
"Apa!" pekik Brodi ketika menyadari jika Bosnya yang super blo'on tentang wanita itu kembali kehilangan Tasya.
"Gimana sih, Bos. Katanya sudah bisa menaklukan Nona Tasya, kok bisa kecolongan, sih!" Brodi mengacak-acak rambutnya.
Rencana liburan ke Bali lima hari lima malam bisa hancur karena kecerobohan Bosnya itu.
"Sorry, aku benar-benar blank, ketika Laura tiba-tiba saja berteriak-teriak di depan pintu. Hanya demi menurunkan emosinya aku sampai melupakan Tasya.
"Trus, rencana Bos apa? Motong jatah liburanku? Atau mau menggantikan posisiku dengan asisten baru?"
"Jangan paksa aku berpikir lebih!" teriak Dave.
Meskipun Dave pandai dalam dunia bisnis dan tidak takut dengan para kompetitornya, tetapi entah mengapa dia sangat tidak bisa berpikir normal ketika berhadapan dengan wanita. Logikanya tiba-tiba mati mendadak ketika bertemu dengan Tasya.
"Beri aku pengawalan khusus dan cepat cari keberadaan Tasya secepatnya. Kau boleh cuti liburan setelah masalahku dengan Laura selesai, mengerti!"
"Mengerti, Pak Bos!"
Sejenak Dave berdiam diri, sementara itu di saat Bosnya terdiam, Brodi memaki-maki Dave di dalam hatinya. Ia begitu bingung dengan pemikiran Dave yang selalu menyembunyikan identitasnya dari Tasya sehingga sampai kecolongan seperti ini.
"Harusnya Bos mengaku siapa sebenarnya Bos saat ini, bukannya malah semakin menyembunyikan jati diri Bos. Apa Bos tidak takut jika saat Nona Tasya tahu siapa sebenarnya Anda, semuanya akan menjadi lebih rumit?"
"Entahlah, semoga saja semuanya tidak terjadi."
__ADS_1
"Mulai besok, segera perketat penjagaan untukku. Jangan sampai Laura bisa mendekatiku!"
"Siap!"
......................
...12 jam kemudian...
Sementara Tasya sudah sampai di Jogja. Namun, karena terlalu lelah ia masih ketiduran di kursi penumpang. Beruntung sopir dan kernet masih harus istirahat sebelum melajukan busnya kembali ke ibu kota.
Suara pengamen membuat Tasya terusik. Kedua tangannya masih sibuk mengucek kedua bola matanya yang terlihat mengantuk.
"Masih ngantuk ya, Mbak?" tanya pengamen itu.
Sontak Tasya merengkuh tas ransel miliknya erat-erat. Pengamen itu tersenyum.
"Trus kalau bukan maling, apa'an dong!"
Tasya masih ngotot apalagi saat melihat ke sekelilingnya sudah tidak ada penumpang lainnnya. Panik tentu iya, akan tetapi ia tidak tahu apakah ia benar-benar sudah sampai tujuan dengan selamat atau tidak.
"Bagaimana? Pasti Non panik, ya? Jangan takut ini sudah sampai Jogja kok, Non."
"Beneran, Mas?"
__ADS_1
"Benar, cuma ini sudah diterminal."
"Oh, trus gue harus kemana, dong?" ucapnya terlihat bingung. Bagaimana pun saat ini Tasya hanya ingin pergi dari Dave tanpa tujuan yang pasti.
Melihat Tasya kebingungan, pengamen itu pun merasa kasihan. Lalu ia pun mengajak Tasya untuk keluar dari bus tersebut.
"Kalau Non percaya maka, ikutlah dengan saya. Akan tetapi kalau tidak percaya ya silakan saja bertahan di bus ini. Paling nggak nanti dibawa balik lagi ke Jakarta."
Merasa tidak ada respon dari Tasya, pengamen itu segera meninggalkan bus tersebut. Akan tetapi tidak lama kemudian terdengar langkah kaki yang sangat cepat. Ternyata Tasya mengikuti pengamen tersebut, lalu meminta maaf kepadanya.
"Mas ... Mas ... tunggu ....!"
Merasa dipanggil pengamen tersebut penuh oleh dan tersenyum ke arah Tasya.
"Kalau dilihat-lihat Mas ini ganteng juga, sih. Masa iya dia adalah penculik atau penjahat. Mungkin apa yang dia katakan tadi benar hanya ingin menolong ku saja."
"Jangan banyak melamun, Non. Kalau mau ikut saya yuk mari, karena sebentar lagi saya juga harus kejar setoran, nih."
"Oke."
Meskipun awalnya Tasya ragu, akan tetapi melihat kesungguhan hati di dalam mata pengamen tersebut ia pun mengikutinya.
"Semoga saja dia ga penipu," gumamnya.
__ADS_1
Visual Alvino (pengamen)