
Tidak lama kemudian beberapa pengawal yang diperintahkan oleh ibunda Laura berhasil membuka paksa pintu kamar Laura. Betapa terkejutnya beliau ketika melihat di sudut ruangan terdapat putrinya dengan luka di bagian tangannya.
Terlihat dari salah satu tangannya sudah mengeluarkan cairan kental berwarna merah pekat. Panik, tentu saja. Apalagi Laura merupakan putri satu-satunya. Sehingga ia dijadikan anak emas oleh ibunya.
"Laura ...." jerit ibunya sambil berlari mendekat ke arah putrinya yang tergeletak lemah.
Dengan tangan gemetar, diraihnya tubuh Laura yang ternyata sudah pingsan itu. Bibir Laura berwarna sangat pucat. Cairan kental berwarna merah itu terus mengucur deras dari sumbernya, sehingga membuat ia semakin panik dan histeris.
"Laura bangun, Nak!"
"Jangan tinggalkan Mama dan Papa!"
Tangisnya pecah, sebagai seorang ibu hatinya ikut tersayat ketika melihat pengorbanan putranya sama sekali tidak dihargai. Ingin rasanya ia memutar waktu agar Dave tidak menjadi suami Laura.
"Kebohongan apa lagi yang ingin kamu katakan!" seru Dave pada Laura.
Mendengar jeritan istrinya tentu saja Papa Laura segera berlari keluar kamar. Ia menajamkan pendengarannya untuk memastikan darimana asal suara tersebut.
"Ada apa, Ma?" tanya Papa Laura ikutan panik.
"Laura, Pa. Tolong ...."
Beliau segera meraih tubuh putrinya yang tangannya berlumuran cairan merah pekat.
__ADS_1
"Astaga, cepat gendong dia ke mobil. Kita ke Rumah Sakit, sekarang!"
"Ba-baik, Tuan."
Meskipun dalam keadaan panik, beruntung Papa Laura segera mengambil tindakan awal penyelamatan. Tidak sama seperti istrinya yang cenderung panik dan tidak bisa berpikir jernih.
Tidak berapa lama kemudian, mereka langsung menyelamatkan Laura dengan membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Ibu Laura tampak syok dan masih dalam keadaan menangis ketika dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit.
Sesampainya di sana Laura langsung dilarikan ke Unit Gawat Darurat. Tanpa keluarga itu tahu ternyata Laura berada di Rumah Sakit yang sama dengan yang digunakan Tasya saat ini. Apalagi di dalam kamar perawatan Tasya ada Dave yang setia menunggu gadis yatim piatu itu.
Dokter melihat jika kondisi Laura mengalami luka sayatan yang cukup dalam, sehingga ia harus menjalani sebuah operasi untuk mempercepat penyembuhan luka di tangan Laura. Terlebih lagi barang yang digunakan adalah pecahan kaca yang mungkin saja ada serpihan kaca yang tertinggal di dalam tangannya.
Satu hal lagi yang membuat dokter semakin khawatir adalah cairan kental berwarna merah pekat itu tidak henti-hentinya mengeluarkan darah dan justru lebih terlihat mengalir deras. Sehingga dengan cepat dokter memutuskan untuk segera mengoperasi tangan Laura.
"Bagaimana Tuan dan Nyonya, apakah tindakan awal ini boleh dilakukan atas ijin kalian?"
"Baiklah, tindakan pertama yang harus dilakukan untuk menyelamatkan kondisi Putri Anda adalah dengan mengoperasi luka sayatan di salah satu tangan di pasien."
"Terserah saja dok, kami pasrah jika hal itu memang terbaik maka lakukan saja karena aku yakin Laura pasti akan bisa bertahan," ucap Ibu Laura panik.
Sementara itu Papa Laura cenderung memberikan kode pada dokter agar segera melakukan operasi. Dokter yang tanggap segera bertindak.
Saat Laura harus berjuang di meja operasi sendirian, kini kondisi yang berbanding terbalik sedang terjadi di kamar Tasya. Mantan suaminya itu justru menunggu gadis remaja.
__ADS_1
Dave merasa gatal karena bajunya belum ganti. Oleh karena itu ia pun meminta agar Brodi mengirimkan baju ganti untuknya.
Beruntung ponsel milik Brodi masih bisa dihubungi, sehingga dengan cepat Dave meminta hal itu agar ia bisa dikirim dengan cepat. Sementara itu Tasya merasa risih karena Dave tidak kunjung meninggalkan kamarnya.
"Kok Om masih di sini? Kenapa tidak pulang saja?"
"Sebentar lagi pulang, nunggu Brodi biar jagain kamu."
"Dijagain? Emangnya Tasya anak kecil apa?"
"Ya, biar nggak kabur!" ucap Dave keceplosan.
Sontak saja ia menutup mulutnya dengan cepat. Ia lupa jika harus merahasiakan hal itu. Tasya seolah mengingat sesuatu setelah mendengar ucapan dari Dave.
"Kabur, kok Om bisa kepikiran seperti itu?" tanya Tasya penasaran.
Bagaimana pun Tasya memang pernah kabur satu kali sewaktu ia pernah mengalami tabrak lari. Seharusnya yang mengetahui hal itu hanya dirinya dan pelaku.
Mengingat hal itu seketika Tasya mencurigai jika Dave adalah pelaku saat itu. Sontak ia pun menutup mulutnya seolah tidak percaya dengan ucapan dari Dave barusan.
"Jangan bilang kalau Om adalah ...."
......................
__ADS_1
Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini ya Kak