
"Kenapa Om terlalu baik kepadaku? Padahal aku sudah menolaknya dan membuat agar Om Dave membenciku. Akan tetapi nyatanya cinta Om terhadapku semakin besar dan sama sekali tidak berkurang," jerit Tasya di dalam hatinya.
Sejenak, Tasya teringat akan ucapan dari mendiang Papanya. "Seorang lelaki yang bisa menghormati, memperlakukan seorang wanita dengan penuh kelembutan adalah seorang lelaki yang patut dipertahankan."
"Seorang wanita itu sesungguhnya sangat lembut dan merupakan tulang rusuk. Jika diperlukan dengan halus dan dilindungi maka akan semakin lembut, tetapi jika diperlakukan dengan kasar maka ia akan patah. Jadi jika kamu sudah menemukan lelaki yang bisa memperlakukan wanita dengan baik dan hormat, maka pertahankan ia."
Setelah mengingat hal itu, maka hati Tasya semakin berdebar dan bingung. "Apakah Om Dave merupakan sosok lelaki yang seperti Papa katakan?"
"Tapi perbedaan usia antara Om Dave dan aku tujuh belas tahun dan bahkan lebih?"
Saat ini Dave memang tidak berada di hadapannya, akan tetapi bayangannya tidak pernah bisa hilang. Makanan yang dibelikan oleh Dave sama sekali juga belum tersentuh.
"Kenapa, kenapa harus Om Dave?"
Tasya mengacak-acak rambutnya hingga seperti kepala singa, Dave yang melihatnya dari kejauhan justru tertawa senang. Baginya apapun tingkah laku Tasya adalah obat pelipur lara di tengah urusan bisnis.
Tasya yang awalnya ingin menikmati makanan itu, justru semakin mendorong piring itu hingga menjauh darinya. Sama halnya dengan Dave yang frustasi karena Tasya terlihat kebingungan. Ingin rasanya merengkuh tubuh gadis itu. Atau setidaknya ia bisa berbagi cerita dan tertawa bersama.
"Tasya, apakah kau masih meragukan cinta dari Om?"
"Kenapa? Apakah karena perbedaan usia kita yang sangat jauh?"
Tasya terlihat menyeka air matanya, lalu setelahnya menutup wajahnya dengan selimut hangat. Daripada ia harus makan, Tasya lebih memilih untuk tidur.
"Siapa tau hangatnya mentari pagi akan mampu menghangatkan jiwa Tasya yang kesepian," ucapnya sebelum tidur.
Dave masih mengamati Tasya dari laptop yang berada di hadapannya. Matanya tidak pernah beralih dari sana sebelum memastikan Tasya tertidur.
Setelah cukup lama mengawasi Tasya, dan melihatnya tertidur. Kini Dave mengganti pekerjaannya dengan menyelesaikan beberapa dokumen yang sempat ia tinggal beberapa hari ini. Bahkan terkesan tanpa tersentuh olehnya.
Namun, meskipun begitu tetap ada Brodi yang selalu bisa menghandle pekerjaannya dari jarak jauh. Sehingga Dave sama sekali tidak pernah kehilangan kesempatan ataupun peluang emasnya.
__ADS_1
Melihat kedamaian di depan matanya sungguh membuat hati Dave senang. Andaikan Tasya bisa menerima dirinya, sudah pasti Dave akan sangat bahagia.
"Semoga kau akan melihat bagaimana diriku sangat mencintaimu, Tasya. I love you."
......................
Hari berlalu dengan cepatnya, bahkan Tasya dan Dave sama sekali tidak pernah bertemu selama beberapa hari ini. Meskipun Tasya tinggal di rumah yang sudah diberikan oleh Dave, setiap harinya ia tetap bekerja di minimarket.
Lala bahkan sangat suka sekali berkunjung ke sana. Meski awalnya hubungan persahabatan mereka sempat retak karena Karen, akan tetapi saat ini hubungan mereka tetap baik-baik saja.
"Sya, gue minta maaf ya karena dulu gue pernah menjauh dari Lo sama Raya."
"It's oke. Gue nggak apa-apa, kok. Sans aja. Lagi pula saat ini kita masih temenan, 'kan?"
"Benar, oh ya maaf karena selama ini gue nggak bisa bantu Lo. Justru saat Lo butuh bantuan gue malah menghindar. Oh, ya di kantor bokap gue ada lowongan kerja, Lo mau nggak?"
Reflek Tasya menggeleng, ia lebih nyaman bekerja sebagai kasir. Lagi pula dari tempat itulah ia semakin dekat dengan Om Dave.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Secara tiba-tiba saja ada dua buah ice cream yang hadir di depan Tasya dan Lala. Sontak kedua remaja tadi menoleh ke arah sosok yang memberikan ice cream itu.
"Om, ada di sini?"
Dave mengulas senyumnya lebar. Hati Tasya menghangat karena hal kecil. Lalu kedua remaja itu kompak mengucapkan terima kasih. Lala yang sadar posisi segera undur diri karena ingin segera lanjut kuliah.
"Sya, maaf ya gue harus segera balik. Jam dua nanti ada jam mata kuliah," pamit Lala.
"Loh, tadi katanya jamkos. Kok sekarang mau pergi!" protes Tasya dengan wajah cemberut.
Dave menahan senyum, ia tau jika Lala hanya beralasan untuk memberinya waktu agar dirinya dan Tasya bisa saling berduaan. Takut jika Tasya semakin curiga, ia pun segera menunjukkan bukti SMS dari teman kelasnya.
"Tuh kalau kamu nggak percaya. Asdos gue barusan SMS gue buat segera siap-siap kuliah. Katanya Dosen jadi masuk."
__ADS_1
Meski kecewa karena pertemuan mereka hanya sebentar maka ia pun merelakan jika Lala ingin pergi.
"Ya dah, hati-hati ya. Jangan lupa kalau kamu senggang maen aja ke sini. Jam istirahatnya lama kok dari jam satu sampai jam tiga sore."
"Oke, kalau begitu gue pamit dulu. Bye Sya dan Om."
"Bye."
Sepeninggal Lala, kini pasangan sejoli beda usia itu saling terdiam. Sama sekali tidak ada pembicaraan satu sama lain. Rasanya begitu asing ketika keduanya hanya diam sambil memakan ice cream.
"Masih marah sama Om, Sya? Beneran nggak dikasih kesempatan, nih?"
Tasya tampak menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Berulang kali hingga Dave menyadari jika Tasya grogi.
"Harus di jawab ya, Om?"
"Wajib."
"Ya sudah. Aku menerima kehadiran Om, tetapi hanya sebagai teman dekat."
"Sungguh? Apapun keputusan kamu, Om senang banget. Tapi bisa nggak saat kita bersama kamu manggil Dave aja jangan pake Om."
Tasya menoleh sambil mengernyitkan dahinya. "Kenapa, takut tua?"
Dave tergelak dengan pertanyaan menohok dari Tasya.
"Benar, Om tua dan kamu masih muda. Makanya nikah yuk!"
"Om Dave!" pekik Tasya kesal sambil memukul-mukulnya bahu Dave.
"Nyebelin tapi suka, 'kan?"
__ADS_1
"Bodo!"