Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 32


__ADS_3

"Dimana suamimu?" Tanya sang dokter.


"Apa... Suami? Dia belum menikah dok." Timpal Gerry.


"Lalu siapa diantara kalian yang sudah melakukan hubungan denganya?"


Ketika dokter mengantakan hal itu sontak semua orang yang ada disana terkejut.


"Dok apa maksudnya?" tanya Bonita.


"Ini pertanda wanita yang akan hamil. Jika sudah enam hari cobalah datang kerumah sakit untuk dicek lagi."


Apa!


Mata semua orang terbelalak tak percaya dengan semua perkataan sang dokter.


"Lihat, kalian semua terkejut kan. Siapa pacarmu Luna? Siapa yang sudah melakukan ini padamu, jika kamu belum menikah."


Amara tak menjawabnya, Amara hanya mengelus-elus perutnya. Sembari terdiam karena masih tak percaya dengan ucapan sang dokter.


"Yasudah ini urusan kalian, saya sudah mengeceknya dan itulah kebenaranya. Saya pergi dulu."


Ned mengantar kembali dokter itu sampai depan pintu.


Ketika Ned akan kembali menemui Amara. Ned terus berfikir apakah Amara hamil karena ulahnya.


"Apa Amara tak mengingat kejadian malam itu, Apa Amara tidak tahu jika aku yang melakukannya, Aku sudah mengingatnya dengan jelas sekarang akulah yang melakukannya. Tapi bagaiaman caranya agar aku bisa mengatakan hal seburuk ini pada Amara." Kata Ned bingung.


Ketika Ned masuk, Ned benar-benar terkejut setelah melihat Amara ditampar oleh Dillon.


Plak!


Dillon!!!


Gerry dan Bonita berteriak setelah melihat perlakuan Dillon pada Amara. Ned dengan cepat menarik tubuh Dillon menjauh dari Amara.


"Apa yang kamu lakukan Dillon!" teriak Ned.


"Kamu benar-benar sudah melebihi batas Luna!" Bentak Dillon.

__ADS_1


"Apa maksudmu, dia bukan siapa-siapa kamu, Dia hanya pekerjamu. Kamu tak perlu menamparnya." Sambung Ned.


"Oke. Sekarang akan aku ungkap apa hubunganku dengan Luna. Dia adalah adikku, adik tiriku. Ibunya menikah dengan ayahku."


"Tiga tahun lalu dia melarikan diri meninggalkan ibunya, ayahku dan juga diriku. Kita satu rumah, Dan yang kalian tahu Amara bukan nama aslinya. Nama dia Memang Laluna, dia membohongi kalian. Itulah kenapa aku selalu bilang pada kalian. Jika dia itu bernama Laluna bukan Amara."


Semua orang terkejut atas ucapan Dillon. Terutama Ned dan Gerry yang sudah dekat dengan Amara.


"Dia juga berpura-pura yatim piatu dan menjual bunga dipinggir jalan. Aku terus mencarinya beberapa bulan. Dan akhirnya aku menemukan Luna malam itu saat Ned mengantarnya pulang. Tepat dimalam saat Ned mengalami kecelakaan."


Amara terdiam ketika kebenaraan terungkap. Ray dan Gerry memberikan tatapan kecewa pada Amara.


"Tunggu, aku juga ingin menjelaskan kepada kalian. Aku melakukan semua itu dan bepura-pura menjadi orang lain, karena aku takut dengan Dillon. Dia terus mengancamku jika aku tak melakukan apa yang dia mau. Dia akan membunuh ibuku. Mangkanya aku pergi dari rumah dan menjadi orang lain diluar sana. Karena aku tertekan satu rumah denganya." Jelas Amara dengan lirih.


"Jadi kamu memang benar Laluna, nama aslimu memang Laluna bukan Amara?" Tanya Ned.


"Iya Ned. Nama asliku memang Laluna, aku telah membohongi kalian sehingga membuat kalian bingung. Maafkan aku. Sekarang kalian percaya padaku kan. Tapi aku ingin kalian tetap memanggil namaku Amara. Aku lebih menyukai nama itu. Sekarang apa kalian ingin memaafkanku?"


"Ya, kami memaafkanmu. Aku juga akan bersikap sepertimu Ra saat keluargaku terus mengancamku dengan hal seperti itu." Ucap Gerry sembari memegang bahu Amara yang tengah duduk diatas ranjang.


