Fallin Flower

Fallin Flower
CHAPTER 31


__ADS_3

Selina!


Jovan memanggil Selina dengan berteriak hingga membuat Selina benar-benar terkejut. Selina Akhirnya berlari menghampiri Jovan.


"Iya pak Jo, ada apa?"


"Cepat masuk kedalam dan bantu Ray membersihkan badannya. Karena dia sepertinya tak bisa melakukannya sendiri, dia sangat lemah."


"T-tapi pak Jo, saya perempuan."


"Siapa bilang kamu laki-laki? Lakukan perintahku."


Selina yang tak berani dengan bosnya, akhirnya melakukan perintahnya.


Ray sudah duduk berada didalam bathub kamar mandi. Ray benar-benar terkejut setelah Selina masuk kedalam.


"Selina! Ketuk pintunya jika sudah selesai, karena aku akan menguncinya dari luar." teriak Jovan.


"Baik pak Jo."


Ray merasa terkejut namun badannya sangat lemah, bahkan untuk bicara saja. Ray tak kuat. Selina menghampiri Ray yang sudah duduk didalam Bathub. Ray masih menggunakan pakaian kotornya dan belum membukanya.


"C-cepat... Buka bajumu aku akan membantu menggosok punggungmu." Ucap Selina.


"Aku tak bisa melepas bajuku. Kedua tanganku benar-benar sakit." Ucap Ray lirih.


Selina langsung melihat kearah tangan Ray. Dan benar saja, kedua tangan Ray benar-benar terluka parah. Sampai-sampai Selina menutup mulutnya karena terkejut.


Hah!


"B-baiklah. Aku akan membantumu."


Selina membantu membuka baju yang dikenakan oleh Ray dengan perlahan. Lalu Selina menyalakan keran air yang hangat, sehingga Ray bisa berendam dengan hangat walau sebentar.


Ray benar-benar tak memakai baju, dada bidangnya terlihat dengan jelas oleh Selina.


Selina perlahan menggosok punggung Ray.


Sehingga Ray terasa nyaman. Bahkan selina membasuh rambut Ray dengan shampo yang begitu wangi.


Selina merasa canggung, begitu pula dengan Ray.


"Oh... Aku merindukannya. Aku ingin memelukknya lagi, pasti sekarang dia sedang menangis mencariku. Aku benar-benar khawatir padanya, aku harap Ned menjaganya. Walaupun aku sedikit takut Amara akan berpindah rasa dariku ke Ned. Bagaimana dengan Gerry, pasti dia mencoba menghibur Ned dan Amara kan. " Gumam Ray.


"Ned, Amara dan Gerry... Siapa mereka?"


"Bukan siapa-siapa, aku tak bisa memberitahumu nama orang-orang yang aku sayangi. Aku takut bosmu yang bernama Jovan itu membunuh mereka. Aku ingin hidup mereka tak sepertiku, aku ingin mereka bahagia walau tanpaku."

__ADS_1


Selina seketika merasa sedih, hatinya benar-benar tersentuh dengan ucapan Ray.


Akhirnya Ray selesai membersihkan dirinya dengan dibantu oleh Selina. Selina memberikan baju yang masih baru untuk dipakai Ray.


"Ini pakailah."


"Aku akan memakainya, tapi kamu tahukan tanganku benar-benar sakit. Tolong bantu aku memakai baju itu."


"Hng, Baiklah aku hanya akan memakaikan baju atasmu saja. Selebihnya kamu saja yang melakukannya."


"Iya, lagi pula aku juga tak ingin memerintahmu, tapi karena tanganku sakit saat memasukan lengannya. Jadi aku meminta padamu untuk membantuku."


Selina akhirnya membantu memakaikan pakaian bagian atas kepada Ray. Setelah semuanya selesai. Selina mencoba mengetuk pintu untuk memberi kode pada Jovan, jika ia selesai.


Namun ketika Selina mencoba mengetuk pintunya. Ray tiba-tiba menghentikannya dengan memegang tangan Selina.


"Tunggu."


"Tunggu sebentar, aku ingin minta satu permintaan padamu."


"Permintaan? Sudahlah kamu jangan meminta hal yang aneh dan membebaniku. Aku mohon, aku sudah berat melakukan ini, menyembunyikan soal dirimu yang akan dibunuh oleh pak Jo."


