
Dave benar-benar melakukan semua yang dikatakan oleh dokter Pricil. Ia tidak mau lagi kehilangan Tasya. Di tambah lagi saat ini ada Alvino yang berada di sisi Tasya.
Saat ini Tasya terlihat memeluk kedua lututnya. Punggungnya bergetar hebat, Alvino menyadari jika gadis itu sedang menangis.
"Apa tidak sebaiknya aku berdiri di sini saja?" gumam Alvino yang merasa tidak enak hati.
Ia tidak pernah melihat Tasya dalam kondisi seperti ini. "Sepertinya lelaki tua itu memang benar pacar kamu!"
Entah mengapa kalimat itu meluncur begitu saja tanpa rem dari mulut Alvino. Sehingga Tasya segera menghapus jejak air mata di kedua pipinya.
"Vino ... sejak kapan kamu ke sini?"
"Sejak kamu menangis," ucapnya jujur.
"Oh ...."
Kedua mata Tasya masih terlihat merah, tidak ada yang tahu sedalam apa rasa sakit di dalam hatinya. Namun, yang Tasya ketahui adalah ia tidak boleh terlihat lemah lagi saat ini. Hidupnya masih panjang.
Masih banyak hal yang harus ia lakukan untuk membalaskan dendam pada para pelaku pembunuhan kedua orang tuanya. Meskipun jarak mereka cukup jauh, tetapi jika dilihat dari belakang seolah mereka sangat dekat.
Dave yang salah satu tangannya masih tertancap infus berada tidak jauh dari mereka. Di belakangnya ada Brodi yang menemani. Mereka bisa melihat interaksi di antara Tasya dan Alvino.
__ADS_1
"Tasya ... Tasya!" teriak Dave dari tempatnya.
Sontak saja gadis manis imut-imut itu terjingkat dari tempat duduknya. Wajahnya yang masih merah karena selesai menangis mencoba mencari sumber suara.
Tasya mengguncang tubuh Alvino, "Apakah itu benar-benar suara Om Dave? Apakah dia sudah ingat padaku?"
Alvino yang tidak mengetahui permasalahannya hanya bisa mengangguk setuju. "Sepertinya memang iya."
Dave bergegas mendekati Tasya dan meraih gadis itu ke dalam dekapannya. "Maafkan aku, aku sudah ingat semuanya!"
Tasya semula masih ragu, tetapi setelah merasakan kesungguhan dari ucapan Dave hanya akhirnya ia pun membalas pelukan erat darinya. "Om, jahat! Tega mempermainkan perasaan Tasya!"
"Maafkan Om, janji nggak bakal lagi ninggalin Tasya." Tangan Dave mengusap punggung gadis yang masih menangis itu.
Maka dari itu Dave membatalkan aksi pura-pura hilang ingatannya dan lebih memilih untuk segera mencari Tasya dan membawanya kembali ke Jakarta.
Di lain tempat Karen cukup senang karena apa yang menjadi keinginannya terkabul. Setidaknya meski Tasya tidak terluka secara fisik, tetapi hatinya jelas-jelas terluka karena lelaki yang mencintai dirinya masuk Rumah Sakit.
"Selama hidupku, jangan pernah kau merasa bahagia Tasya. Karena apapun itu akan menjadi milikku pada akhirnya, ha ha ha ...."
Gadis itu begitu bahagia melihat saudaranya tersiksa. Entah mengapa sampai saat ini Karen dan keluarganya tidak pernah suka dengan kehadiran Tasya. Maka dari itu berbagai cara dilakukan agar Tasya dan keluarganya hancur.
__ADS_1
Karen tidak tahu jika saat ini ada sosok berpengaruh yang berada di sisinya. Sebentar lagi Dave akan memperistri gadis manis itu. Menurut dokter Pricil tidak ada hal yang lebih berharga kecuali mengikat seorang yang kita cintai dengan tali suci pernikahan. Maka dari itu Dave akan memutuskan status dudanya sebentar lagi.
Tidak mau menunggu lebih lama lagi, dengan kondisi yang belum terlalu pulih, Dave mengungkapan perasaannya.
"Dear Tasya Matteo, gadis tercantik yang pernah membuat aku merasa jatuh cinta lagi. Maukah kau menjadi pendamping hidupku? Menemani hari-hari tuaku dengan penuh cinta. Merajut asa bersama hingga menua. Hingga duduk bersama menikmati senda gurau bersama anak-anak dan cucu-cucu kita nanti?"
Tentu saja wajah Tasya merona, hingga tidak mampu menatap ke dalam manik mata Dave. Bagaimana pun juga Tasya tidak bisa berbohong lagi jika ia memang sudah jatuh cinta pada Dave sejak lelaki tua menyebalkan itu muncul.
Hanya saja terasa aneh karena sejak ia putus dengan kekasihnya, Tasya berjanji tidak akan mau lagi jatuh cinta sebelum balas dendamnya terwujud. Akan tetapi Dave mengajarkan padanya tentang cinta, tanggung jawab, kedewasaan dan menjadi gadis yang tangguh.
Jadi untuk apa lagi Tasya berbohong. Meski awalnya ia nyaman dengan Alvino, tetapi ia yakin itu hanya sebatas teman dan cinta keduanya hanya untuk lelaki tua di hadapannya ini.
"Kok diem? Nggak mau?" tanya Dave mulai khawatir.
Dengan malu-malu dan debaran jantung yang cenat-cenut Tasya pun memberanikan dirinya untuk menjawab lamaran Dave yang sangat sederhana itu.
"Sya ... Tasya, Sayang ... jawab dong?"
Tasya tersenyum lalu menatap Dave dengan penuh cinta. "Om Dave, nikah yuk!"
"Wow, gadisku justru yang melamarku," ucap Dave tidak percaya.
__ADS_1
Namun, senyum keduanya terpancar sempurna hingga Dave pun mengangguk, "Ayo!"