
"Ned... Tolong jawab pertanyaan ibumu ini."
"I-iya, aku telah melakukannya. Aku tak sengaja melakukannya pada Amara malam itu di vila. Aku benar-benar mabuk bu."
Plakk!!!
Tiba-tiba ibunya menampar Ned. Karena kecewa.
"Apa ibu bilang, cepat menikah agar tak terjadi hal seperti ini. Tapi kamu tak mau mendengar dan akhirnya ini terjadi."
"Tunggu sebentar, nama anak saya buka Amara tapi Luna dia Laluna. Kenapa kamu memanggilnya Amara." tanya ibu Amara.
"Bu, temanku-temanku memanggilku Amara, karena aku lebih suka nama itu. Jangan dipermasalahkan." timpal Amara.
"Aku akan bertanggung jawab bu, karena aku juga memiliki rasa pada Amara. Tapi aku hanya perlu menunggu jawaban Amara. Karena semua keputusan ada ditangan Amara."
Tiba-tiba ibu Ned menghampiri Amara. Dan menyentuh wajahnya.
"Maafkan Ned, dia telah melakukan kesalahan besar. Kini Ned ingin bertanggung jawab. Apa kamu yakin dan mau menikah dengan Ned?"
Amara seketika menangis. Amara tak bisa mengungkapkan perasaanya pada semua orang jika dirinya lebih mencitai Ray.
"Amara... Bagaimana? Apa jawabanmu?" Tanya Ned lirih.
"A-aku... Aku mau menikah dengan Ned."
Air mata Amara yang ia tahan akhirnya pecah. Amara menangis dipelukan Ibu Ned.
"Hei kenapa kamu menangis... Tak apa Amara..." ucap ibu Ned sembari mengelus kepala Amara.
Ned tersenyum setelah tahu Amara mau menikah dengannya. Dillon yang tadinya tak menyukai Amara kini merasa sedikit senang dan Dillon merasa mungkin kasih sayang ayahnya akan kembali padanya.
Pak bambang beserta semua keluarganya, kembali kerumah setelah selesai membicarakan kapan dan dimana acara pernikahanya diadakan.
Ketika mereka pulang kerumah. Amara tak ingin pulang jadi Amara menetap disana, Karena Amara ingin tahu kabar dari Ray.
Amara tengah duduk diruang keluarga bersama dengan Gerry, Bonita dan juga Ned. Ayah Ned tampak pergi untuk mengurus kantor Ray.
"Ger... Bagaiamana kabar Ray?"
"Dia benar-benar belum ditemukan. Kami kehilangan jejak si tudung hitam yang membawa Ray pergi."
"Aku sangat mencemaskannya."
"Ra... Kamu harus yakin, Ray pasti akan ditemukan. Kamu jangan banyak pikiran kasian nanti anak yang ada didalam kandunganmu." sambung Bonita.
__ADS_1
Tiba-tiba Amara langsung menatap Ned setelah Bonita mengatakan hal itu. Amara dan Ned tampak sangat canggung.
"Amara... Lihat karena ibu sedih dengan semua kabar yang tiba-tiba datang ini. Jadi ibu membuatkan makanan untuk kamu dan juga semua orang. Ayo kita makan dulu dan jangan sampai sakit. Kita harus sehat dan berdoa agar Ray bisa ditemukan dan pulang kerumah."
Ibu Ned membuatkan banyak makanan untuk Amara dan juga semua orang yang ada disana.
Mereka akhirnya makan bersama dan mengobrol bersama.
"Emm aku tak melihat Sarah lagi. Kemana dia?" tanya Gerry.
"Iya... Bisakah kamu menghubungi dia Bonita? Kamu punya nomer handphone dia-kan?"
"Ya Ger, aku punya. Tapi semalam aku sudah mengirimnya pesan dan dia bilang. Dia sedang bekerja. Dia akan kemari nanti malam."
"Semoga Sarah datang kesini nanti malam. Agar aku bisa mencari tahu lagi teman dari Bella." sambung Ned.
****
Malam tiba Amara terlihat berjalan menuju kamar Ray yang ada dilantai dua. Ned terus memperhatikan Amara yang berjalan ke arah kamar Ray. Walaupun mereka berdua belum menikah tetap saja Ned merasa cemburu melihat Amara yang terus masuk ke kamar Ray bukan kamarnya.
