
"Hai Kaila kok wajahmu terlihat murung seperti itu?Ada masalah apa?Cerita dong sama aku",celetuk Edo saat mendekati Kaila yang sedang melamun di balkon lantai atas.Udara sejuk malam itu membuat Kaila betah berlama-lama diam disana sembari menatap bintang karena kebetulan cuacana malam itu cukup cerah.
"Kamu belum pulang?",tanya balik Kaila karena penasaran sembari menatap lawan bicaranya.Kaila mengerti pekerjaan Edo yang sangat banyak,hingga sudah selarut ini dia baru keluar dari ruang kerja Rama.
"Belum",jawab Edo singkat seraya menunjukkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi pada Kaila.
"Kay kamu kenapa?",Edo mengulangi pertanyaannya pada gadis tambun yang ada di depannya karena pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban dari Kaila.
"Aku sedang tak memikirkan apapun",jawab Kaila singkat.
"Semenjak aku disini,tempat inilah yang menjadi favoritku selama ini",tambah Kaila berusaha menjelaskan pada lawan bicaranya yang sedang fokus menatapnya dalam-dalam.
"Apa kamu sedang kurang sehat Kai?Wajahmu terlihat pucat",tanya Edo yang mulai mensejajarkan tubuhnya agar duduk berdampingan dengan Kaila.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kok",jawab Kaila jujur.Bukan badannya yang sakit,tapi hatinya yang sakit,batin Kaila.Hal itu lantaran sudah hampir seminggu Rama mendiamkannya.
Hubungannya dengan Rama kini seperti di awal perjumpaan mereka.Sosok Rama kembali menjadi sosok yang sangat dingin dan cuek.Bahkan,untuk menyapanya saja Rama terasa enggan.
Inilah sakit tak berdarah yang sedang diderita Kaila.Semenjak pernyataan cintanya kala itu,sikap Rama benar-benar berubah drastis kepadanya.
Mereka mengenal tapi tak saling bertegur sapa,sering berjumpa tapi tak terlihat di mata Rama dan sering berdekatan tapi terasa sangat berjauhan bagi Kaila.
"Kai!",tegur Edo yang seketika membuyarkan lamunan Kaila.
"Apa semua ini ada hubungannya dengan Bos Rama?",tanya Edo penasaran.Karena beberapa hari ini pandangan Kaila sering tertuju pada Rama,dan itu terlihat jelas di mata Edo.Laki-laki itu curiga bahwa diantara Rama dan Kaila terjadi sesuatu.Karena semenjak kedatangan Rama ke kampus Kaila satu minggu yang lalu itu,mood Rama tiba-tiba berubah drastis.
"Enggak Edo!Ada masalah lain yang tidak bisa aku ceritakan padamu",bohong Kaila.Sekuat tenaganya Kaila berupaya menyembunyikan perasaannya dari Edo.Ia merasa belum siap bercerita apapun pada Edo,meskipun secara intens laki-laki itu sering mendekatinya.
__ADS_1
"Kalau begitu katakan masalahnya Kay!Bukankah kamu telah menganggapku teman?",cecar Edo pada Kaila.
Bukannya bercerita,Kaila malah meminjam bahu Edo sebagai sandaran kepalanya.Kaila menangis dalam diam disana.Ia tidak bisa bercerita,tapi hanya sesenggukanlah yang terdengar lirih di telinga Edo.
Edo membiarkan Kaila menangis di pundaknya,sembari memilin rambut panjang milik Kaila yang dibiarkan tergerai malam itu.
Kini,ia tahu kalau Kaila sedang tidak baik-baik saja.Ada yang sedang di sembunyikan oleh Kaila darinya.Namun,ia tak bisa mendesak Kaila lebih dalam lagi.
"Menangislah Kai!Bila hal itu bisa membuatmu lebih tenang",ujar Edo dengan lembut dan dibalas dengan anggukan oleh Kaila.
Tanpa keduanya ketahui,ada sepasang mata yang memperhatikan aktifitas mereka berdua dari jauh.
Rahang Rama mengeras,kedua tangannya terkepal di udara.Dadanya terasa sangat panas dan terbakar saat melihat Kaila di peluk oleh Edo.Emosi tiba-tiba meletup dalam dadanya.
__ADS_1
"F*ck Edo",Rama berupaya kuat meredam emosinya.
"Aku tidak mungkin cemburu pada Kaila",batin Rama gelisah,ia masih menyangkal perasaan yang tiba-tiba hadir semenjak berada didekat Kaila.Laki-laki itu meraup wajahnya dengan gusar.Dalam hatinya,sedang ada perang batin yang begitu bergejolak hingga ia merasa sangat frustasi.