
Dave tentu saja mati kutu ketika Tasya memberondong pertanyaan kepadanya tentang siapa Brodi. Apalagi selama ini Dave hanya mengaku sebagai salah satu karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta. Jadi mana mungkin ia mengatakan jika Brodi adalah asisten pribadinya.
"Bagaimana jika Tasya semakin curiga kepadaku?" rutuk Dave di dalam hatinya.
"Semoga saja tidak, Aamiin."
Bukannya semakin mengunyah makanan, Tasya justru semakin memperhatikan Dave dengan seksama. Dave memang telah membagi makanannya dengan Tasya. Akan tetapi itu sudah dengan persetujuan dari dokter.
Tentu saja tatapan Tasya semakin membuat Dave mati kutu di depan Tasya. Padahal jauh sebelum ini Dave selalu percaya diri. Bahkan di depan para pesaing bisnisnya. Akan tetapi cinta mengalahkan segalanya.
Hanya dengan pertanyaan ringan dari Tasya sudah membuatnya seperti ini. Perilaku Dave yang berubah drastis ketika Tasya bertanya membuatnya semakin curiga pada Dave.
"Jangan-jangan Om menyembunyikan sesuatu padaku, ya? Takut ketahuan istrinya atau gimana nih?" tanya Tasya tidak sabar.
Dave sejenak tersedak setelah mendengar ucapan dari Tasya.
"Nih, minum!" ucap Tasya sambil menyodorkan minuman kepada Dave.
"Suapin ...." rengek Dave manja.
"Dih, ogah! Pertanyaan dari gue aja lom Om jawab, loh!"
__ADS_1
Dengan terpaksa Dave meminum air yang diberikan oleh Tasya sendiri. Akan tetapi lagi dan lagi saat menatap Tasya, tiba-tiba saja rasa percaya dirinya luntur sekali lagi.
"Mana mungkin aku mengaku sebagai seorang duda?"
Apalagi saat ini jeda waktu perceraian antara dirinya dan Laura belum ada satu bulan. Di dalam keluarga besarnya juga masih ada pertengkaran, sehingga mau tidak mau Dave harus masih menutupi jati dirinya saat ini.
"Sorry, aku nggak mau kehilangan kamu untuk sekali lagi," cicit Dave di dalam hatinya.
Dave terlalu takut untuk kehilangan lagi. Cukup satu kali ia merasakan hal itu dan jangan sampai terulang kembali, yaitu saat ia kehilangan Chamomile. Maka dari itu Dave berjanji harus lebih pandai lagi dalam mengolah keinginannya.
Terlalu lama menunggu jawaban membuat Tasya semakin tidak sabar. Akhirnya ia mengungkapkan isi hatinya sekali lagi.
"Nah, kan diam. Itu artinya Om menyembunyikan sesuatu dariku, ya kan?"
"Bu-bukan begitu, Sya. Hanya saja saat ini belum waktunya untuk kamu mengetahui semuanya."
"Kenapa begitu? Jangan-jangan apa yang Tasya pikirkan beneran?"
Brodi yang semula ada di depan kamar Tasya masih bisa mendengar percakapan antara Boss dengannya.
"Kayaknya Boss butuh bantuan, nih? Gue harus segera masuk ke dalam untuk memastikan semuanya."
__ADS_1
Tasya membuang muka saat Dave sama sekali tidak memberikan jawaban yang tepat untuknya. Ia merasa seolah sangat terbebani akan hal itu. Saat suasana semakin genting, secara tidak sengaja keduanya spontan menoleh ke arah yang sama saat Brodi membuka pintu kamarnya.
"Maaf mengganggu. Hai Non Tasya, salam kenal saya Brodi."
Brodi tampak mendekatkan dirinya ke arah brankar. Sementara itu Tasya sudah menunggu tujuan Brodi masuk ke kamarnya.
"Saya, hanya orang biasa bagi Tuan Dave. Saya kebetulan pernah ditolong olehnya. Maka dari itu setiap Tuan Dave tertimpa masalah, sebisa mungkin saya berada di sisinya untuk membantu."
"Jujur, saya adalah orang miskin, maka dari itu sebagai balas budi saya mengabdikan diri pada Tuan Dave. Jujur, saya tidak punya uang untuk membeli kebaikan hatinya. Maka dari itu Nona Tasya jangan salah paham akan hal ini."
Huft, terlihat dengan jelas jika saat ini Tasya bisa bernafas dengan lega. Begitu pula dengan Dave.
"Jadi, kamu manggil dia Tuan Dave?"
"Tentu, itu sebagai ungkapan rasa hormat saya kepadanya."
"Oh, oke. Aku bisa menerima hal itu. Akan tetapi masih ada satu hal yang membuatku curiga yaitu kenapa Dave seolah mempunyai istri tetapi ia menyembunyikan hal itu dariku?"
......................
Duarr, hayo kira-kira Dave akan menjawab apa, ya? tunggu kisah selanjutnya hari ini ya. Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini guys.
__ADS_1