Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 36


__ADS_3

"Baiklah ini sudah malam tidurlah. Aku akan kembali ke bawah." kata Ned sembari melepaskan kantung kompres yang tengah ia pegang.


Ketika Ned akan pergi, Amara menghentikannya.


"Ned..."


"Hmm, ada apa?"


"Aku belum siap menikah denganmu. Minggu depan kita menikah. Apakah itu terlalu cepat?"


"Jika kita tak segera menikah. Perutmu akan membesar dan semua orang, pasti berfikir hal yang buruk padamu nanti."


"Ned... Aku mencintai Ray."


"Aku tahu, aku juga sangat merindukan dan menyayanginya. Aku mohon Ra jaga anakku didalam perutmu, biarkan dia lahir kedunia ini."


Ketika Ned mengatakan hal itu. Hati Amara tersentuh. Amara merasa ia harus benar-benar menjaga kandungannya. Walau berat hati tapi Amara harus tetap menjalaninya.


Ned akhirnya pergi meninggalkan Amara seorang diri di kamar Ray.


****


Hari demi hari terus berlalu, Amara, Ned dan semua orang terdekat Ray terus mencarinya walau setiap harinya tak pernah membuahkan hasil. Kantor Ray kini diurus oleh Ned dan Ayahnya.


Amara sudah beberapa hari tinggal bersama ibu dan ayah tirinya. Dan terkadang Dillon masih saja memberikan wajah tak enak pada Amara.


Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini tepatnya tanggal 17 November. Acara pernikahan antara Amara dan Ned akan segera dilaksanana secara sederhana disebuah gedung dengan privat.


Walaupun mereka tengah berduka atas hilangnya Ray. Mereka terpaksa melakukan acara pernikahan ini agar fitnah dan rasa curiga semua orang terhadap Amara hilang. Karena jika tidak di lakukan secara langsung perut Amara akan semakin membesar.


Semua tamu undangan sudah siap diarea pelaminan untuk menyambut dan menyaksiskan acara pernikahan Ned dan Amara.


Amara yang menunggu diruang belakang sebelum masuk ke dalam gedung. Ia terus meneteskan air matanya. Amara masih berat melakukannya tapi Amara harus tetap melaksanakannya karena takut fitnah terjadi dimana-mana.


Ned sudah siap dengan jas hitamnya berdiri didepan menunggu pengantin wanita keluar.


Ketika Amara tiba didalam area pernikahan gedung. Semua orang menatapnya dengan penuh rasa cinta. Amara terlihat cantik dengan gaun pengantinnya. Sembari membawa bunga mawar putih di tangannya. Ia benar-benar tampak anggun.


Ned yang melihatnya merasa begitu terpesona. Dalam satu sisi Ned merasa senang dan merasa bangga bisa mendapatkan Amara. Tapi di satu sisi. Ned benar-benar memikirkan perasaan Ray, walau Ray tak ada di sisinya.


Amara berjalan diatas karpet merah yang ditaburi bunga mawar merah dibawahnya. Ia berjalan sembari digandeng oleh sang Ayah.


Terlihat ibu dan ayah Ned merasa bahagia melihat anak pertamanya menikah setelah sekian lama. Ayah dan ibunya masih belum tahu jika anak keduanya Ray. Ia juga mencintai Amara.


Entah akan sehancur apa Ray nanti setelah tahu mereka telah menikah dan mempunyai anak. Mungkin Ray seperti setangkai bunga yang sudah banyak kehilangan kelopak indahnya.


Acara pernikahan benar-benar penuh dengan keharmonian. Dan tak terasa mereka sudah sah menjadi suami dan istri.

__ADS_1


Cium! Cium! Cium!


Semua teman Ned bersorak sorai pada Ned dan Amara agar saling berciuman. Namun Ned tahu Amara pasti tak akan nyaman. Ned akhirnya memutuskan mencium Keningnya saja.


Semua orang tampak bahagia melihat mereka berdua menikah. Tapi tidak dengan mereka berdua, hanya Ned yang memiliki perasaan pada Amara. Amara sama sekali tak memiliki perasaan pada Ned. Tapi mungkin Ned akan mencoba membuat Amara jatuh cinta padanya.


Acara berakhir hingga pukul delapan malam.


Para tamu undangan meninggalkan gedung.


Amara pulang bersama dengan Ned menuju rumah Ray untuk sementara waktu. Karena nanti Ned akan tinggal dirumah lain bersama Amara, walaupun baru niatan saja.


Ketika didalam mobil Amara dan Ned begitu canggung. Amara terus melamun dan Ned yang tahu itu merasa sedih.


"Apa kamu kecewa dengan semua ini?" Tanya Ned yang duduk dibalik setir. Amara seketika terkejut dan melihat ke arah Ned.


