
Sesal karena merasa terlambat mengenal Tasya membuat Dave benar-benar gila. Bagaimana tidak, Tasya sama sekali tidak curiga padanya.
Setelah berhasil mengantarkan Tasya pulang, kini Dave melajukan mobilnya kembali ke rumah. Ia terkejut karena rupanya Laura sudah berada di rumah dan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia begitu pandai menyimpan emosi dan semua hal tentang perselingkuhannya dengan berondong.
Suara pintu yang terbuka membuat Laura seketika membuka pintu. Di tatapnya wajah suaminya yang tidak pernah menua itu.
"Sayang, kau sudah pulang?" ucapnya sambil menyambut kedatangan Dave.
Laura menggapai jas yang dibawa Dave, tetapi ia tidak bisa tersentuh. Dave segera menghindar ketika Laura ingin menyentuh tubuhnya. Tangan Laura terkepal, menahan amarah dan rasa kecewa yang sangat mendalam. Bagaimana pun juga ia menikah dengan cinta, tetapi ternyata ini balasannya.
"Dave cukup! Sudah cukup kau mengabaikan ku selama ini."
Dave menghentikan langkahnya menuju kamar mandi. Bibirnya sedikit tertarik ke atas, menyunggingkan senyum terindah karena ia hampir sampai di tujuannya.
"Lalu, apa yang kamu mau lakukan?" ucap Dave dengan tenang.
Laura mendekati Dave, hampir menyentuhnya, tetapi lagi-lagi Dave mundur satu langkah. Laura memejamkan kedua matanya. Menghirup udara dalam-dalam agar sesak yang dirasakan olehnya terhapus.
__ADS_1
"Beri satu kesempatan untukku agar bisa menyentuhmu. Lalu setelah itu sebaiknya kita berpisah."
Meski dengan bibir bergetar, tetapi Laura sudah tidak tahan lagi. Rumah tangga yang ia impikan rupanya tidak pernah terwujud dan justru semakin membuat Laura tertekan.
"Bagaimana caramu menjelaskan kepada kedua orang tua kita akan hal ini. Bukankah dengan begitu mereka sangat kecewa akan keputusan darimu ini."
Laura tertawa sumbang, "Sepertinya ucapanmu ada benarnya, tetapi kenapa terasa seolah semua ini terjadi karena keegoisanku?"
"Mungkin, tetapi terima kasih karena kamu sudah meminta hal itu. Tunggu dua hari lagi maka kita akan bercerai."
Deg, seolah detak jantung Laura berhenti untuk sesaat. Ia benar-benar tidak menyangka hal ini bisa terjadi dan dengan mudahnya Dave setuju.
Laura segera berlari keluar kamar. Hatinya terasa sakit, air mata yang sedari tadi mengintip di sudut mata kini sudah mengalir deras tanpa suara. Menyayat hati siapapun yang melihatnya.
Demi menghindari pertanyaan dari asisten rumah tangganya, Laura berbelok ke salah satu kamar. Menumpahkan segala rasa yang menghimpit dadanya. Berusaha mengeluarkan segala penat yang sudah ia pendam selama pernikahan dengan Dave.
Di sisi lain Dave sama sekali tidak pernah merasa bersalah sedikitpun. Baginya itu lebih baik daripada hidup bersama tetapi tidak ada rasa cinta di dalam hatinya.
__ADS_1
Kost Tasya.
"Alhamdulillah setidaknya hari ini aku sudah tidak ada lagi beban. Makan yang enak sama Om Dave, tetapi kenapa rasanya sangat aneh, ya?"
Tasya memandangi langit-langit di atas sana. Melihat bagaimana rasanya hatinya berbunga ketika bersama seorang lelaki yang menurutnya lebih cocok menjadi ayahnya.
"Gila, sepertinya aku gila karena dia!"
Sejenak terlintas bayangan Enzo yang memeluknya dan selalu mengisi harinya. Namun, kenyataan ketika ia mengetahui jika Enzo bermain belakang bersama Karen membuatnya terluka. Apalagi sikap Karen dan keluarganya yang juga berbuat kejahatan dengan menguasai semua aset kekayaan sang ayah.
"Kamu tidak boleh lemah Tasya, karena kebenaran harus menang!"
Semoga saja setelah ini, kehidupan Tasya lebih baik. Aamiin.
......................
Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini ya, ditunggu
__ADS_1