"Aku mohon, permintaanku hanya sedikit. Jika aku benar-benar tak bisa lari dari tempat ini tiga hari kedepan. Aku memintamu menyampaikan pesan ini pada orang-orang yang aku sayangi."


Ray memohon dengan sepenuh hati pada Selina agar menyampaikan pesannya, kepada orang-orang yang ia sayangi.


Ray baru saja ingin menyebutkan alamat rumah dan pesan yang ingin ia sampaikan pada Selina. Namun tiba-tiba Jovan membuka pintu kamar mandi dengan tiba-tiba. Sehingga membuat mereka berdua terkejut.


"Astaga! Apa yang kalian lakukan. Selina cepat keluar, Penjaga cepat bawa dia dan ikat lagi disana." Kata Jovan dengan tegasnya.


Ray diikat kembali dengan kedua tangan yang direntangkan secara terpisah.


Sedangakan Selina, ia mendapatkan hukuman dari Jovan bos nya. Jovan mendudukan Selina dihadapan Ray. Jovan menjambak rambut Selina sehingga Selina menjerit kesakitan.


Argh!!!


"Apa yang kamu lakukan dengannya didalam!"


Cetus Jovan.


"A-aku tidak melakukan apa-apa didalam pak Jo, aku hanya melakukan perintahmu."


"Lepaskan dia brengsek! Aku tidak melakukan apapun denganya didalam."


"Oh. Apa kalian bekerja sama sekarang? Apa kamu ingin mencoba melepaskan dia Selina!"


"T-tidak... Aku tidak melakukan hal itu, sungguh pak Jo. Kau bosku, bagaimana bisa aku melanggar perintahmu pak Jo."

__ADS_1


Jovan dengan cepat melepaskan tanganya dari rambut Selina, sehingga Selina tertunduk seketika.


"Ingat, aku akan membunuhmu juga Selina jika kamu berhubungan dengan dia. Jangan coba-coba membantunya lepas dari sini."


"Baik pak Jo."


Ray dan Selina saling bertatapan, Selina meneteskan air matanya dihadapan Ray. Seperti memberi kode kepada Ray, jika dirinya tak bisa membantu Ray.


Ray yang mengerti dengan tatapan Selina yang tak bisa membantunya. Menganggukan kepalanya kepada Selina.


****


Ding! Dong!


Suara bel rumah Ray berbunyi dengan begitu nyarinya dimalam hari. Ned yang sudah lama berada dirumah Ray mencoba membuka pintu.


"Dillon."


"Hai Ned. Maaf aku baru kembali kesini lagi, Sudah empat hari ini aku sibuk dengan pekerjaanku diluar kota. Bagaimana, apa ada kabar tentang Ray?"


"Belum Dill, polisi masih mencari Ray. Kami belum mendapat kabar apapun dari mereka. Ini sudah malam, masuklah kedalam."


Ned mengajak Dillon masuk kedalam rumahnya.


"Oh iya Ned, aku datang kesini untuk melihat Luna, apa dia masih disini?"


"Iya Dill. Dia ada diatas bersama Bonita dan Gerry. Ayo kita kesana, Sebenarnya Luna sakit dia demam Dil."


"Apa?"


Dillon pun dengan cepat naik keatas untuk melihat Amara atau yang sering Dillon panggil Luna.


Ketika Dillon tiba diatas, benar saja Amara sedang terbaring diatas ranjang Ray yang ditemani oleh Bonita dan Gerry.


"Astaga Luna! Apa yang terjadi dengamu." Kata Dillon menghampiri Amara. "Apa kamu terlalu memikirkan Ray, sehingga kamu sakit seperti ini? Oh iya apa kamu sudah memanggilkan dokter untukknya Ned?"


"Aku ingin memanggilnya. Tapi dia menolak untuk diperiksa."


"Sudah panggil saja Dokter lagi."


"Tidak Dill, aku tidak mau. Aku baik-baik saja." potong Amara


"Jika kamu sakit, kamu tidak bisa bekerja di club, sudah Ned panggil dokter untuk Luna."


Amara seperti takut dengan Dillon, Amara benar-benar tak bisa menolak apapun yang Dillon lakukan untukknya.


Hampir setengah jam, dokter pun tiba. Dokter memeriksa suhu tubuh Amara, yang suhu badannya mengalami lonjakan naik turun.

__ADS_1


Setelah dokter memeriksanya. Dokter tiba-tiba tersenyum lalu memberitahu Amara dan mereka semua, apa yang terjadi dengannya.


__ADS_2