"Kenapa kamu mengatakan hal itu? Itu membuatku terasa terpojok."


"Aku melihat kamu terus melamun, apa yang kamu pikirkan?"


"... Aku, aku merindukan Ray."


Ned benar-benar kecewa dengan ucapan Amara, karena dirinya terus memikirkan Ray meskipun sekarang Ned adalah suaminya.


Hari demi hari terus berlalu Amara dan Ned tak pernah tidur satu kamar. Ned selalu tidur dikamarnya dan Amara tidur dikamar Ray, Ned tak bisa membuat Amara tidur dikamarnya. Ned benar-benar menunggu Amara membuka hatinya.


****


Ray terbangun setelah Selina membangunkannya untuk makan.


Ketika Ray tengah makan Selina terus menatap Ray dengan senyuman.


"Kalo kamu masih lapar, aku bisa memesankannya lagi nanti."


"Ya, terima kasih Selina."


Perjalanan diatas udara menuju Selandia Baru membuat Ray dan Selina kelelahan didalam pesawat. Pada akhirnya mereka berdua terlelap hingga tak terasa setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya tiba di Selandia Baru.


"Selina, kemana kita akan pergi? Setelah tiba disini? Apa kamu tahu tempat yang akan kamu tuju?"


"Tenang saja Ray, aku tahu tempatnya karena sebelumnya aku pernah kesini bersama dengan temanku."


"Baiklah."


Mereka berdua pergi menuju tempat seperti pedesaan, tempat itu tampak seperti lukisan karena sangat indah.


Mereka berdua berjalan menuju sebuah tempat penginapan selama mereka disana. Tempat yang sebelumnya pernah Selina kunjungi.

__ADS_1


Selina tampak keberatan membawa kopernya sendiri, sehingga Ray yang melihatnya ingin sekali membantunya.


"Kemari, biar aku bawakan kopermu."


"Tidak, tidak tanganmu masih sakit, biar aku saja."


Selina menolak tawaran Ray dengan senyumannya. Ray hanya menganggukan kepalanya setelah Selina menolak tawarannya.


Mereka tiba disebuah penginpan yang terlihat seperti rumah dan cukup luas untuk ditempati oleh dua orang.


"Nah Ray, ini tempat kita. Kita akan tinggal disini untuk beberapa waktu, lihat disini ada dua kamar. Kamar utama untukku dan kamar kedua untukmu." Kata Selina sembari menunjuk kamarnya.


"Baiklah, aku pergi ke kamarku sekarang. Aku sangat lelah."


"Baiklah Ray, jika kamu lapar katakan padaku aku akan memasakan makanan untukkmu."


"Baiklah Selina, terima kasih."


Ray pergi kedalam kamar. Ia membaringkan badannya diatas ranjang, Ray menatap langit-langit kamar sembari berfikir apakah semuanya akan berjalan lebih baik lagi setelah semua kejadian ini berakhir.


"Pasti mereka semua sedang mencemaskanku. Tapi jika aku memberitahu mereka sekarang melalui telepon. Aku takut Jovan akan menganggu orang-orang yang kusayang."


"Hng, bagaimana kabar Amara. Sampai saat ini aku masih belum benar-benar mengatakan perasaanku dengan serius kepadanya. Aku sangat merindukannya."


Ray benar-benar merindukan orang yang ia sayang.


Sudah satu minggu lamanya Ray dan Selina berada di Selandia Baru. Ray kini sangat akrab dengan Selina.


"Selina... Kapan kita akan kembali?" tanya Ray sembari menghampiri Selina yang tengah duduk dihalaman luar sembari memberi makan burung-burung liar.


"Entahlah Ray... Aku masih belum punya uang yang cukup untuk kembali ke Indonesia. Karena Jovan sama sekali tak memberiku gaji setelah aku membawamu pergi."


"Haruskah aku mencari pekerjaan disini."


"Apa? Apa kamu yakin Ray?"


"Ya. Aku yakin, agar kita bisa pulang, sebenarnya aku ingin menghubungi Gerry tapi aku kehilangan handphoneku."


"Ya, Ray. Aku juga lupa membawa handphoneku. Aku meninggalkannya diatas dashboard mobil saat itu. Dan disini sangat minim alat komunikasi karena kita berada dipedesaan."


"Mulai besok aku akan mencari pekerjaan, kamu tenang saja Selina. Kita pasti bisa kembali. Kamu pasti merindukan keluargamu."


Ketika Ray mengatakan hal itu, Selina terdiam dan berjalan mendekati Ray.


"Ray... Aku tak punya siapapun sekarang. Aku benar-benar yatim piatu. Dan sekarang yang aku punya hanyalah kamu."


Selina tiba-tiba memeluk Ray. Sehingga Ray benar-benar terkejut.

__ADS_1


__ADS_2