Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 6. KAU MEMBUATKU GILA


__ADS_3

Di sisi lain di dalam rumah Laura sedang menyempatkan waktunya untuk bersama dengan Dave. Laura bahkan sudah mematut dirinya di depan cermin selama beberapa jam demi memastikan tidak ada cacat di dalam dirinya.


Parfum favorit Dave tidak lupa ia semprotkan pada tubuh Laura. Busana yang dipakai olehnya pun sangat feminim, dengan aksen terbuka di bagian lengan seolah memperlihatkan jika dirinya memang sangat ingin bermanja dengan suaminya, Dave.


"Sayang, tunggu aku. Hari ini aku akan memperbaiki hubungan kita dan mempersembahkan sebuah hal yang sangat diimpikan di dalam sebuah pernikahan."


Laura sangat berharap jika Dave meluangkan waktunya saat ini. Apalagi ada undangan khusus dari teman-teman sosialitanya agar mengajak Dave ikut serta.


Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, detak jantung Laura semakin berdebar kencang. Laura segera membalikkan tubuhnya dan menyusul sang suami di walking closed.


Laura begitu bahagia bisa berdekatan dengan suaminya pagi itu. Dave seolah sedang memanjakan kedua mata Laura dengan keindahan tubuhnya yang atletis.


"Dave Sayang ...." sapa Laura dengan suara mendayu.


Akan tetapi Dave sama sekali tidak tertarik dengan panggilan istrinya. Ia justru mempercepat memakai busana agar segera bisa terlepas dari istrinya itu.


"Dave ...."


Niat hatinya ia ingin bermanja dengan suami, tetapi apa daya rupanya Dave masih bersikap sama, dingin dan anti wanita. Laura bahkan sampai beberapa kali membuang nafas karena kesal dengan sikap suaminya itu.


"Sampai kapan kau akan bersikap seperti itu Mas aku tidak tahu apakah aku mampu bertahan seperti ini terus atau tidak," gumam Laura dari kejauhan.


Dia sudah mengetahui jika istrinya bersandar di sisi almari untuk melihatnya. Akan tetapi ia tidak mempunyai niatan sama sekali untuk menyapa ataupun sekedar bersinggungan dengannya. Tidak ingin suasana semakin mencekam, ia pun menyapa suaminya.


"Mas, hari ini nggak ngantor, 'kan?" tanya istri Dave sambil bergelayut manja di tubuh Dave yang sedang memakai pakaian kerja.


Tanpa menoleh, Dave menjawab pertanyaan dari istrinya itu.


"Tentu ngantor, memangnya kenapa harus libur kalau bisa menghasilkan banyak uang."


"Ta-tapi, Mas. Nanti ada arisan sosialita dan mereka mengajak suaminya untuk datang ke sana, masa Mas nggak mau nemenin?"


Dave menatap tajam ke arah Laura.

__ADS_1


"Bukankah kamu suka uang? Kalau iya, kenapa harus ngelarangku buat kerja?"


Jawaban menohok dari Dave seketika membuat Laura melepaskan tangannya dari pundak sang suami.


"Kejam kamu, Mas. Tidak pernah terbesit rasa cintakah untuk diriku ini?"


Bagi Laura menikahi Dave sama saja menikahi batu. Tidak tersentuh sama sekali meski ia tidak memakai pakaian sama sekali. Rasanya Laura sudah kesal dan menyerah dengan semua sikap Dave saat ini.


"Jadi buat apa menikah, bahkan untuk menyentuhmu saja aku harus minta ijin," batin Laura dengan hati yang menjerit.


"Kenapa, ada yang salah dengan ucapan dariku?" tanya Dave sesaat setelah mengetahui jika istrinya bungkam.


Laura hanya bisa terdiam di tempatnya. Ia sama sekali tidak bisa berbuat banyak jika Dave terlanjur kasar seperti itu.


"Dave, tidak bisakah kau mencintaiku? Kenapa kau harus sedingin itu padaku?" tanyanya dalam hati.


Dave sama sekali tidak memperhatikan Laura kembali. Baginya sudah cukup jika saat ini Laura bersabar. Demi membujuknya agar bisa datang ke acara itu, Laura menekan egonya. Sayang, semuanya pupus sudah. Dave sama sekali tidak tersentuh.


