
Amara menangis didalam bathub kamar mandi setelah Ray pergi. Amara menangis sejadi-jadinya.
"Apa salahku? Aku bahkan belum mengenal pria itu, tapi dia berani-beraninya membuatku terluka. Bahkan diriku sendiri saja tak berani melukai diriku ketika aku penuh amarah." ucap Amara dalam tangisannya yang terisak.
Amara pun membersihkan dirinya dan membuat badannya lebih segar dipagi hari yang kacau itu. Lalu ia memakan makanan yang sudah disiapkan oleh Ray.
Setelah makan Amara melihat-lihat pakaian yang dibelikan oleh Ray. Ketika Amara membuka satu persatu tas belanjaan itu, betapa terkejutnya ia karena Ray membelikan banyak sekali pakaian mahal untukknya.
"Astaga, kenapa dia membelikanku pakaian yang harganya sangat mahal. Setelah aku melihat harganya aku bahkan tak mau memakainya, aku takut dia akan menagihnya setelah aku memakai pakainnya." Gumam Amara dihadapan baju-baju yang dibelikan oleh Ray.
Amara sangat bosan didalam ruangan itu, lalu Amara membuka gordennya dan ia langsung bisa melihat pemandangan kota dari atas.
"Andai saja diatas sini ada balkon aku pasti akan segera melarikan diri."
Di ruang pribadi Ray sama sekali tak ada balkon hanya ada kaca tebal disana.
Amara pun berjalan-jalan lagi kebeberapa ruangan yang ada disana. Karena ruanganya cukup luas, Bahkan di ruangan itu ada dapur.
Ketika ia berjalan, Amara melihat sebuah bingkai foto yang didalamnya terpajang foto Ray dan Bella.
"Apa dia Bella, orang yang selalu Ray samakan dengan diriku?"
Dan tiba-tiba saja seseorang membuka pintu, Amara pun terkejut lalu berlari mendekati pintu yang terbuka itu. Setelah orang itu masuk ternyata ia adalah Hugo.
"Amara." Panggil Hugo.
"I-iya ada apa?" Tanya Amara bingung.
"Ray bilang kamu akan bekerja mulai hari ini, jadi bisakah kamu ikut aku dan bantu aku dibawah sana. Kamu tenang saja karena kamu tak akan melakukan pekerjaan melayani pria-pria kaya yang bejad itu. Kamu hanya mengantar minuman saja." Jelas Hugo.
Namun Amara tetap saja tak mau bekerja ditempat seperti itu. Tapi disatu sisi Amara juga tak bisa menolaknya. Lalu satu ide terlintas dalam pikirannya. Amara berfikir, jika ia bekerja dibawah sana mungkin ia bisa melarikan diri dari tempat ini.
"Baiklah Hugo, Ayo."
Amara pun pergi dengan Hugo untuk bekerja.
Ketika di dalam lift Hugo memperhatikan penampilan Amara yang terlihat polos.
__ADS_1
"Oh iya Amara, sebenarnya club ini buka jam 2 siang tapi karena aku membutuhkan bantuanmu jadi aku menyuruhmu datang lebih awal."
"Tak apa Hugo, lagi pula aku bosan didalam sana."
Setibanya mereka diruang bawah tanah yaitu DSC, Hugo langsung menyuruh Amara untuk membersihkan botol-botol yang berceceran diatas meja dan memasukannya kedalam tempat sampah.
Ketika Hugo sibuk membersihkan segalanya, Amara diam-diam memperhatikan lift pintu keluar, Namun sayang disana ada dua orang pria berbadan besar menjaganya.
Amara pun langsung menyadari kemungkinan besar kesempatan ia keluar dari tempat ini adalah 99% gagal. Karena penjagaan yang begitu ketat. "Sepertinya aku harus menggunakan cara lain agar aku bisa keluar dari sini." Gumamnya sembari melihat ke arah lift pintu keluar.
"Hugo, bagaimana jika lift itu rusak? Pasti kalian semua tak bisa keluar dari ruang bawah tanah ini." Ucap Amara sembari memegang alat penyedot debu.
