Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 46. MASIH CINTA


__ADS_3

Dari kejauhan Dave bisa melihat interaksi antara Tasya dan seorang lelaki muda. Darahnya dalam sekejab mendidih hingga ubun-ubun.


Entah mengapa rasanya Dave ingin segera melampiaskan amarahnya pada lelaki itu karena telah berani mendekati Tasya. Jika saja saat ini ia bukan sedang menyamar menjadi laki-laki biasa, sudah bisa dipastikan ia akan menjadi perkedel.


Plak


Tiba-tiba saja Dave terjingkat karena Brodi menepuk bahunya dari belakang secara spontan. "Ya, Tuhan apa yang kau lakukan padaku Brodi! Kau ingin membuatku meninggal dalam waktu singkat!"


"Santai Pak Bos, tetap fokus pada Nona Tasya saja!" ucapnya seolah mengalihkan pembicaraan.


Setelah dirasa cukup aman, kini Dave berjalan santai ke arah Tasya. Ia mengulas senyum terbaiknya, tetapi sosok tubuhnya yang tinggi menjulang membuat orang-orang melihatnya.


"Tasya ...." panggilnya dengan lembut.


Sontak Tasya menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok lelaki yang sering datang di dalam mimpinya itu. Kedua mata Tasya langsung berkaca-kaca.


"Ma-mau apa Om kesini?" tanya Tasya tergagap.


"Tentu saja menjemput kamu agar pulang."


Reflek tangan Tasya meraih lengan Alvino agar menjaganya. "Bantu gue, aku nggak mau pulang," cicitnya pada Alvino.


Meskipun lirih, tetapi Alvino bisa mendengarnya. Ia pun memasang badannya agar Tasya bisa bersembunyi di belakang tubuhnya.

__ADS_1


"Maaf, Tasya tidak mau pulang, Om. Jadi sebaiknya Anda pulang saja sendiri."


Raut wajah yang semula damai kini telah berubah menjadi garang. "Aku bukan Om kamu, jadi sebaiknya jaga ucapan kamu. Aku datang ke sini untuk menjemput calon istriku, paham!"


Sontak saja kedua mata Alvino melotot tajam ke arahnya. "Bagaimana bisa Tasya berhubungan dengannya. Jika benar lelaki tua ini calon suami Tasya, jelas gue nggak terima!" gumamnya.


"Wah, wah, wah, .... om ngaco deh, masa iya lelaki setua Anda adalah calon suami Tasya. Sugar Daddy dong," canda Alvino pada Dave yang sudah mulai tersulit api cemburu di dalam dadanya.


Reflek tangan Tasya mencubit pinggang Alvino yang berani berbicara seenaknya. "Jangan mancing emosi Om gue!"


"Awh, sakit Sayang ...." ucapnya bersandiwara.


"Hei, jangan seenak jidat panggil sayang sama orang lain, dong. Lagian gue juga bukan pacar kamu!"


Alvino memegang kedua lengan Tasya lalu menatapnya perlahan, "Sya, gue beneran sayang sama kamu, apakah kamu menolak cinta dariku!"


Kedua mata Tasya membola ketika menyadari lelaki di hadapannya ternyata menaruh asa padanya, sementara itu sosok lelaki setengah tua itu sudah lebih dulu mencuri hatinya.


"Kenapa denganku, padahal jelas-jelas dia yang lebih dulu menghianati cinta kita, tetapi sekarang dia bersikap seolah tidak pernah ada masalah serius yang terjadi. Apakah semua lelaki tua brengsek seperti kamu, Om!" pekik Tasya dengan kesal di dalam hatinya.


Jujur saja rasa cinta di dalam hati Tasya telah lama memudar sejak dengan kedua mata kepalanya sendiri, Tasya memergoki Dave berpelukan dan bersikap mesra pada mantan istrinya, maka dari itu Tasya menolak kembalinya Dave saat ini.


Rasa cinta yang seharusnya membuat Tasya bahagia, justru membelenggunya. Ia melihat Alvino dan Dave bersaing secara sehat."

__ADS_1


"A-aku lebih memilih bersama Alvino, Om. Tiema kasih karena selama ini sudah menjagaku. Balas budinya lain kali aja, Om. Saat ini Tasya lebih nyaman tinggal di sini bersama Alvino."


"Oh, jadi kamu lebih memilih bertahan di sini dan melupakan cinta di antara kita!"


Tasya sama sekali tidak mau menatapa manik mata Dave maupun Alvino untuk saat ini. Jika ia menatap mereka sudah bisa dipastikan hatinya akan luluh dan hal itu bisa terbaca oleh Dave.


Apalagi Dave adalah sosok laki-laki pengamat yang ulung. Ia sangat hafal membaca mimik wajah siapapun di hadapannya. Sementara itu Alvino juga, ia bisa membaca binar cinta di kedua mata Tasya, tetapi di sisi lainnya ia tidak mau kehilangan gadis ingusan di depannya ini.


"Sya, gimana? Apa kamu menerima ungkapan cintaku?" tanya Alvino dengan nada yang sangat lembut dan penuh harap.


"A-aku ...."


Belum sempat Tasya menjawab ungkapan hati Alvino, dari arah belakang ada pengendara motor yang ugal-ugalan dan mengarahkan lajunya ke arah Tasya. Dave yang berada di seberang segera berlari untuk melindungi Tasya.


"Tasya, awaaaaass!" teriak Dave sambil berlari ke arah Tasya.


Tubuh Tasya yang berada di pinggir jalan membuat Alvino segera menarik masuk ke dalam pelukannya. Sementara itu tubuh Dave yang menjadi tameng justru menjadi korbannya.


Kecepatan yang digunakan oleh pengendara itu cukup tinggi dan berhasil membuat tubuh Dave terpental beberapa meter. Tasya yang melihat hal itu dengan kedua matanya sendiri berteriak histeris.


"Om, Dave! Di-dia berdarah!" teriak Tasya histeris.


Karen yang berada di ujung jalan mengepalkan. tangannya karena masih bisa melihat Tasya selamat. "Sial, kenapa dia masih selamat!"

__ADS_1


__ADS_2