GADIS CANTIK BERDARAH DINGIN

GADIS CANTIK BERDARAH DINGIN
BAB 58 ANGGEL MOGOK BICARA


__ADS_3

Sedangkan di negara lain anggel baru saja sampai di bandara, disana ayah, bunda, varo, dan aldo sudah menjemputnya. Anggel berjalan menemui mereka.


"Bunda". Panggil anggel lalu memeluk bunda.


"Bagaimana kabarmu sayang?". Tanya bunda.


"Baik bunda, bunda sendiri gimana kabarnya?". Tanya anggel balik.


"Bunda juga baik sayang". Jawab bunda.


"Tidak ada yang kangen ni sama ayah". Kata ayah pura-pura cemberut.


"Ah ayah, anggel kangen banget tau sama ayah". Kata anggel memeluk ayah.


"Ayah juga kangen kamu sayang". Kata ayah.


"Sepertinya abang di lupain ya udah aldo kita pergi saja". Kata varo dengan berbalik akan pergi.


"Abang". Kata anggel manja lalu memeluk varo dari belakang.


"Kau ini masih saja manja". Kata varo tersenyum.


"Biarin weeek". Kata anggel dengan menjulurkan lidahnya.


"Sudah kita pulang sekarang pasti kalian capek". Kata ayah.


"Ayah, bunda, micell langsung ke markas saja bareng kak aldo". Kata micell.

__ADS_1


"Tidak mau ke masion dulu sayang?". Tanya bunda.


"Tidak bunda lain kali saja". Jawab micell.


"Baiklah hati-hati di jalan". Pesan bunda, dan micell hanya mengangguk.


Setelah itu mereka semua meninggalkan bandara. Sepanjang perjalanan anggel tak henti-hentinya mengoceh menceritakan semua yang dia alami di tanah air.


"Lo bisa diam nggak sih dek, abang jadi nggak fokus ni dengerin lo ngoceh dari tadi". Omel varo yang sudah geram dengan omelan anggel.


"Baiklah anggel diam, awas saja jika abang tanya anggel diam terus marah". Kata anggel lalu memandang luar jendela.


Ya begitulah anggel cerewetnya sudah overdosis jika bersama keluarga dan sahabatnya. Tapi jika sudah serius, jangan ditanya lagi. Melihat tingkah anggel dan varo orang tua mereka hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala.


Setelah beberapa menit berada di jalan, mereka pun sampai di masion, anggel yang masih kesel dengan varo langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Varo yang melihatnya pun menggelengkan kepalanya.


"Adikmu ngambek tuh bang". Kata bunda saat sudah keluar dari mobil.


"Kamu ini, suka sekali menggoda adikmu, ya udah kami masuk dulu, kamu juga masuk". Kata bunda dan varo hanya mengangguk.


Varo menurunkan koper anggel dan membawakannya masuk. Sekalian ia akan membujuk anggel.


Tok...tok...tok...


"Dek, boleh abang masuk?". Tanya varo saat sudah berada di depan pintu kamar anggel.


Tapi tak ada jawaban dari dalam.

__ADS_1


"Abang masuk ya?". Kata varo lalu membuka pintu kamar anggel.


Cklek.


Saat pintu terbuka terlihat anggel yang sedang duduk di sofa sambil melihat laptopnya. Varo meletakkan koper anggel dan duduk disamping anggel.


"Kamu marah dengan abang?". Tanya varo.


".............".


"Baiklah kalau kamu marah, padahal ada yang mau kakak bicarakan sama kamu, tapi tidak jadi lah". Kata varo.


"Apa yang ingin abang bicarakan?". Tanya anggel mulai berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Kalau ada yang ajak bicara tatap mukanya". Kata varo.


"Hufff, baikalah abangku sayang apa yang ingin di bicarakan". Kata anggel dengan lembut.


"Masalah penyerangan". Kata varo.


"Oh itu, sedang aku rancang setrateginya". Kata anggel.


"Emang rencana kamu gimana?". Tanya varo.


"Lusa akan kita bicarakan di markas bang, itupun jika abang tidak sibuk sih". Kata anggel.


"Baiklah abang usahakan datang". Kata varo.

__ADS_1


Setelah itu varo pamit ke kamarnya dan anggel kembali mengotak atik laptopnya.


Bersambung.


__ADS_2