
Merasa jika dirinya sudah baik-baik saja Tasya mencoba berjalan keluar dari kamar perawatannya. Lagi pula nanti sore ia sudah diperbolehkan pulang.
"Hm, sepertinya pergi untuk sementara waktu tidak mengapa bukan? Lagi pula aku juga tidak mau berniat kabur," gumam Tasya sambil berjalan keluar.
Meskipun ia berjalan dengan sangat perlahan, tetapi nyatanya Tasya mampu berjalan sekitar beberapa meter. Beranggapan jika suster dan dokter telah mengizinkan dirinya untuk pergi berjalan-jalan membuat Tasya semakin interest akan hal ini.
Awalnya Tasya hanya berjalan santai, hingga tidak secara samar-samar, ia mendengar pertengkaran dari lorong sebelah. Rasa penasaran yang begitu tinggi, membuat Tasya akhirnya mengikuti sumber suara tersebut dan ternyata ia begitu tercengang ketika melihat Dave dimaki-maki oleh seorang wanita tua.
"Om Dave? kenapa ada di sana?"
"Wah, ada pertunjukan seru, nih kayaknya."
Entah mengapa langkahnya menuntunnya untuk segera menghampiri Dave. Akan tetapi niat itu segera diurungkan karena melihat ada sosok yang dia benci.
Terlihat dari kejauhan lelaki sombong yang telah merebut semua hartanya. Rupanya ada Tuan Albert yang datang mengunjungi Laura.
Ada banyak pertanyaan yang hinggap di kepala Tasya tentang apa hubungan antara Albert dengan Dave. Kenapa mereka seolah mengisyaratkan ada aura permusuhan.
Padahal sebelumnya Tuan Albert mendengar kabar jika keponakannya itu masuk Rumah Sakit karena ulah Dave. Maka untuk memastikan kebenarannya, Tuan Albert datang ke tempat itu.
"Kenapa orang tua ini datang kemari? Oh, astaga aku lupa jika dia adalah paman dari Laura yang sangat menyayangi keponakannya itu."
__ADS_1
Seketika tatapan sinis diberikan kepadanya karena melihat ada pertengkaran di sana.
"Cih, dasar menantu tidak berguna, pantas aja Laura sampai tertekan seperti ini," gumam Albert di dalam hatinya.
Akan tetapi hal itu sama sekali tidak mengurangi rasa bencinya pada Dave, bahkan justru lebih bertambah. Begitu pula dengan Dave yang tidak suka kepada Albert.
"Semoga saja usianya tidak panjang lagi. Bertemu dengannya harus meningkatkan rasa percaya diri agar tidak terinjak oleh harga dirinya yang tinggi meskipun itu berasal dari hutang piutang."
Ingin rasanya Tasya membela Dave. Akan tetapi, ia tidak tahu duduk permasalahannya dan takut jika ikut tercampur justru akan memperkeruh keadaan. Secara tidak sadar Dave menoleh ke arah keberadaan Tasya.
"Ada Tasya di sini? Kenapa dia keluar kamar? Apakah mau melarikan diri lagi?" tanya Dave cemas di dalam hatinya.
Entah mengapa Dave bisa melihat jika ada sosok Tasya yang berdiri di ujung lorong dan memandang ke arah dirinya. Tentu saja pikiran Dave menjadi berkecamuk.
"Kenapa Brodi nggak datang-datang?"
Niat hati ia ingin meninggalkan Brodi di sana. Agar bisa mengurus Tasya saat ditinggal bekerja. Lagi pula Tasya juga sudah lebih dekat dengannya, sehingga tidak mungkin juga ia bertambah curiga terhadapnya.
Meskipun begitu banyak sekali umpatan yang didapatkan Dave dari mantan mertuanya tersebut, tetapi ia sudah mengabaikannya. Baginya umpatan bukanlah hal yang perlu dipikirkan karena tidak akan pernah bisa membangun mental kita.
Dave sungguh tidak suka akan sikap keluarga Laura karena mereka sikapnya selalu berubah. Awalnya bersikap lembut, tetapi kini menjadi lebih kasar. Kebanyakan sikap mereka suka membanding-bandingkan dan Dave tidak suka itu.
__ADS_1
Saat ini,Ibu mertuanya justru membandingkan dirinya dengan suaminya yang dinilai lebih bertanggung jawab daripada dirinya. Tentu saja Dave tidak bisa berkata apapun.
Diliriknya jam tangan yang berada di pergelangan tangan. Nyatanya waktu sudah menunjukkan waktu hampir mendekati pukul 10.00 siang dan sebentar lagi ia akan mengadakan meeting dengan beberapa kolega bisnis yang baru saja datang dari luar negeri.
Salah satu cara untuk memutus perdebatan itu, adalah ia harus bisa mengambil hati mantan mertuanya tersebut.
"Maaf, Nyonya. Kalau Nyonya benar-benar merasa kesal terhadapku, "Kenapa tidak sebaiknya saja Nyonya meminta pertemuan denganku. Sehingga Anda bisa lebih bebas untuk menghinaku di sana."
"Bukan di tempat umum seperti ini, karena seseorang yang berpendidikan tidak akan mempermalukan dirinya sendiri di depan umum."
Ucapan dari Dave sontak membuat wajah mertuanya menjadi merah padam. Mantan mertua yang tersebut ia tidak sadar jika mereka mengumpat di lorong Rumah Sakit dan hal itu bisa saja mencoreng nama baik keluarganya.
"Maaf, aku tidak bisa mengontrol emosiku."
"Kalau memang mau boleh kita mengobrol lain kali."
Hingga akhirnya wanita tersebut setuju dengan usulan yang diberikan oleh Dave. Jika nanti ia akan kembali lagi dan mungkin saja akan mengeluarkan segala keberatannya dengan Dave secara pribadi.
"Sudahlah, kalau kau ingin membantu keluarga. Maka percayalah jalan Tuhan sangat nyata."
"Aamiin."
__ADS_1
Dari kejauhan Tasya bisa bernafas lega karena Dave sudah pergi dari sana.
"Syukurlah Om sudah pergi, semoga tidak bertemu lagi dengan orang jahat, Aamiin."