Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 34


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu ini adalah hari terakhir bagi Ray. Karena hari ini tepat hari ulang tahun Jovan orang yang mencoba membunuh Ray.


Ke empat penjaga Ray di gedung terbengkalai itu masih tertidur. Karena hari masih sangat pagi dan Jovan belum datang ke gedung terbengkalai untuk membunuh Ray.


Ray terbangung dan pasrah jika benar, hari ini adalah hari terakhirnya.


Namun takdir berkata lain, tiba-tiba dari belakang terdengar suara orang yang sedang berjalan menghampirinya. Ray yang tersadar akan hal itu, langsung melihat ke arah belakang.


Orang itu hampir dekat dengan Ray yang tengah di ikat.


"Hai..." ucap orang itu pelan dari belakang.


Ketika orang itu mendekat pada Ray dan membuka hoodie bertopinya. Ternyata ia adalah Selina.


"Selina..."


"Hai Ray... Aku memutuskan untuk membantumu."


"Jangan Selina, aku sudah benar-benar tak kuat. Aku kesakitan dan hari ini akan jadi hari terakhir."


"Tidak. Aku tak ingin kamu mati, sekarang aku akan membuka ikatan ini dan membawamu pergi."


"Selina, Jovan akan membunuhmu jika dia tahu kamu melepaskanku."


"Aku tak peduli. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi disini."


Selina akhirnya membuka ikatan yang mengikat erat tangan Ray. Ray benar-benar lemas sehingga Selina harus menuntunya dengan kedua tangannya.


"Ayo kita pergi melalui pintu belakang."


Ray benar-benar lemas bahkan untuk berjalan saja Ray tak kuat. Badan Ray yang tadinya sehat dan berisi kini ia kehilangan berat badannya.


Semua penjaga itu benar-benar tak sadar jika Selina membawa Ray pergi.


Selina membawa Ray kedalam hutan, selina membawa mobilnya dan memarkirkannya ditempat yang jauh dari gedung, sehingga para penjaga itu tidak tahu jika ada selina datang.


Selina mamasukan Ray kedalam mobilnya. Lalu Selina membawa Ray ke rumahnya.


Mungkin hampir satu jam diperjalanan dan akhirnya selina tiba dirumahnya. Rumah selina tampak sederhana meskipun berlantai dua.


Selina membawa Ray masuk kedalam kamar dan menidurkannya disana.


"Ray... Kamu bertahan ya, aku akan membuatkanmu makanan dan juga obat untuk lukamu."


Ray menganggukan kepalanya mengiyakan perkataan Selina.


Setelah menyiapkan segalanya. Selina membersihkan luka ditangan Ray dan juga wajahnya.


"Ray maaf ya jika sakit saat aku bersihkan lukannya."

__ADS_1


"Kenapa kamu menolongku, apa kamu tidak takut jika nanti Jovan mencoba melukaimu atau bahkan orang-orang terdekatmu."


"Jangan khawatirkan itu, aku sudah tak punya siapa-siapa. Aku sendirian Ray... Aku benar-benar ingin lepas dari Jovan. Aku ingin berhenti bekerja dengan si psikopat jovan itu. Dia sangat jahat dan aku tak menyukainya."


"Terima kasih Selina... " kata Ray dengan lirih.


"Ya sama-sama Ray."


Drrrrt!!!


Tiba-tiba Selina mendapatkan panggilan dari Jovan.


"Astaga. Jovan memanggilku, haruskah aku menutupnya?"


"Tidak Selina, angkat saja agar dia tak curiga."


Selina mengangkat panggilannya dari Jovan.


"HALLO SELINA! Apa kamu yang melakukan itu. Kamu melepaskan Ray! Tetap diam ditempatmu, aku akan mendatangimu. Jika kamu pergi aku akan membunuh kalian berdua." teriak Jovan dalam telepon dan mematikannya.


"Astaga... Bagaimana ini Ray. Kita harus pergi dari sini. Cepat kita pergi menuju mobil."


Ketika Selina mencoba menuntun Ray keluar dari kamar. Tak sengaja Selina menabrak sebuah koper didepannya sehingga mereka terjatuh.


Blukkk!!!!


Argh!