Tiba-tiba suara dilantai bawah begitu ramai seperti ada seseorang yang datang, Ned dengan cepat turun ke lantai bawah untuk melihatnya. Amara yang sama-sama mendengernya juga, ia langsung bergegeas turun ke bawah.
Ketika Amara turun, Amara melihat Sarah tengah menangis dipelukan Bonita.
Ada apa dengannya?
Semua orang bertanya-tanya kepada Sarah yang tiba-tiba datang dengan tangisan. Amara berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya.
"Sarah, ada apa?" tanya Amara.
"Ada seseorang yang terus mengikutiku sepulang kerja tadi. Aku takut pulang kerumah karena disana aku sendirian jadi aku datang kesini dengan mobilku."
"Kalian tahu, dia memakai tudung hitam dan pakaian serba hitam. Dia mengikutiku dan aku sangat ketakutan."
Semua orang ikut panik setelah Sarah tiba-tiba di ikuti oleh seseorang bertudung hitam.
"Tunggu. Apa situdung hitam itu kini mencoba mengejar Sarah? Jika ia benar-benar mengejar Sarah maka si tudung hitam itu memang benar dia pasti salah satu teman dekat Bella." Kata Ned.
"Aku juga berfikir seperti itu Ned." sambung Sarah.
"Oke untuk hari ini. Kalian semua tinggal disini terlebih dulu. Aku juga akan memberitahu ayah dan ibu untuk berhati-hati diluar sana."
Mereka semua akhirnya tidur dirumah Ray.
Ned tidur dikamarnya bersama dengan Gerry, sedangkan Sarah ia tidur bersama Bonita dikamar tamu.
__ADS_1
Amara berbeda. Amara tidur dilantai atas dikamar Ray seorang diri.
Ketika Amara masuk ke kamar Ray. Amara tiba-tiba membuka laci kecil yang ada dikamar Ray. Ketika Amara membukanya ia melihat ada beberapa obat, resep obat tidur dari dokter milik Ray.
"Ray... Apa kamu tak bisa tidur tanpa ini. Bagaimana denganmu malam ini diluar sana. Apa kamu bisa tertidur?" gumam Amara sembari mentap obat tidur milik Ray.
Tiba-tiba Amara merasa seseorang tengah memperhatikannya dari arah balkon. Amara dengan berani membuka gorden dan melihat ke arah luar balkon. Ketika Amara melihatnya tak ada siapapun disana namun tiba-tiba.
Aaaaa!!!
Si tudung hitam muncul tepat didepan wajah Amara. Sehingga Amara berteriak karena terkejut dan ketakutan. Teriakan Amara terdengar oleh Ned.
Ned berlari menghampiri Amara.
"Amara! Ada apa?"
"N-ned... Si tudung hitam itu."
Karena Amara begitu ketakutan. Amara menangis sembari duduk dilantai. Ned akhirnya memeluk Amara dengan erat.
"Ada aku disini. Kamu tenang saja, aku akan menemanimu." bisik Ned pada Amara yang tengah dipeluknya.
Amara tiba-tiba merasakan kram diperutnya. Sehingga membuatnya lemas.
Argh! Ned perutku.
Amara tak bisa berdir kedua tangannya terus memegang perutnya yang kram. Ned dengan sigap mengangkat Amara dan membaringkannya diatas ranjang Ray. Amara terus menggeliat karena kesakitan diperutnya.
"Bertahanlah. Aku akan mengambil kantung kompres yang hangat untukmu."
Ned berlari mengambil kantung kompres untuk perut Amara yang Kram.
Setelah mengambilnya Ned meletakan kantung kompres hangat itu diperut Amara.Amara sedikit merasa lebih baik setelah kantung kompres hangat itu diletakan diperutnya.
"Apa sudah mendingan?" tanya Ned sembari menatap Amara penuh dengan kelembutan.
"Ya... Terima kasih Ned. Aku jadi teringat Ray, saat perutku sakit dia melakukan hal sama padaku. Aku sangat merindukannya."
Ucapan Amara membuat Ned cemburu. Sehingga Ned terdiam dan tak merespon ucapan Amara.
...Dukung Ty nuna dengan cara...
...like, komen, dan vote ya...
...Gomawoo ♥...
__ADS_1