
"Apa gedung terbengkalai?"
"Iya Ger, aku ingin mengajak kalian kesana. Sebenarnya aku tidak tahu dimana tempat gedung itu karena gedung itu ada didekat hutan. Tapi jika kita mencari tahu lewat google maps. Pasti kita akan tahu lokasinya."
Mereka bertiga akhirnya mencari tahu dimana Gudang terbengkalai itu berada. Mereka hanya membawa dua mobil, Ray bersama Gerry sedangkan Dillon seorang diri.
Setelah mereka tahu arah menuju gedung terbengkalai itu, setelah perjalanan satu jam. Akhirnya mereka tiba digedung terbengkalai tempat dimana, Ray diikat oleh Jovan disana.
Mereka bertiga keluar dari mobil dan memarkirkannya sedikit lebih jauh dari gedung.
"Astaga, kenapa aku merinding." Kata Gerry sembari memegang lehernya.
"Lebih baik kita lebih dekat lagi dengan gedung itu." Ajak Ray sembari berjalan ke arah gedung terbengkalai itu.
Ketika mereka sudah dekat dengan gedungnya, mereka membuka pintu yang cukup besar dengan mendoronya secara bersamaan.
Ketika mereka masuk, tak ada siapapun disana. Namun ada sebuah meja, bekas digunakan bermain Judi terlihat kartu remi dan botol-botol alkohol berserakan disana.
"Ray apa itu tali bekas mengikatmu?" Tanya Gerry yang melihat tali ditengah-tengah gudang.
"Ya, itu tali yang mengikatku." Jawab Ray.
"Astaga, aku akan membunuh si psikopat sialan itu. Karna dia telah membuat temanku tersiksa."
Tiba-tiba dari lantai dua gedung itu keluarlah lima orang laki-laki. Yang tak lain mereka adalah Jovan dan ke empat anak buahnya.
"Wah! Lihat si brengsek itu akhirnya menyerahkan dirinya setelah aku membunuh Sarah." Raung Jovan dari lantai dua gedung.
Seketika mereka bertiga terkejut, melihat si psikopat itu tiba-tiba ada didalam gedung.
"Apa dia Jovan Ray?"
"Iya Ger, dia Jovan."
"Lihat tubuhnya saja sangat mirip dengan pria si tudung hitam itu. Biasa saja." Cetus Dillon merendahkan.
Ketika Jovan dan ke empat anak buahnya turun, tiba-tiba mereka bertiga mulai panik. Ketika mereka bertiga panik tiba-tiba Dillon berlari keluar menuju mobilnya.
__ADS_1
Gerry dan Ray bingung kenapa Dillon tiba-tiba pergi. Tapi ternyata Dillon menuju mobilnya untuk mengambil beberapa pistol dari bagasinya. Dillon memang suka mengoleksi tembakan. Dillon sekaligus mengambil tiga pistol koleksinya yang telah di isi peluru.
Dillon pun menyembunyikan pistolnya kedalam belakang celananya dan menutupnya dengan jaket kulitnya. Dillon dengan cepat berlari kembali menghampiri Ray dan Gerry.
"Cih! Dasar penakut, aku bahkan belum melakukan apapun pada kalian bertiga tapi satu diantara kalian tiba-tiba pergi dan kembali lagi." Cetus Jovan dihadapan mereka bertiga.
"Dil lo abis dari mana?" Bisik Gerry.
Dillon yang berdiri dibelakang tengah Ray dan Gerry. Tiba-tiba menyelipkan pistol di celana belakang mereka berdua. Ray dan Gerry sempat terkejut namun Dillon memberi kode kepada mereka berdua untuk tidak melihat ke arahnya.
Dan akhirnya mereka bertiga mempunyai pistol masing-masing.
Ray berjalan mendekati Jovan dengan penuh keberanian.
"Kenapa kamu membunuh Sarah?!" tanya Ray dengan tatapan dingin dan tajam kepada Jovan.
"Karena dia menghianatiku. Karena Sarah berpihak padamu bukan aku temannya sendiri. Jadi aku membunuhnya dengan senang hati." Jawab Jovan aneh seperti jiwa psikopat yang senang setelah membunuh.
Ray yang tak bisa menahan emosi mengambil pistolnya perlahana dari celana belakangnya dan tiba-tiba menembakannya kebahu atas tangan kanan Jovan.
