
Setelah puas memanjakan perut, rupanya Tasya memilih untuk segera pergi dari tempat Alvino berada. Tentu saja mau tidak mau Alvino mengikuti kepergian Tasya.
"Hei, kenapa ninggalin aku seperti ini? Emangnya aku apa'an?" gumamnya kesal.
Secara tidak sengaja kaki Alvino tersandung batu dan menabrak punggung Tasya hingga mereka berdua jatuh terjerembab.
"Argh! Kutu kupret!' ngapain juga pake nindih dia.
"Bengek, bangun!" pekik Tasya kesal karena tubuhnya tertindih tubuh Alvino.
Tentu saja Alvino bergegas bangun dari tubuh Tasya, tidak lupa membantunya untuk bangun dengan segera. Bukannya berterima kasih, Tasya justru langsung memukul tubuh Alvino dengan tas kecil miliknya.
Bagaimana pun Tasya bukanlah cewek manis yang biasa bertingkah manja. Mungkin dulu iya, tetapi sejak ia dikhianati oleh pacarnya ia pun mulai berubah. Bahkan ia sudah tidak menjadi seorang putri yang mudah dibohongi ataupun mudah ditindas lagi.
Maka dari itu Tasya pun tidak segan-segan memukul Alvino yang berbuat salah. Baginya siapa yang bersalah pantas untuk dihukum.
"Awh, sakit dudul! Jangan pukul terus dong. Iya ... iya aku yang salah!" ucap Alvino terus menutupi wajahnya yang sedari tadi menjadi sasaran empuk bagi Tasya.
"Lo emang pantes buat digeprek. Sedari tadi kamu ngeselin, tetapi aku tetap berusaha untuk tetap bertahan dan diam."
__ADS_1
......................
Di sisi lain Laura merasa geram kerena Dave mengingkari perjanjiannya dan lebih memilih untuk memperketat penjagaan untuk dirinya.
Untuk sesaat Laura ingin menggunakan cara kotornya.
"Sial, kalau begini terus bukannya Dave bisa aku dapatkan melainkan justru aku semakin dibuang olehnya."
Laura tampak melemparkan barang-barang yang berada di dalam kamar itu dan membuat kegaduhan. Tentu saja Papa Laura tidak suka akan hal itu dan segera mendatangi kamar Laura.
"Bikin ulah apalagi itu, anak?"
Langkahnya terlihat tanpa ragu dan bergegas. Meskipun ada beberapa hal yang harus dihandle di dalam perusahaan miliknya dengan cepat, tetapi kesehatan mental Laura jauh lebih penting dari apapun.
"Papa ...."
"Ada apa, Nak?"
Laura tampak memeluk lelaki yang sudah membesarkannya selama ini. Tangannya mengusap punggung Laura dan mengecup pucuk kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tampak uring-uringan kembali?"
Laura memasang wajah sendunya lalu berusaha untuk menarik simpati ayahnya dengan sandiwara yang ia buat.
"Pa, aku nggak mau jika Dave justru pergi dan meninggalkan aku sendiri di sini seperti ini. Lebih baik aku yang pergi selama-lamanya."
"Sabar. Papa akan mengurus Dave dengan kedua tangan Papa sendiri."
"Papa janji, 'kan?"
"Iya, Papa janji. Akan tetapi ada satu hal yang ingin Papa sampaikan kepada kamu."
"Apa itu, Pa?"
"Selama Papa tidak berada di sisimu, maka lakukan hal terbaik dan putuskanlah sesuai dengan kepala dingin dan akibat apa yang akan terjadi jika kamu terus melakukannya tanpa sebuah perhitungan."
"Iya, Pa. Laura mengerti."
Setelah itu, Papa Laura menyuruh putrinya untuk minum obat dari dokternya. Belum ada lima menit dari hal itu, ia sekarang justru terlelap dan menutup mata. Obat tidurnya bereaksi dengan cepat.
__ADS_1
"Maafkan Papa, Nak. Sementara waktu ini hanya ini yang bisa Papa lakukan, setidaknya kamu bisa tertidur dengan lelap."
Setelah memastikan putrinya terlelap, ia langsung keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya kembali. Ada banyak hal yang ingin dilakukan agar putrinya bisa kembali sembuh.