Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 48. PURA-PURA LUPA


__ADS_3

Setelah sekian lama, akhirnya kedua mata Dave terbuka. Setelah ia mengalami koma selama dua belas jam pasca operasi yang dialami olehnya. Dengan setia Tasya masih berada di samping brankar Dave. Salah satu tangannya bahkan memegang lengan Dave dan menjadikanya sebagai bantalan untuk ia tidur.


Kebas, tentu saja. Akan tetapi pemilik lesung pipit itu terkejut karena ternyata ada seorang gadis yang tertidur di atas lengannya. Seketika Dave mengibaskan tangannya dan hal itu sukses membuat Tasya terkejut dan hampir jatuh.


"Siapa kamu?"


"Om, sudah sadar?" ucap Tasya sambil tersenyum.


Efek dari bangun tidur membuat Tasya tidak sepenuhnya mendengar ucapan dari Dave dan membuat Tasya justru semakin mendekatinya. Tentu saja Dave melotot ke arah Tasya.


"Stop! Siapa kamu, kenapa berada di sini?"


Baru saja mendapatkan kesadaran Dave rupanya membuat ulah. Meskipun begitu Tasya meneguhkan hatinya agar tidak membuat Dave takut akan kehadirannya kembali.


"Hai, Om. Kenalin nama saya Tasya Matteo, bisa dipanggil Tasya saja."


"Lalu siap kamu?"


"Sa-saya calon istri Om, masa om lupa?"


"Calon istri? Kenapa harus calon istri. Saya kan mau masuk sekolah masa sudah mempunyai istri!" tolak Dave tegas.

__ADS_1


Sakit rasanya tidak mendapatkan pengakuan dari kekasih hatinya, membuat Tasya berpura-pura tersenyum meski perih. Penolakan Dave semakin sempurna ketika dokter yang merawat saat ini adalah teman spesialnya saat kuliah.


Dokter Prisil masuk dan tersenyum ke arah Dave. "Selamat pagi, syukurlah jika kamu sudah siuman."


"Selamat pagi dokter," sapa Tasya ramah.


Bukannya menyapa, Dave justru terlihat senang melihat dokter Prisil masuk ke dalam ruang rawatnya.


"Prisil, kamu Prisillia Suherman, bukan?"


Dokter Prisil mengangguk sambil tersenyum ramah. "Iya, ini saya. Bagaimana apakah masih ada keluhan?"


"Tidak, sama sekali tidak." Sorot mata Dave yang semula lembut kini berganti tajam menusuk ketika menatap Tasya.


Meski merasa ada kejanggalan, tetapi Tasya masih berpikir logis dan positif. Setidaknya bisa menatap Dave dan memastikan keadaannya sudah selamat dari masa kritis membuat kebahagiaan Tasya semakin berlipat.


Baru beberapa detik merasa bahagia semuanya hancur ketika mendapati penolakan dari Dave begitu tegas dan lugas.


"Dok, saya merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu. Apalagi ia mengaku sebagai calon istri saya. Padahal kita kan masih kuliah dan jujur aku lom ada niatan untuk menikah."


Mendengar ucapan tegas dari Dave semakin membuat ia tidak kuasa menahan air matanya. "Apakah arti hadirku sama sekali tidak berarti untukmu, Om? Kalau begitu, sebaiknya aku pergi."

__ADS_1


Tasya bergegas keluar dari ruang rawat Dave karena merasa kedua matanya sudah sangat panas. Air matanya hendak terjatuh karena terlalu deras debit airnya. Tasya memilih menumpahkan air matanya di dalam toilet dan menghindari kejaran Alvino.


Meksipun cintanya ditolak secara tidak langsung, Alvino menerima kekalahannya. Akan tetapi saat melihat Tasya menangis, ternyata hatinya ikut menangis. "Begitu berartinya lelaki tua itu di matamu, Sya. Bahkan sampai kehadiranku kau abaikan."


Sementara itu di ruang rawat Dave, dokter Prisil mencubit lengan Dave. "Sudah puas sandiwaranya? Tega kamu ya, Dave! Bikin gadis semanis itu menangis!"


Dave menghela nafasnya dalam-dalam sambil membuang muka. "Mau bagaimana lagi, soalnya gue gemes sama sikapnya yang tidak pernah mengaku jika sudah jatuh cinta padaku."


"Kamu yang bodoh! Cewek semanis itu tidak akan pergi begitu saja tanpa ada sebuah alasan. Mungkin kamu pernah melukai hatinya secara tidak langsung?"


"Justru aku selalu menjaga hatinya, tetapi dia membuatku marah karena tiba-tiba pergi."


Sejak masa kuliah, dokter Prisil hanyalah sahabat Dave. Apalagi dokter muda itu adalah calon penasehat terbaik untuknya. Dokter Prisil selalu melibatkan Dave dalam setiap urusan sehingga di kampus beredar kabar jika keduanya menjalin kasih. Padahal kenyataannya tidak demikian.


Hubungan mereka sangat dekat, tetapi hanya sebatas sahabat. Tidak lebih dan tidak kurang. Dave selalu memposisikan dirinya sebagai kakak kelas yang mengayomi.


Meskipun Dave terlihat ganteng, tetapi saat ini justru sebaliknya. Di saat teman sebayanya terlihat tua dan keriput, Dave sama sekali tidak terlihat seperti itu. Ia semakin terlihat tampan dan mempesona.


"Lalu apa yang sekiranya membuat ia sadar jika tidak ada wanita selain dirinya?" tanya Dave tiba-tiba.


"Kalau soal hal itu sebaiknya kamu konsultasi dengan suamiku."

__ADS_1


"Apa! Suami ...."


__ADS_2