DERRR!!!
Argh!!!
Jovan berteriak kesakitan. Ke dua dari ke empat anak buah Jovan yang bertubuh besar mencoba menangkap Ray. Namun Dillon dengan cepat mengeluarkan tembakannya dan menembakan-nya ke bahu dua anak buah Jovan yang mencoba menangkap Ray.
Ray! Dillon! Ayo kita pergi!
Gerry berteriak sembari menarik Ray dan Dillon keluar dari gedung itu. Dan akhirnya mereka bertiga lari menuju mobil dan meninggalkan gedung terbengkalai.
Anak buah Jovan mencoba mengejar mereka namun Jovan berteriak kencang agar mereka membawa dirinya dulu kerumah sakit.
"Hey dua pecundang. Jangan kejar mereka urus saja aku dulu. Bawa aku kerumah sakit, aku akan balas mereka nanti." Cetus Jovan sembari kesakitan.
"Kenapa kita harus pergi? Kita harus membawa Jovan ke kantor polisi! Kenapa kamu menarikku pergi Ger!"
Ray marah karena Gerry menariknya menjauh dari Jovan dan anak buahnya.
__ADS_1
"Ray. Kalo kita ga cepet pergi dari sana, anak buah Jovan akan menangkapmu dan pasti Jovan akan membunuhmu. Dan juga mereka akan melaporkan kita balik, karena kita menembaknya dan juga pistol ini entah darimana Dillon mendapatkannya. Bisa-bisa kita terkena pasal karena penggunaan senjata ilegal."
Setelah Gerry menjelaskan kepada Ray, Gerry membawa Ray kerumahnya. Ya rumah Gerry bersebelahan dengan rumah Ray.
"Ger, kenapa kamu membawaku kemari. Kenapa kita tak kembali ke DSC?" tanya Ray dengan kedua mata yang disipitkan.
"Akh udah, kalo kamu ga mau istirahat dirumahmu sendiri, mening kamu istirahat aja diruamhku Ray."
Mereka bertiga masuk kedalam rumah Gerry dan duduk diruang tamu.
"Wah gila, kenapa kamu menembaknya secepat itu?" tanya Dillon pada Ray.
"Tau nih Ray, Ray susah banget tahan emosi. Eh Dillon darimana kamu mendapatkan tembakan itu? Itu gak ilegal kan?"
"Astaga, bukanlah. Itu koleksiku aku sengaja membawanya kemana-mana untuk berjaga-jaga. Semenjak si tudung hitam alias Jovan itu membuat ulah."
"Ray aku ingin bertanya padamu. Ini semua keluar dari topik Jovan. Ini soal kamu, Amara dan juga Ned. Aku lihat kalian semakin jauh. Bahkan kamu tak tinggal dirumahmu sendiri. Kenapa?" Tanya Gerry.
Ray tak menjawab pertanyaan Gerry. Ray malah terdiam dengan tatapannya yang dingin.
"Ray! Aku serius bertanya." Gerry mendesak.
"Ya itu benar." Jawab Ray dingin.
"Sudahlah aku tak ingin membahas ini dulu. Aku ingin fokus pada kasus Jovan. Aku tak mau ada korban lagi ditangan Jovan karena diriku."
"Kenapa Jovan ingin sekali membunuhmu padahal Bella meninggal bukan karenamu Ray." sambung Dillon.
"Entahlah dia memang sangat membenciku. Sebelumnya dia yang lebih dulu mengajak kencan Bella tapi dihari kencan mereka, aku malah datang dan aku menyatakan cintaku pada Bella sebelum Jovan datang."
"Pantas saja Jovan sangat marah padamu, dan ingin menghabisimu."
Setelah semua kejadian itu. Dillon pulang lebih dulu untuk mengurus pekerjaannya. Jadi sekarang hanya ada Ray di rumah Gerry.
Ketika Gerry tengah mandi. Ray keluar dari rumah Gerry untuk melihat keadaan rumahnya sendiri yang ada disamping rumah Gerry. Ketika Ray keluar dari rumah Gerry. Suara teriakan terdengar dari rumahnya.
Ray mendengar suara teriakan itu adalah suara teriakan Selina dan Amara.
__ADS_1
Ray teringat jika Selina ada dirumahnya bersama dengan Amara dan Ned. Ray dengan cepat berlari menuju rumahnya.