Awalnya memang keduanya menikah karena perjodohan, tetapi jauh diluar itu, sesungguhnya Laura sangat mencintai Dave. Sikap dinginnya membuat Laura mengalihkan kejenuhan dengan berkumpul bersama teman-teman sosialitanya.


"Percuma saja berbicara denganmu! Ujung-ujungnya juga bakalan bikin sakit hati!" ucap Laura ketus sambil keluar dari kamar.


Sepertinya kesabaran Laura sudah habis sehingga ia pun melontarkan kata-kata kasar.


Dave memang sengaja bersikap kasar karena selama menikah dengan Laura. Ia sama sekali tidak pernah perhatian padanya.


Semua keperluan diserahkan kepada asisten rumah tangganya. Masih untung Dave tidak menceraikan dirinya. Sayang, sikap Laura juga selalu diatur kedua orang tuanya.


Saat mereka gila harta dan kedudukan, Dave pun dipaksa untuk dijadikan boneka. Sampai akhirnya saat itu ia bertemu dengan Tasya, seorang gadis bau kencur yang bisa membuatnya bersemangat ketika bekerja.


Brodi sang asisten, dipekerjakan khusus untuk mengawasinya selama 24 jam. Berbagai foto berhasil diabadikan olehnya dan selalu dikirim ke Dave. Sama seperti saat ini ketika Dave sedang marah dengan Laura, ia seketika tersenyum melihat foto polos Tasya yang mau pergi bekerja.


"Pokoknya gue harus bisa dekat dengan gadis ini. Harus tahu semua latar belakangnya secepatnya!"

__ADS_1


Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, kini Dave mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Brodi untuk lebih memfokuskan lensa kameranya pada wajah Tasya.


Brodi yang baru saja hendak menyeruput teh manisnya hampir saja tersedak ketika membaca pesan dari Dave.


"Gila! Bos kayaknya benar-benar jatuh cinta nih. Gimana kalau sampai Tuan dan Nyonya Besar tahu?"


Saat ia hendak mengawasi Tasya, secara tidak sengaja ia justru melihat Nyonya Mudanya alias Laura berjalan keluar dari toko tempat kerja Tasya. Kebetulan selain bekerja di bar, Tasya juga bekerja paruh waktu sebagai pelayan di salah satu minimarket.


Secara tidak sengaja, Brodi justru melihat Laura bersama lelaki yang usianya jauh lebih muda darinya. Berjalan mesra menyusuri jalan setapak setelah keluar dari minimarket. Dari cara bercengkrama sepertinya sangat akrab.


"Apa itu juga perlu dilaporkan pada Bos?"


Meski kepalanya menggeleng, rupanya Brodi tetap membidikkan kamera tepat ke arah Laura.


"Maaf Nyonya Bos, saya terpaksa ambil fotonya, siapa tau bisa membantu Tuan Bos."


Sementara itu Tasya terlihat sangat cekatan dan sigap saat bekerja. Namun, beberapa saat kemudian ada keributan di sana. Ada salah seorang pengunjung yang beradu mulut dengan Tasya. Hal itu sukses membuat pengunjung lainnya terganggu. Alhasil Tasya kena marah dari atasannya.


Dengan cepat Brodi menelpon Dave dan melaporkan semuanya.


"Cepat, Carikan pekerjaan di sekitar sana! Kalau nggak mau menerima Tasya, beli sekalian tokonya biar Tasya bisa bekerja di sana tanpa tekanan!"


"Asiap, Bos. Kalau tentang hal itu Brodi jamin beres."


"Bagus, kalau kerjamu bagus, maka jadwal liburan kamu bisa ditambah."


"Benarkah Bos, kalau begitu siap laksanakan!"


Setelah berhasil melaporkan semuanya, Brodi pun menjalankan tugasnya. Sementara itu kedua mata Dave membulat ketika membaca semua data diri Tasya.


"Tasya Matteo? Jadi kau putri dari Matteo Rahardian?"


......................

__ADS_1


Krik .. krik ... kira-kira ada hubungan masa lalu apa ya? Daripada penasaran sambil nunggu up jangan lupa mampir ke karya teman othor dulu ya.



__ADS_2