Selina akhirnya punya ide, ia berniat melarikan diri bersama dengan Ray keluar negeri.


Selina dengan cepat membawa Ray masuk ke mobilnya dan kembali membawa kopernya. Selina memasukan kopernya kedalam bagasi mobil dan mengunci pintu rumahnya. Setelah itu Selina pergi menuju bandara tanpa Ray ketahui.


Selina menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena Selina takut Jovan tiba dirumahnya. Selina juga mematikan handphonenya.


"Selina... Kita mau kemana?" tanya Ray lemas.


"Ray... Kamu lapar ya, nanti kita cari makan disana. Kita akan bersembunyi dari Jovan."


"Tapi pergi kemana?"


"Kita akan pergi ke Selandia. Kita akan bersembunyi disana."


"Apa! Apa maksudmu Selina, kamu berbohong."


"Tidak Ray, aku serius. Aku mohoh bersembunyi sebentar saja dari Jovan. Aku takut Ray."


"Tapi itu terlalu jauh, apa kamu sudah membeli tiketnya."


"Tentu, memang hari ini aku akan pergi berlibur kesana. Dan aku akan membeli satu tiket lagi untukkmu nanti."

__ADS_1


Ray tak bisa berbuat apa-apa Ray mengiyakan ajakan Selina. Mereka berdua akan bersembunyi dari Jovan di Selandia Baru.


Jovan benar-benar kehilangan Ray dan Selina. Jovan datang kerumah Selina dan ia benar-benar tak menemukan mereka.


****


Dilain waktu Ned dan Gerry, mereka mencari-cari Ray, mereka menuju jembatan yang dibawahnya mengalir air sungai. Mereka kesana satu hari setelah polisi menemukan lokasinya, karena polisi menemukan lokasi handphone penculik Ray disana. Namun ketika Ned dan Gerry kesana. Mereka tak mendapatakan hasil apapun semuanya nihil.


Mereka akhirnya kembali pulang dan menyerahkan semuanya pada polisi. Mereka menempelkan semua poster Ray disetiap sudut kota.


"Sudah satu minggu Ray menghilang dan kamu tak memberitahu ayah dan ibumu ini Ned!"


"Aku minta maaf, aku tak ingin mencemaskan kalian. Aku pikir sebelum satu minggu aku akan menemukannya. Ternyata tidak"


"Bagaiamana ini... Dimana Ray." ucap sang ibu dengan tangisannya yang tersedu-sedu.


Bonita menghampirinya dan memeluknya.


Ayah Ray dan Ned yang bernama pak Dario terus menelpon semua teman bisinisnya dan juga pekerja kantor Ray untuk mencari dimana keberadaan Ray.


Ketika mereka semua tengah cemas. Tiba-tiba satu mobil datang.


"Siapa itu?" tanya pak Dario.


"Sepertinya itu mobil Dillon." Jawab Gerry.


"Dillon. Apa dia pemilik club Dandelions teman Ray. Ray menceritakan club miliknya pada ayah." Ucap pak Dario.


Seketika Ned, Gerry dan Bonita terkejut setelah melihat ayah dan ibunya Dillon keluar dari mobilnya bersama dengan Amara.


Mereka langsung disambut oleh Gerry, Gerry membukakan pintu untuk mereka.


"Silahkan masuk om, tante... " sambut Gerry pada mereka.


"Terima kasih." Jawabnya.


Kedua orang tua dari Dillon dan Amara bersalaman dengan kedua orang tua Ray dan Ned.


"Selamat pagi pak Dario, saya ayah dari Dillon dan Amara." sapa ayah Dillon yang bernama Bambang.


"Selamat pagi." Balas pak Dario.


"Kami ikut bersedih, soal kejadian Ray yang menghilang. Dan kami minta maaf datang sepagi ini kerumahmu."


"Ya, tak masalah. Apa yang membuat anda datang kemari?"


"Sebenarnya anak kami bernama Amara ini, tengah mengandung anak Ned. Dan kami ingin Ned menikahinya."


Seketika semua orang terkejut terutama ibu dan ayah Ned yang baru tahu.

__ADS_1


"Apa! Ned... Apa yang kamu lakukan? Apa semua ucapannya benar?" tanya sang ibu sembari menghampiri Ned.


__ADS_2