"Tenang saja Amara, Kami punya pintu darurat ko, jadi kamu ga perlu khawatir. Kamu bisa lihatkan Amara, walaupun ruangan ini ada dipaling bawah, tapi ruangan ini cukup luas dan udara segar pun masih bisa masuk melalui AC."
Setelah mendengar ucapan Hugo seketika Amara sedikit senang karena ada pintu darurat.
****
Dilain waktu, Ketika Ray bekerja tiba-tiba seseorang datang ke ruang kantor pribadinya. Ray pun tak terkejut karena Ray tahu pasti orang yang tiba-tiba masuk itu adalah Gerry.Ray pun tak teralihkan dari laptopnya, pandanganya terus ke arah laptop.
Setelah orang itu masuk, orang itu sama sekali tak berbicara sehingga Ray bingung. Karena biasanya Gerry langsung banyak bicara, Ray menutup laptopnya dan melihat orang itu.
"Ned!" teriak Ray dengan penuh semangat.
Ray pun dengan cepat memeluk Ned kakaknya yang hanya beda satu tahun dengannya.
Ned sudah satu tahun tak pulang ke Indonesia karena Ned sibuk bekerja sebagai model di Los Angles. Ya, Ned berpropesi sebagai model berbeda dengan Ray yang berpropesi sebagai pengusaha.
Mereka berdua duduk disofa ruang kantor Ray, Lalu saling berbincang satu sama lain melepas rindu.
"Ray maafkan aku, karena aku tak bisa datang dihari pemakaman Bella." Tutur Ned pada Ray.
"Tak masalah Ned, aku tahu ko kalo kamu sulit pulang karena sudah ada jadwal." Jawab Ray dengan senyuman dihadapan Ned.
__ADS_1
"Besok pagi aku akan berkunjung pada Bella. Aku benar-benar tak menyangka Bella pergi secepat itu, padahal kalian akan melangsungkan acara pertunangan."
"Sudahlah Ned jangan bahasa itu lagi, itu membuatku sedih. Aku tak ingin meneteskan air mata dihadapanmu Ned."
Mereka begitu akrab, hingga mereka berdua tak pernah bertengkar.
"Ned, Malam ini ayo kita pergi ke DSC dan bermain MMA disana, sudah lama kita tak bertarung diatas ring." Ajak Ray pada Ned.
Lalu dengan senang hati Ned melontarkan senyuman pada Ray dan menerima ajakannya.
"Baiklah, gimana kalo malam ini Ned?"
"Besok saja Ray, kamu tak melihat apa Kakakmu ini baru saja tiba. Lebih baik malam ini kita minum saja di DSC."
"Baiklah malam ini kita pergi ke DSC untuk minum."
Dimalam hari tepat pukul sembilan malam Ray dan Ned tiba di DSC. Ketika mereka berdua tiba disana, terlihat Amara masih sedang menunggu minuman yang sedang dibuat Hugo untuk diantarkan pada orang-orang disana.
Amara menghadap ke arah Hugo, sehingga ia tak tahu jika ada Ray datang bersama dengan Ned kakaknya.
Ray dan Ned berjalan menghampiri meja Bar Hugo untuk memesan minuman.
Ketika mereka berdua berjalan ke arah meja pemesanan, tak sengaja Ray bersebelahan dengan Amara, Mereka berdua pun sama-sama menyadarinya.
Amara menatap mata Ray sebentar lalu menundukan pandangannya, dan dengan cepat Amara pergi untuk mengantarkan minuman yang sudah dipesan.
"Hai Hugo apa kabar?" Tanya Ned pada Hugo.
"Ya ampun Ned, sejak kapan kamu datang?" Tanya balik Hugo.
"Tadi siang. tolong buatkan minuman kesukaanku. Kamu masih ingatkan minuman kesukaanku Hugo?"
"Tentu Ned, minuman kesukaanmu yang tak lain adalah Irish bomb, benar kan!"
"Benar. Jangan lupa berikan satu gelas susu untuk Ray karena dia itu Loser. Dia ga bisa minum banyak alkohol." Ejek Ned pada Ray yang tak bisa minum banyak alkohol.
"Apa kamu bilang, aku Loser! Hugo, berikan aku dua botol irish bomb." Ucap Ray murka.
__ADS_1
Lalu Ned pun tertawa setelah menggoda Ray.