Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 14. KEBAHAGIAAN TASYA


__ADS_3

Terluka akibat sebuah rasa trauma membuat seseorang tidak pernah bisa menjadi sama. Bahkan bisa menjadi seperti orang lain. Di tambah lagi tidak ada pendamping yang menemani sehingga justru semakin terpuruk.


"Bagaimana, apakah kau mendapatkan kebahagiaan setelah melakukan semua ini?"


"Tentu, dia yang membuatku seperti ini, dia pula yang harus bertanggung jawab."


Dave sama sekali tidak merasa menyakiti Laura. Ia hanya menyalahkan takdir yang telah mempertemukan nasib buruknya bersama dengan Laura. Ia terpaksa menjadi penurut dan harus mengikuti semua perintah yang diberikan oleh kakeknya.


Sehingga Dave sama sekali tidak pernah merasakan kebahagiaan sejak menikah dengan Laura. Beruntung walaupun mereka menikah, keduanya tidak pernah berani menyinggung area privasi masing-masing. Sehingga Laura masih tetap virgin begitu pula dengan Dave yang tetap perjaka.


Hari ini Tasya kembali bekerja seperti biasanya. Kesalahan pahaman yang sebelumnya terjadi sudah dimaafkan oleh atasannya. Bahkan Dave sudah memecatnya.


Sesil yang merupakan teman baru Tasya begitu bahagia mendapatkan kabar jika ia tidak jadi dipecat dan justru atasan mereka yang terkenal dengan sikap garangnya sudah dipecat. Bahkan kali ini mereka saling berbisik satu sama lain untuk membicarakan hal tersebut.


"Syukur deh kalau Loe nggak jadi dipecat. Soalnya kebanyakan orang yang berurusan dengan Bu Dewi itu nggak selamat."


"Masa sih?"


"Iya, katanya sih demi Lo pemilik supermarket kita justru memecat dia."


"Masa?"


"Iya, kalau nggak percaya tanya aja sama yang lain."

__ADS_1


"Oke, tapi kan gue nggak kenal ataupun dekat dengan pemilik supermarket ini?"


"Wah, kalau itu aku nggak tahu. Soalnya pemilik supermarket kita pun merupakan orang baru."


"Apa aku mengenalnya? Kok dia baik banget sama aku?"


"Semoga aja kamu mengenalnya, sehingga akan lebih mudah membalas kebaikannya."


"Semoga saja, Aamiin."


Merasa tidak enak dengan karyawan yang lainnya, Tasya dan Sesil kembali bekerja. Sehingga tidak ada kecurigaan ketika mereka mengobrol di sela-sela jam kerja. Lagi pula Sesil juga tidak ingin berurusan dengan manager mereka yang baru.


Namun, entah mengapa perasaan di hati Tasya berbunga-bunga ketika menyadari ada yang membantunya selama ini. Di sisi lain ia juga penasaran dengan sosok tersebut karena selama ini ia tidak mempunyai teman ataupun sahabat. Bahkan ia tidak mengenal rekan bisnis ayahnya.


"Kira-kira siapa yang selalu membantuku, ya?" gumam Tasya.


"Pagi, Mbak. Tolong totalkan belanjaan saya, ya!"


"Iya, Pak."


Dengan malu-malu Tasya menjumlahkan semua barang yang dibeli Dave. Tidak biasanya Dave muncul sepagi ini. Sehingga hal itu membuat Tasya menerka-nerka apa yang sedang direncanakan Dave.


"Semuanya dua ratus tiga puluh lima ribu, Pak."

__ADS_1


"Oke."


Dave mengeluarkan lembaran uang merah dari dompet dan diserahkan pada Tasya.


"Kembaliannya buat kamu."


"Loh, nggak bisa begitu. Nanti atasan marah apalagi aku barusan aja masuk kembali."


”Kamu takut dengan atasan kamu?"


Tasya mengangguk lalu berbisik, "Katanya atasan yang baru lebih galak!"


Mendengar kata galak tentu saja membuat Dave tergelak. Rupanya hal-hal kecil yang ia dapatkan saat bersama Tasya membuat jiwa mudanya kembali.


Sementara itu Tasya yang melihat Dave tergelak lalu cemberut.


"Dasar Om-Om nggak peka!" omelnya dalam hati.


"Sorry, ya udah kalau kamu nggak mau ya sudah. Sini barang belanjaan saya. Nanti telat diomelin Bos-ku berabe, dong!"


Dave segera meraih barang belanjaan miliknya lalu pergi. Sementara itu Tasya hanya geleng-geleng melihat sikap Dave barusan.


......................

__ADS_1


Selamat siang, mohon maaf karena othor masuk RS jadi up-nya tidak bisa teratur. Nah sambil nunggu up bisa mampir ke karya teman othor ini, ya. Ditunggu 😊



__ADS_2