Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 12. SISI LAIN DAVE


__ADS_3

Kebersamaan Tasya dengan Dave terendus oleh Albert yang notabene paman Tasya.


"Sejak kapan kau mengetahui jika Tasya dekat dengan Tuan Dave?"


"Baru beberapa hari yang lalu, Tuan. Akan tetapi dari penuturan orang yang aku suruh rupanya banyak hal sudah terjadi di antara mereka."


"Benarkah?"


Orang suruhan Albert memperlihatkan beberapa lembar foto yang diberikan kepada atasannya itu.


"Rupanya banyak hal yang tidak terduga. Mungkin saja setelah ini Karen akan memilih untuk tidak menyakiti Tasya lagi."


Bagaimana pun Dave bukanlah orang yang mudah disentuh. Banyak bisnis yang ia pegang dan semuanya sukses.


"Kalau begitu sebaiknya kau mempercepat proses pendidikan Tasya ke luar negeri!"


"Baik, Tuan."


Merasa jika dirinya bisa mendapat masalah jika bersinggungan dengan Dave, Albert lebih memilih untuk tidak ikut serta atau menyinggung Tasya.


Semua rencana Karen bisa saja berhasil tetapi efeknya bisa membuat bisnis yang dipegangnya hancur lebur.


Di sisi lain, Karen uring-uringan karena melihat jika ayahnya mempercepat proses kepergiannya ke luar negeri.


"Kenapa aku merasa jika Papa sengaja melakukan hal ini, entah karena alasan apa."


Lala yang notabene selalu bersama Karen menoleh, "Kenapa?"

__ADS_1


"Bokap mempercepat jadwal kepergian gue ke Inggris."


"Lah, bukannya itu enak?"


"Tapi gue masih belum puas buat menyiksa Tasya!" ucapnya penuh dengan amarah.


Lala hanya bisa membuang kasar nafasnya. Ia merasa gagal melindungi Tasya. Sejujurnya ia, Tasya dan Raya bersahabat. Meski Raya tidak satu level dengannya tetapi Tasya tidak pernah keberatan akan hal itu.


"Bagiku, Tasya bukankah sebuah alasan untuk tetap tinggal. Lagi pula Enzo sudah berhasil kurebut, jadi buat apa lagi menyiksanya."


"Betul, aku setuju denganmu!" ucap Lala mengompori Karen agar cepat pergi.


Ia begitu lelah harus terus menerus bersikap jahat pada Tasya. Jika bukan karena uang mana mau Lala bersahabat dengannya.


"Jika ingin mendapatkan cinta sejati seharusnya kamu tidak berbuat licik pada Tasya dengan merebut Enzo darinya."


Raya bersikap seperti seolah tidak mengenal Tasya. Di sisi lain, Raya masih mengawasi Tasya dari kejauhan.


"Bersikap biasa tetapi harus terus menjaga keselamatanmu, hm ... orang kaya memang aneh."


Meskipun begitu Tasya tidak pernah membenci Raya maupun Lala, baginya mereka sahabat sejati. Penuh dengan berbagai ujian yang seolah membuat siapapun enggan berteman bahkan sampai bersahabat, tetapi tidak dengan Tasya. Mungkin itulah yang membuat Tasya berbeda dari kebanyakan anak orang kaya.


Di dalam kamarnya, Dave masih sibuk berkutat dengan laptop. Sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Laura yang sudah ia jatuhi talak.


"Hidup memang sangat adil, ada banyak hal yang terjadi jika kita bisa terlepas dari sebuah beban masa lalu."


Di sisi lain, Laura masih enggan keluar dari kamar. Ia lebih memilih untuk tidak pergi keluar meski hanya untuk makan. Hanya asistennya saja yang kebingungan karena tidak bisa menjangkau Nyonya Muda-nya.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Harusnya tidak ada yang berbuat jahat pada Nyonya, bukan?"


Pikiran buruk semakin berkecamuk hingga membuat Jia segera naik menyusul Nyonya Mudanya. Saat Jia hendak naik kebetulan ia berpapasan dengan Dave.


"Mau kemana kau?"


"Ma-mau melihat keadaan Nyonya, Tuan."


"Nyonya baik-baik saja, sebaiknya kau pergi!"


Jika menunduk lalu permisi. Lebih baik ia tidak berurusan dengan Dave dan kembali pulang. Baginya Dave begitu menakutkan sehingga jarang sekali ia berani bertemu atau sekedar menyapanya.


"Ya sudah, lebih baik aku pergi pulang daripada di sini. Semoga Nyonya Muda baik-baik saja, Aamiin."


Tidak berlangsung lama kemudian Laura keluar dari kamar. Matanya masih sembab, keadaannya benar-benar kacau sehingga membuat siapapun tidak bisa menahan rasa harunya.


Akan tetapi Dave berbeda, ia sama sekali tidak pernah merasa berbelas kasihan pada Laura. Baginya pernikahan mereka bukanlah sebuah hal yang membuatnya bahagia. Dave lebih berbahagia ketika bersama Tasya.


Meskipun tidak berhasil mendapatkan Chamomile tetapi setidaknya ia bisa mendapatkan putrinya. Bukankah itu sama saja bukan?


Gila, adalah hal yang wajar disematkan pada pemikiran Dave. Baginya tidak ada hal yang lebih istimewa lagi selain Tasya dan bisnisnya.


Lalu apakah Tasya akan memberikan cintanya pada Dave, secepat itukah rasa sakit hatinya terobati? Entahlah hanya Tuhan yang tahu


......................


Sambil nunggu up jangan lupa mampir ya.

__ADS_1



__ADS_2