"Jadi kamu yang salah Dil, kamu melakukan hal buruk pada Amara. Sekarang kamu keluar dari sini Dil." Kata Ned dengan tatapan tajamnya.


"Oke. Luna, cepat kemasi barang-barangmu dan kembali kerumah."


Amara seketika ketakutan, sehingga Bonita memelukknya dengan erat.


"Aku tak ingin pergi dengamu!" teriak Amara.


"Baiklah. Jika kamu tak ingin pergi aku akan membunuh ibumu dan memberi tahu dia terlebih dulu jika kamu hamil dan tak tahu siapa ayahnya."


Seketika Amara bingung dan takut setelah Dillon mengancammya.


"Ayahnya adalah... " baru saja Amara ingin mengatakan siapa ayah dari anak yang sedang ia kandung. Tapi tiba-tiba Ned memotong pembicaraan Amara.


"Aku yang melakukannya. Dan aku yang akan menjadi ayahnya dari anak Amara." Timpal Ned pada ucapan Amara.


Seketika semua orang terkejut. Bahkan Amara benar-benar terkejut hingga matanya terbelalak.


"Apa..." Gumam Amara.

__ADS_1


"Ya. Aku akan bertanggung jawab. Aku yang melakukannya Ra, Malam itu saat kita semua mabuk, aku tak sengaja masuk kedalam kamarmu dan melakukan hal buruk itu."


"Ned... Kamu bercandakan? Aku yakin malam itu aku tidur dengan Ray. Ray mengantarku keatas saat aku mabuk."


"Ya, memang Ray yang mengantarmu naik keatas menuju kamarmu, saat kamu mabuk tapi setelah itu aku masuk kekamarmu."


"Nggak. Nggak mungkin kan Ned, kamu bercandakan?"


"Aku tahu kamu kecewa, aku benar-benar minta maaf. Saat itu aku benar-benar mabuk."


"Oh iya lagi pula, Malam itu Ray dibawa oleh situdung hitam. Mana mungkin Ray yang melakukan hal itu padamu Ra. Ray hilang dimalam itu, Ray juga tak mungkin melakukan hal itu saat dia tak mabuk. Karena Ray tak mabuk malam itu." sambung Gerry.


Amara benar-benar tak percaya dengan semua itu. Ned tiba-tiba meminta Gerry untuk membawa semua orang keluar dari kamar dan membiarkan dirinya berdua bersama Amara. Karena Ned ingin menjelaskan semuanya.


Gerry keluar dari kamar bersama Bonita dan Ned. Sehingga hanya ada Ned dan Amara didalam kamar.


Ned menghampiri Amara dan duduk disampingnya, Amara masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari menangis.


"Amara... " panggil Ned pelan.


"Aku minta maaf Ra... Aku janji akan bertanggung jawab."


Amara akhirnya menatap Ned dan terus menunduk.


"Aku janji akan bertanggung jawab. Malam itu aku benar-benar dalam pengaruh alkohol."


"Ned... Bagaimana aku mengatakan ini semua pada Ray saat Ray ditemukan. Kenapa kamu tidak memberitahuku Ned! Kenapa kamu melakukannya padaku!"


Amara menangis sejadi-jadinya sembari memukuli Ned. Karena Perasaan Amara sebagai wanita benar-benar hancur. Bagaimana Amara bisa menerima seorang anak dirahimnya dari orang yang tak ia cintai.


Ned diam membisu, Ned juga merasa menyesal, bingung dan hancur.


Tiba-tiba Dillon menerobos masuk kekamar dan menarik tangan Amara.


"Kemari! Kita pulang. Ned aku tunggu jawaban kamu, kamu harus bertanggung jawab!" Kata Dillon sembari menarik tangan Amara.


"Aku sudah bilang. Aku akan bertanggung jawab, yang aku tunggu hanyalah jawaban Amara." Jawab Ned dengan tatapan penuh rasa kecewa.


Dan tiba-tiba Dillon membawa Amara pergi begitu saja.

__ADS_1


Ned tak bisa menghentikan mereka berdua, karena Amara juga terlihat tak masalah ketika Dillon membawanya pergi.


Sekarang Ned penuh dengan masalah, ia kehilangan Adikknya Ray dan membuat kesalahan besar karena telah melakukan hubungan diluar nikah tanpa disengaja dengan Amara.


__ADS_2