
Apa yang ditakutkan dan saat ini ternyata menjadi kenyataan karena Tasya sudah melihat semuanya. Akan teetapi Dave juga tidak bisa berbuat banyak apalagi Laura masih saja menempel padanya.
"Laura, bisakah kau menyingkir dariku untuk sementara waktu ?"
"Kenapa? Apa kau keberatan denganku? Bukankah memperbolehkan aku menyentuhmu itu sama saja dengan kau menerimaku?"
"No, aku hanya merasa kasihan saja padamu. Selebihya kau bisa berkaca sendiri.'
Dave segera melepas tautan tangan Laura yang menyentuhnya. Di sisi lain, Tasya sudah mengemasi barang-barangnya. Ia bberniat untuk segera pergi meninggalkan rumah itu beserta kenangan yang ada.
"Mungkin sebaiknya rasa cinta ini jangan pernah ada di dalam sini, karena pada ahirnya justru menyakitiku," ucapnya sambil mengusap foto Dave yang berada di atas nakas.
Entah sejak kapan foto itu berada di sana Tasya juga tidak tahu. Sayang saat ini, Dave berada di tempat lain sehingga tidak bisa melihat jika Tasya pergi.
Suasana sepertinya sangat mendukung saat ini, bahkan saat ia pergi tidak ada tangan yang mencegahnya seperti biasa. Dave seolah melupakan asisten serbagunanya. Sehingga ia justru masuk dalam perangkat Laura.
"Sorry Dave, salah siapa kau membuangku, sehhingga jangan salahkan aku jika nanti aku menghukummu."
__ADS_1
Dengan uang seadanya, Tasya lebih memilih untuk naik ojek online. Kebetulan ia mempunyai aplikasinya.
"Kalau aku sampai kembali lagi ke kost sudah pasti Om Dave akan dengan mudah menemukanku, sebaiknya aku pergi ke luar kota. Masa bodoh dengan pekerjaan lama."
"Ini sesuai aplikasi ya, Mbak ?"
"Iya."
Akhirnya ojek online itu membawa Tasya pergi ke terminal bus antar kota. Tujuan Tasya adalah Jogja. Sebuah tempat yang menurutnya paling aman karena biaya hidupnya lebih murah dan orang-orangnya ramah.
Terdengar kernet mengoarkan nama-nama kota, dan benar saja Tasya segera masuk ke dalam bus.
"Iya Mbak, jurusan Jogja."
Kebimbangan hati Tasya bertambah karena ini pertama kalinya ia pergi sendirian. Mau gimana lagi, karena ia juga hidup sebatang kara.
Di sisi lain, Dave merasa ada yang janggal. Laura begitu penurut hari itu, bahkan ketika Dave menyuruhnya untuk segera pergi dia pun mau.
__ADS_1
Sepeninggal Laura, Dave kembali ke dalam kamarnya. Ia terkejjut dengan kondisi ruang yang sangat sepi. Langkahnya dipercepat sambil memanggil nama Tasya.
"Sya, kamu dimana? Sya, jangan bercanda deh!"'
Setiap kamar yang ia tengok sama sekali tidak menunjukkan keberadaan Tasya, hingga ia menemukan secarik kertas yang tergeletak di atas nakas tepat di bawah bingkai fotonya.
"Terima kasih untuk semua cinta yang pernah Om berikan padaku. Dari hal itu aku banyak belajar. Jika terkadang cinta itu menyakitkan. Saat mulai tumbuh justru ia menemukan fakta jika tempat berlabuhnya aadala sebuah tempat yang sudah diisi oleh hati yang lain."
Dave tertunduk lemas di lantai, ia tahu jika saat ini Tasya sedang salah paham padanya. Akan tetapi ia tidak mau membuat Tasya sampai terluka akibat amukan Laura.
Dave mengusap gusar wajahnya. Ia tidak menyangka jika semuanya justru menjadi runyam seperti ini. Ada banyak cinta yang ingin ia raih bersama Tasya. Akan tetapi sepertinya semua itu akan sulit terlaksana.
Dering ponsel membuat Dave tersadar, ada beberapa laporan masuk kepadanya. Terlihat beberapa proyek yang seharusnya jatuh ke tangannta justru jatuh ke tangan yang salah.
"Sial, sepertinya Laura ingin bermain-main denganku!"
Tangan Dave terlihat mengepal, menhan amarah yang sedang menggebu. Ingin rasanya ia marah dengan keadaan hanya saja semuanya sudah terlambat.
__ADS_1
"Sebelum Tasya ketemu, maka jangan harap aku berlembut hati kepadamu!"