GADIS CANTIK BERDARAH DINGIN

GADIS CANTIK BERDARAH DINGIN
BAB XXI MEMBUJUK VARO


__ADS_3

Setelah membersihkan dirinya anggel pergi ke kamar varo untuk membujuk varo.


Tok...tok...tok...


"Bang ini anggel". Kata anggel sambil mengetuk pintu kamar varo.


Ceklek...


"Ada apa?". Tanya varo dingin.


"Anggel mau bicara sama abang, boleh anggel masuk". Kata anggel dengan puppy eyesnya. Varo yang melihat ekspresi adiknya seperti itu pun jadi tidak tega.


"Huff, masuklah". Kata varo sambil menghela nafas kasar.


Anggel yang mendapat izin dari varo pun langsung masuk kekamar varo dan duduk di ranjang. Varo sebenarnya tidak marah karena anggel pulang sore, tapi dia sedih saja akan di tinggal adik yang beberapa bulan ini menghiasi hari-harinya.


"Bang". Panggil anggel dengan menatap varo yang duduk di sofa.


"Hm". Jawab varo singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


"Abang marah dengan ku?". Tanya anggel.


"Tidak". Jawab varo.


"Terus kenapa abang tidak mau melihat anggel?". Tanya anggel sedih. Varo yang mendengar suara adiknya sedih pun menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Huff, kemari". Pinta varo pada anggel.


Anggel pun menghampiri varo yang duduk di sofa. Kemudian duduk di sebelah varo.


"Abang tidak marah denganmu, tapi abang hanya sedih karena kamu akan pergi jauh dari abang". Kata varo dan memeluk anggel dari samping. Dan anggel menyandarkan kepalanya di dada varo.


"Tapi kita kan masih bisa bertemu bang, jika liburan anggel bisa datang ke sini, atau abang yang datang ke sana". Kata anggel.


"Abang tau queen, tapi abang jadi tidak bisa jagain kamu seperti saat kamu ada di dekat abang". Kata varo.


"Bang varo tenang saja, kan abang sudah nempatin banyak pengawal, dan anggel kan bisa jaga diri anggel sediri, terus juga ada micell bang, jadi abang jangan sedih lagi". Kata anggel tersenyum menatap varo.


"Baiklah abang tidak akan sedih lagi, tapi ada syaratnya". Kata varo.


"Apa?". Tanya anggel lalu membenarkan duduknya.


"Lalu kerjaan abang?". Tanya anggel.


"Abang bosnya jadi abang mau kerjain dimana aja bisa". Kata varo.


"Yayaya, bos mah bebas". Kata anggel memutar bola matanya malas.


Sedangkan varo hanya tertawa melihat reaksi adiknya. Mereka pun berbincang-bincang sambil bersenda gurau. Perbincangan mereka terhenti saat ada yang mengetuk pintu.


Tok...tok..tok...

__ADS_1


Ceklek...


"Ada apa bi?". Tanya varo, ya yang mengetuk pintu kamar varo adalah kepala pelayan di rumah itu bernama bi sum.


"Maaf tuan muda mengganggu, nyonya memanggil tuan muda untuk makan malam". Kata bi sum sopan.


"Baiklah sebentar lagi saya turun, oh iya bibi tidak usah panggil anggel dia ada disini". Kata varo.


"Baik tuan, saya undur diri". Kata bi sum. Dan varo hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah bi sum pergi, varo masuk ke kamarnya untuk memanggil anggel.


"Siapa bang?". Tanya anggel.


"Bi sum, ayo turun. Ayah dan bunda sudah menunggu di meja makan". Kata varo sambil membereskan berkas-berkasnya.


"Oke bang". Kata anggel lalu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan varo.


Varo yang melihat anggel sudah pergi pun hanya tersenyum tipis. Lalu menyusulnya. Sesampainya di meja makan benar saja kedua orang tuanya sudah mengunggu mereka.


"Kalian ini lama sekali". Kata bunda.


"Maaf bun". Kata mereka serempak lalu duduk di bangku masing-masing.


Makan malam pun di mulai. Tidak ada yang bersuara kecuali detingan sendok.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2