Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 32. KELINCI MANIS


__ADS_3

Bagaikan kelinci imut, kini Tasya justru sedang berdiri di depan brankarnya. Ia kebingungan hingga tanpa sadar berjalan mondar-mandir tidak karuan. Dave mengulas senyum menyadari jika Tasya menjadi penurut hari ini.


"Selamat sore, Nona Tasya," sapa Dave ramah.


"So-sore!"


"Akh, Om Dave nyebelin!" pekik Tasya kesal.


Entah mengapa Tasya terlihat menggemaskan saat ia kesal dan menjejak-jejakkan kakinya di lantai karena kesal.


"Katanya ada Brodi yang datang ke sini, kenapa nggak datang? Om bohong, ya?"


Dave mendekati Tasya lalu menggenggam tangannya. "Kenapa, kamu kesepian?"


Tasya menggeleng, ketakutannya bertambah. Apalagi saat bersentuhan dengan tangan Dave ada getaran aneh yang menyelinap di dalam dadanya. Tasya bingung dengan apa yang terjadi, karena semua terasa aneh dan belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Padahal dia sudah pernah pacaran dengan Enzo tetapi entah mengapa sensasinya berbeda. Lebih menantang dan harum tubuh Dave seolah menghipnotis Tasya. Membuat ilusi yang mungkin bisa membuat Tasya hilang kendali.


Sayang, Dave kurang peka dan justru semakin mendekatkan dirinya pada Tasya. Satu langkah mundur dari Tasya mengisyaratkan jika saat ini ia ketakutan dengan sikap Dave yang tiba-tiba romantis.


"Tahu nggak kenapa Brodi nggak jadi ke sini?" bisik Dave tepat di salah satu telinga Tasya.


Tasya menggeleng, tangan Dave terulur untuk menyentuh bibir ranum milik Tasya. Deru nafasnya bahkan bisa dirasakan olehnya. Semakin jantungnya memompa, semakin cepat pula Tasya kehabisan nafas hingga terengah-engah.


Dave mengulum senyumnya ketika Tasya memejamkan matanya. Seolah pasrah dengan tindakan yang akan dilakukan oleh Dave selanjutnya.

__ADS_1


"Dia lagi menemani calon istrinya yang lagi datang bulan. Biasanya dia akan selalu setia selama 24 jam sampai calon istrinya tidak kesakitan lagi."


"Keren!" ucap Tasya spontan.


Tasya mendorong tubuh Dave lalu ia menatap ke arah lain. Begitu pula dengan Dave. Senyum yang sempat tersungging kini semakin terlihat menghiasi wajah tampan Dave.


Takut ia akan khilaf maka Dave segera berbalik. Detak jantungnya tidak beraturan sehingga semakin membuat Dave hampir hilang kendali.


"Sial, bibir ranumnya begitu menggoda. Bagaimana dengan bagian yang lainnya. Oh, astaga Tuhan apa yang aku pikirkan barusan!"


Sama seperti Dave, Tasya juga berpikiran yang tidak-tidak.


"Belum sempat terjadi aja sensasinya udah kayak gini, gimana kalau tadi sempat cii ...." Tasya hampir terjingkat ketika Dave tiba-tiba menepuk bahunya.


Tasya menoleh, "Ada apa lagi, Om Dave?"


"Makasih."


Akhirnya setelah semua proses diselesaikan oleh Dave, kini mereka berdua segera menuju ke tempat parkir. Dibukakan pintu oleh Dave membuat Tasya semakin mencintainya. Tanpa ia sadari perasaan itu tumbuh secara alami.


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan sama sekali. Diamnya Tasya bukan berarti ia tidak suka di jemput oleh Dave. Akan tetapi lebih kepada ia menjadi kicep sejak Dave bersikap semi romantis seperti tadi.


Empat puluh menit akhirnya berlalu, tujuan kedatangan mereka adalah di salah satu rumah


mewah berwarna putih. Membuat siapa saja yang tinggal di sana harusnya sangat betah.

__ADS_1


"Sudah sampai, boleh Om masuk?"


Tasya mengangguk lalu berjalan di depan Dave. Ia tidak membiarkan Dave berjalan berdampingan untuk bersamanya.


"Rumah yang bagus, sama seperti pemiliknya yang sangat cantik," puji Dave pada Tasya.


"Hm, tolong jaga hatiku, jangan biarkan ia jatuh cinta sebelum waktunya tiba," doa Tasya di dalam hatinya


Sangat disayangkan jika Tasya sangat takut jatuh cinta karena ia tidak mau disakiti lagi. Hatinya belum sembuh dari luka akibat pengkhianatan yang dilakukan Enzo dan Karen.


"Sya, kok kamu diem? Nggak suka, ya?"


"Eh, lupa ini rumah siapa?"


"Kenapa aku yang jalan duluan, nggak sopan ya aku?"


"Enggak, lagi pula kalau kamu mau silakan saja ambil. Toh rumahku masih banyak, kok."


"Sombong," ucap Tasya sambil menyentuhkan siku tangannya tepat pada perut Dave.


"Argh! Sakitttt!"


Dave pun berpura-pura merasakan kesakitan. Sukses hal itu membuat Tasya yang tadinya tidak peduli kini menjadi sangat peduli.


"Syukurlah jika cintaku bersambut," gumam Dave.

__ADS_1


......................


Kira-kira kapan ya, Dave mau mengucapkan isi hatinya secara langsung dengan Tasya?


__ADS_2