerumah dan berganti pakaian. Setelah itu Ray bergegas pergi lagi, malam ini Ray sudah berniat untuk pergi menuju club Dandelions milik Dillon.


Ketika diperjalanan Ray melihat mobil Ned dan Gerry yang menuju arah jalan pulang. Karena Ray Penasaran, Ray menelpon Gerry.


"Hallo Ger."


"Ray, Ada apa?"


"Kalian berdua habis darimana? Aku melihat mobil kalian berdua barusan."


"Ray, Aku dan Ned baru saja dari clubnya Dillon. Ned memintaku mengantarnya demi melihat wanita yang mirip dengan Amara itu, Luna Laluna. Dan asal kamu tahu Ray. Ned mentransfer uang sepuluh juta pad Dillon demi berduaan dikamar dengan Luna."


"Apa! Apa kamu serius Ger?"


"Astaga aku serius, Aku telepon lagi nanti Ray, Ned tiba-tiba marah dan aku sedang mengejarnya."


"Marah... Marah karena apa Ger?"


Tutt Tutt Tuttt

__ADS_1


Belum selesai Ray bertanya Gerry malah mematikan telepon nya.


"Astaga Ger, aku belum selesai berbicara."


Ray mulai banyak berfikir dan curiga kepada Ned, Ray dengan cepat metancap gas dan menuju clun dandelions.


Setibanya disana, Ray langsung disambut oleh Dillon, Karena mereka saling berpapasan.


"Ray, Ngapain kamu kesini? Apa kamu tidak malu setelah memukuli wajahku?"


"Maaf, Semalam aku emosi, dan itu karena salahmu juga Dil, kamu melecehkan Amara."


"Astaga, Kenapa semua orang hari ini terus menyebut nama itu. Dia itu Luna Lalun... "


Belum selesai Dillon berbicara. Ray dengan cepat masuk kedalam Club dan langsung pergi menuju lantai VVIP.


"Ray! Dia pasti ingin menemui wanita itu lagi. Ah sudahlah, Aku lelah dengan keluarga Dario itu." Ucap Dillon dengan wajah yang terlihat kecapean.


Dillon pun akhirnya pergi meninggalkan clubnya. Dan membiarkan Ray bertemu dengan Luna (Amara).


Setelah Ray memasuki ruang VVIP. Ray langsung masuk ke salah satu ruang Paradise dan Hell, Karena sebelumnya Ray memasuki pintu Paradise jadi sekarang Ray masuk lagi kepintu itu.


Ketika Ray masuk Amara tak ada disana, Tapi karena Ray sudah tahu soal ruangan itu dan pintu rahasia penyambung ruangannya. Ray langsung membuka pintu rahasia dibalik gorden ruangan lalu menuju ruangan Hell sebelahnya.


Ketika Ray Masuk, Amara tengah duduk diatas ranjang diruangan Hell.


Sontak Amara terkejut melihat Ray yang tiba-tiba datang dari balik pintu rahasia bergorden.



"R-Ray... Bagaimana kamu bisa..."


Ray tak berkata apa-apa, Ray langsung mendekati Amara dengan tatapan dinginnya.


Ray berdiri dihadapan Amara dan menatapnya dengan begitu serius.



"Luna, Laluna." Kata Ray dengan tatapan dinginnya.


"Aku Amara Ray, Kamu sudah tahukan, kemarin aku memberitahumu soal ini."


Amara terlihat shok ketika Ray memanggilnya Laluna.


"Ray, Aku lebih suka saat kamu memanggilku Amara, Aku tak suka ketika kamu memanggilku Luna ataupun Laluna."


Ray tetap memberikan tatapan dingin pada Amara. Entah kemarahan seperti apa yang membuat Ray seperti itu.


Ray tiba-tiba berjalan kearah pintu utama ruangan Hell dan pintu penghubung ruangan paradise dan Hell. Ray tiba-tiba mengunci semua pintu. Tak hanya itu Ray juga mendekati Kamera yang terus mengawasi ruangan itu.


Ray tiba-tiba mencabut kameranya dan mematikan kamera itu dengan mencabut kabelnya.


Amara terkejut dengan apa yang dilakukan Ray dengan wajah brangas-nya.


"Ray... Apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2