
Keyko terdiam membatu. Dia serasa tidak bisa bergerak. Gerakan Riyu membuat Keyko menjadi serba salah. Keyko berusaha untuk menyelesaikan mencuci piring. Setelah dengan cukup lama, akhirnya Keyko bisa juga menyelesaikan mencucinya. Dia pun membersihkan tangannya.
Riyu yang melihat segera membalikkan tubuh Keyko. Keduanya saling pandang, bahkan Keyko tidak berani memandang mata Riyu langsung. Riyu masih menatap Keyko.
"Key, jadi wanitaku, ya?"
Perkataan itu lagi. Jantung Keyko berdebar tidak karuan lagi.
"Aku masih sekolah dan apa tidak terlalu muda untuk mu?"
"Panggil aku Kak. Sudah ku bilang, kan."
Wajah Riyu semakin mendekat, Keyko serasa tidak bisa bernapas.
"I-iya Kak. Kak Riyu," ucap Keyko lembut.
"Jadilah kekasihku, jadilah wanitaku, Keyko." Riyu berbisik di telinga Keyko. Wajah serta telinga Keyko memerah. Riyu melihat ekspresi manis dari Keyko yang bagi Riyu begitu menggemaskan.
"Mau kan, Key?"
Belum sempat Keyko menjawab, Riyu sudah mengulum bibir manis milik Keyko. Riyu begitu mendominasi sehingga Keyko pun ikut terhanyut. Jantung keduanya baik itu Keyko dan Riyu berdebar-debar rasanya. Ingin meloncat saja keluar. Hati mereka berbunga-bunga.
Disela kecupan Riyu, Riyu terus berkata "Jawab aku, Key?" sambil berkata hal itu, dia terus mengecup dengan mesra. Keyko tidak bisa menahannya.
"Jawab Key? Jadilah kekasih ku, wanitaku?"
Keyko pun akhirnya berkata iya. "Iya. Baiklah," ucap Keyko disela kecupan mereka.
Riyu tersenyum puas. Dia mengangkat tubuh Keyko tanpa melepaskan kecupannya. Mereka berbaring di sofa panjang. Masih saling mengecup. Riyu semakin mendominasi Keyko dan menguasai bibir milik Keyko.
Saat adegan yang sedang mesra tersebut, kakek Yamada pun pulang.
__ADS_1
"Ehem!"
Keyko dan Riyu melepas kecupan mereka. Mereka melihat ke arah kakek Yamada. Keyko mendorong tubuh Riyu dan dia bergeser. Riyu dan Keyko segera merapikan diri dan duduk saling menjauh.
Yamada mendekat dan duduk tidak jauh dari keduanya. Bahkan dia menatap keduanya dengan sangat serius. Dia tahu mereka dalam masa pubertas dan masa jatuh cinta, tetapi jangan sampai kelewatan batas juga.
Riyu terdiam. Dia kaget melihat kakek Yamada. Riyu berusaha tetap tenang di hadapan Yamada. Walaupun sebenarnya hatinya tidak tenang, takut akan diamuk atau malah tidak direstui. Padahal dia seorang Bos Gangster, tidak seharusnya takut kepada siapa pun. Namun, ini berbeda situasi saja. Riyu pun bersikap tenang dihadapan Yamada dan Keyko. Keyko sendiri merasa malu dan takut pula, apalagi kepergok kakeknya.
"Waduh, gawat! kakek pasti marah kepadaku." Keyko tertunduk tidak berani menatap, dia bergumam dalam hatinya.
"Maaf." Riyu terlebih dahulu berucap. Dia sadar tadi terlalu terbawa suasana. Riyu meminta maaf sambil menundukkan kepalanya. Dia juga membungkuk hormat.
Yamada melihat dengan serius dan tajam. Dia melihat Keyko dan Riyu bergantian.
"Aku tahu kalau kalian sedang dimabuk asmara. Namun harus selalu ingat batasan, ya. Ingat Keyko masih harus sekolah." Nasihat Yamada kepada Keyko dan Riyu.
Keyko dan Riyu pun menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu aku mau masuk saja ke kamar. Silahkan melanjutkan, tetapi ingat jangan kebablasan, ya!"
Riyu dan Keyko saling pandang. Mereka berdua tertegun.
Kembali terdengar suara Yamada, "Aku juga pernah muda. Jadi aku sudah harap maklum. Tapi ingat jangan kebablasan," Begitulah kata Yamada.
Keyko dan Riyu tertegun. Mereka kemudian tersenyum. Ternyata kakek Yamada tidak marah, hanya mengingatkan agar lebih menjaga diri. Tidak kebablasan.
Riyu pun pamit pulang, dia berjanji akan kemari lagi membantu Keyko belajar. Keyko menganggukkan kepalanya. Sebelum pergi Riyu sempat berbisik ke telinga Keyko.
"Aku pulang ya sayang, pacarmu ini akan merindukanmu." Riyu tersenyum hangat. Keyko pun hatinya menghangat.
Riyu pun akhirnya pulang.
__ADS_1
Semenjak hari itu, maka Riyu dan Keyko resmi pacaran. Kali ini bukan bohongan tetapi pacaran sesungguhnya.
Riyu pun semakin sering ke rumah Keyko karena membantu Keyko belajar. Sejak hari itu mereka belajar bersama. Dari hari ke hari mereka semakin dekat saja. Hati keduanya pun sedang berbunga-bunga dan kasmaran.
***
Di tempat lain.
Sano dan Minami ternyata masih hidup. Mereka tidak mati dari ledakan bom waktu itu. Namun, Sano terlihat terluka. Dia terbaring dalam waktu yang cukup lama. Minami yang membantunya. Saat ini mereka bersembunyi berdua.
Minami meminta sekretarisnya menyiapkan tempat bersembunyi. Kini mereka bersembunyi bersama.
"Bagaimana kondisi mu sekarang?" Minami melihat ke arah Sano yang terbaring di ranjang.
"Sudah lebih baik. Terima kasih."
"Aku hanya membalas kebaikan mu, karena kau menolong ku sehingga tidak mati di ledakan bom itu. Namun, bagaimana sekarang anggota gang mu dan kelompok mu? bukannya mereka ikut terkena ledakan bom waktu itu."
"Tenang saja, beberapa anak buah ku masih ada disekitar Tokyo. Aku harus membalas Riyu. Ini ulah para anak buahnya."
"Kau bilang kita harus menjauhi, kenapa malah mau balas dendam."
"Karena dia sudah membuat ku begini. Dia juga merusak Villa ku. Banyak anak buahku yang tewas. Sungguh menyebalkan."
Minami tersenyum kecil. "Jadi kita masih berkerjasama untuk membalas mereka, kan? aku membalas Keyko dan kau membalas Riyu. Mama ku masih di rumah sakit sedang koma. Sekretaris Mama yang menjaga semua untuk saat ini. Jika ingin balas dendam maka kita harus punya rencana."
Sano menganggukkan kepalanya.
Iya. Bener. Mereka harus mempunyai rencana yang matang dalam membalas Keyko dan Riyu. Apalagi Riyu bukan orang sembarangan. Mereka berdua harus lebih hati-hati.
"Tunggu saja kau, Riyu. Aku akan membalas semua kekalahan ku!" mata Sano berkilat penuh amarah.
__ADS_1
Bersambung....
Klik Like dan Kasih Komentar nya ya Kak. Makasih.