Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 47. TERLUKA


__ADS_3

"Om Dave!" pekik Tasya histeris melihat seorang yang ia cintai justru terluka karena ingin menyelamatkan dirinya.


Alvino tidak mampu menahan langkah Dita yang sudah berhambur memeluk tubuh Dave yang berlumuran darah. Tangisnya pecah ketika melihat seseorang yang ia cintai saat ini justru pingsan.


"Om, bangun. Iya, Tasya mau pulang sama Om, tapi jangan mati dulu," ucapnya penuh air mata.


Bagaimana pun rasa sakit itu seketika menjalar di dalam dada Tasya dan juga Alvino. Jika Tasya menangisi belahan jiwanya. Alvino meratapi nasibnya yang datang terlambat.


Dari hal itu Alvino bisa menyimpulkan jika lelaki tua di hadapan ini benar-benar seorang yang dicintai oleh Tasya. Ia terlambat beberapa langkah karena mungkin takdirnya yang membawa pertemuan mereka baru terjadi beberapa hari yang lalu.


"Kenapa harus ada cinta ketika luka harus datang bersama masa lalu dan merenggutnya pergi."


Takdir begitu jahat karena membawa Dave lebih dulu datang dan bertemu dengan Tasya .


"Mungkin saja lelaki tua itu jodoh kamu, tetapi selama janur kuning belum melengkung maka masih ada kesempatan, meskipun hanya sebesar biji beras."


Tasya menoleh ke arah Alvino dan meminta bantuan agar ia mau menolong Dave. Rasa iba ketika melihat ada kecelakaan, dengan cepat orang-orang di sekitar trotoar jalan segera memapah Dave dan menaikkannya ke sebuah angkutan kecil agar bisa sampai ke Rumah Sakit dengan cepat.

__ADS_1


Tasya sempat menoleh ke arah Alvino yang terlihat masih terdiam membeku di tempatnya. Sorot mata Tasya begitu kecewa dengan segala sikap Alvino pada Dave. "Kenapa kamu egois, Vin. Harusnya jika kamu benar-benar mencintai aku maka kamu akan bersaing."


Perjalanan ke Rumah Sakit hanya memakan waktu selama dua puluh menit. Alvino yang sadar dengan sikap bodohnya barusan, segera menguatkan hatinya dan menyusul Tasya ke Rumah Sakit terdekat.


"Sya, maafin gue!"


Alvino begitu merutuki nasib dan sikapnya barusan. Brodi yang tadi ijin ke toilet tidak menemukan Dave dan juga Tasya terlihat celingukan.


"Nah, Lo. Dimana Bos dan Nona Muda?"


"Maaf, Pak. Ada apa ya kok berkerumun di sini?"


"Tadi ada kecelakaan tabrak lari, Mas."


"Lah, masa? Kapan?"


"Barusan aja, Mas."

__ADS_1


"Ciri-ciri korbannya seperti apa?"


Hampir saja rahang Brodi terjatuh karena mendengar jika ciri-ciri korban yang disebutkan olehnya sangat mirip dengan Dave. "Astaga, apakah Bos kena tabrak lari?"


Sekilas Brodi bisa melihat jika lelaki yang semula bersama Tasya terlihat naik ojek. Otaknya pun langsung terkoneksi agar bisa segera menyusulnya. "Dia pasti akan menyusul Nona, sebaiknya aku ikuti dia."


"Makasih banyak ya, Pak untuk semua informasinya."


"Sama-sama."


Beruntung ada ojek yang kebetulan baru saja balik dari narik, maka dari itu ia pun berhasil mengejar Alvino. Sementara itu perhatian Alvino tetap pada jalan dan kelilingnya berharap jika terlihat mobil angkutan yang digunakan oleh Tasya tadi.


Di sisi lain, tubuh Dave yang penuh luka segera diambil tindakan di ruang Unit Gawat Darurat. Para tenaga medis bersiap untuk menyelamatkan nyawa Dave. Di luar ruangan Tasya tampak kebingungan karena lampu ruang UGD belum padam, sehingga mulutnya terus komat-kamit membaca doa.


"Tuhan, jangan kau ambil kembali kebahagiaan hamba. Hamba sangat menyukai sosok Dave yang belum sepenuhnya sempurna tetapi justru hati ini semakin tidak rela ketika melihat ia pergi."


Tanpa terasa air matanya luruh dengan sangat lebatnya.

__ADS_1


__ADS_2