
"Makannya lahap amat kayak nggak pernah makan aja!" tegur Alvino melihat Tasya makan dengan lahapnya.
Sementara itu Tasya tidak memperdulikan perkataan dari Alvino. Baginya ia lebih suka menghabiskan makanannya terlebih dahulu daripada segera menanggapi ucapan dari Alvino.
Tasya hanya melirik dengan ekor matanya, "Nih orang pasti nggak diajarin sopan santun sama orang tuanya," batin Tasya sambil memakan dengan lahap.
Setelah beberapa saat akhirnya Tasya selesai makan.
"Nama Lo Alvino 'kan? Pantes aja Lo diberi nama kayak gitu, Lo banyak ngomong, sih!"
Alvino tergelak karena ucapan Tasya yang apa adanya. "Menarik," gumam Alvino.
"Hello, slow girl ... diajak ngomong gitu aja Lo ngegas!"
"Seriusan gue yakin, pasti Lo kabur dari cowok!"
"Puft!" Hampir saja semburan air dari mulut Tasya mendarat sempurna di wajah Alvino.
__ADS_1
Mendapatkan ucapan dari Alvino yang tepat sasaran, seketika mata Tasya melotot ke arahnya. Namun, bukannya takut Alvino justru tersenyum dan memasang wajah tampannya ke arah Tasya. Berharap agar Tasya tergila-gila padanya.
Sejujurnya yang mencintai lebih dulu adalah Alvino. Pertama kali melihat Tasya, entah mengapa ada debaran aneh yang menggeliat di dalam dada Alvino. Maka dari itu ia pun rela menemani Tasya yang masih tertidur di dalam bus tadi. Bahkan ia rela menyanyikan lagu sebagai teman tidur Tasya.
Andai saja ia tidak tertarik pada Tasya, sudah pasti ia meninggalkannya sejak awal pertemuan mereka. Akan tetapi ketertarikan itu membuat Alvino bertahan dan menunggu Tasya hingga dia bangun dari tidurnya. Baru setelah itu mengajaknya bersama.
Ternyata benar dugaan Alvino, saat ia melihat Tasya yang kebingungan. Rupanya ini adalah pertama kalinya Tasya baru datang ke Jogja secara mandiri.
Di kota ini ia tidak mempunyai teman ataupun keluarga dan hal itu dimanfaatkan Alvino agar tidak ia mempunyai teman. Sejujurnya Alvino juga tidak mempunyai keluarga di sini, dia hanya indekos.
Tempatnya memang kecil, bahkan dulu ia pernah sempat kuliah. Akan tetapi karena tidak mempunyai biaya maka ia pun putus sekolah dan lebih memilih menjadi pengamen di jalanan.
"Karena kamu udah kenal aku dan aku juga udah kenal kamu gimana kalau kita jadi teman?"
"Teman?"
"Iya, kita berteman. Lagi pula kita juga sama-sama sendirian di kota ini."
__ADS_1
Ucapan dari Alvino seketika membuat Tasya berpikir, jika mungkin ini adalah saat yang tepat ia memiliki teman, karena sejujurnya di tempat ini ia juga tidak mempunyai siapapun. Biasanya Tasya pergi dengan pengawalan ketat dari ayahnya.
Namun, yang terjadi saat ini ia mencoba keluar dari zona nyamannya, karena kedua orang tuanya sudah meninggal dan sudah pasti tidak ada pengawal yang bisa menjaganya dari hal-hal buruk. Setidaknya mempunyai teman Alvino bisa membuat ia bisa bertahan lebih lama di Jogja. Bahkan mungkin Dave tidak akan mengendus keberadaannya sampai ke kota tersebut.
Tasya mengulurkan tangannya ke arah Alvinov dan disambut hangat olehnya. "Deal, kita temenan."
"Oke kalau gitu, apakah aku perlu menyiapkan tempat tinggal untukmu?' tanya Alvino dengan gaya manisnya.
"Terus kalau nggak dicariin tempat tinggal, apakah gue harus satu kamar sama Lo. Lagi pula kita itu hanya teman, bukan juga suami istri. Masa iya tinggal satu rumah. Hello, ke mana logika kamu berjalan?"
"Ok, tapi kamu punya uang, 'kan?"
"Enggak?"
"Trus, siapa yang bayar?"
"Ya jelas Lo, lah masa gue?"
__ADS_1
"Astaga, cewek miskin 'kah? Atau dia lagi pura-pura?" batin Alvino bergejolak.