
Melihat Alvino tidak melepaskan bekapan tangannya, maka dengan cepat Tasya menginjak kaki Alvino. Sehingga secara otomatis ia melepas tangannya dari tubuh Tasya.
"Ngeselin!"
"Sorry, Sya ... sorry ...."
"Enak aja sorry, lu kira gue bisa nafas gitu!"
Tasya segera mendorong tubuh Alvino agar menjauh darinya. Ia sama sekali tidak suka berdekatan dengan lelaki itu.
Kali ini Tasya masih terlihat ngos-ngosan. Di tambah lagi Alvino bukannya memberi minum justru meninggalkannya. "Dasar pemuda bengek, awas aja!"
Tasya terlihat bersungut-sungut kali ini. Entah mengapa rasanya ia ingin pergi meninggalkan tempat itu secepatnya. Sejenak kemudian Tasya ingat jika ia masih mengantongi uang hasil ngamen mereka. Tidak lama kemudian ia pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut untuk membeli es.
"Pak, es tehnya satu sama bakso satu, ya."
"Makan di sini?"
"Iya!" jawabnya singkat.
Tidak berapa lama kemudian rupanya makan dan minuman yang telah ia pesan sampai lalu ia pun segera melahapnya hingga tuntas. Bapak tukang baksonya sampai menggeleng-geleng karena heran sama Tasya.
"Kelaparan ya, Non. Kok makannya cepat-cepat."
__ADS_1
Tasya hanya tersenyum melihat hal itu. "Kelaparan sih iya, Pak. Apalagi habis dikejar satpol PP."
"Lah, emangnya kenapa?" tanyanya heran.
"Nggak kenapa-napa, sih. Cuma ngamen aja di perempatan eh tau-tau dikejar gitu aja!"
"Emangnya perempatan mana?"
"Tuh, di sana!"
Ternyata Tasya menunjuk ke titik nol yang berada di selatan Pasar Beringharjo, lalu bapak itu justru tersenyum.
"Kalau daerah situ memang banyak larangannya. Apalagi tempat tersebut pusat kota. Sehingga untuk menambah keselamatan pengguna jalan, polisi membuat kawasan itu steril, jadi nggak ada yang boleh berjualan ataupun ngamen di situ."
"Oh, ya maaf saya nggak tahu!"
"Dimana Tasya saat ini? Apa mungkin dia meninggalkan aku sendirian? Lalu kalau kesasar gimana? Astaga!" pekiknya kesal.
Alvino tampak mengacak-acak rambutnya karena kesal. Baru saja ia mempunyai teman, tetapi sesaat kemudian sudah sendiri lagi.
"Bagaimana ini?"
Tiba-tiba saja ia teringat jika tas dan barang milik Tasya ada di kost, dan mungkin saja saat ini ia sudah berada di sana. Dengan cepat Alvino berlari pergi ke kost dan ternyata benar saat itu Tasya sudah berada di sana.
__ADS_1
"Ya ampun, Sya. Kamu sudah ada di sini, rupanya."
Tasya hanya memamerkan barisan gigi putihnya saja, tanpa menjawab apapun. Sedangkan Alvino kelelahan dan langsung menenggak air mineral yang dibawanya tadi.
"Ngapain ngos-ngosan kayak gitu, emangnya kamu masih dikejar mereka?"
"Enggak sih, gue cuma khawatir aja sama kamu yang tidak kembali ke tempat terakhir kali kita berpisah."
"Sorry, gua hampir mati tadi, makanya pergi beli makan dan minum dan ini uang hasil ngamen tadi dipotong buat aku makan dan minum sisanya ini," ucap Tasya sambil menyerahkan sisa uang yang telah dipakainya tadi.
Alvino melihat uang itu dengan melongo, lalu setelahnya ia mulai menghitungnya. "Padahal tadi uangnya banyak banget, sekarang tinggal sisa segini aja!"
Alvino mengusap gusar wajahnya karena lelah dan kecewa. Ia sama sekali tidak suka dengan sikap Tasya yang tiba-tiba main ambil aja uang hasil ngamennya.
"Harusnya uang ini aku gunakan untuk mencicil bayar kost, tetapi mau tidak mau aku harus bekerja keras lagi setelah ini," ucapnya dalam hati.
Di sisi lain, Tasya hanya melongo sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Alvino. Ia paham apa yang dipikirkan oleh lelaki di hadapannya itu, tetapi mau bagaimana lagi uang simpanan miliknya hampir habis. Sehingga hanya bisa memakai uang tersebut.
Tanpa rasa bersalah Tasya pun pergi ke dalam kost lalu mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Tasya menutup pintunya rapat-rapat lalu menutup tubuhnya dengan selimut.
Alvino hanya bisa menghela nafasnya lalu mengikuti langkah Tasya masuk ke dalam kamar kost miliknya. Menatap langit-langit yang penuh bintang.
"Gue benar-benar jatuh cinta sama kamu, Sya. Buktinya apapun yang kamu lakukan aku hanya bisa diam saja!"
__ADS_1
Setelah berbicara dengan udara, sesaat kemudian Alvino mengikuti Tasya menutup mata. Memasuki dunia mimpi yang begitu indah, yang mungkin saja tidak akan didapatkan di dunia nyata.
Suasana yang nyaman dan dingin membuat mereka terlelap dengan cepat bahkan cuaca di luar sana begitu mendukung. Hujan turun dengan lebatnya membuat siapapun enggan melakukan aktifitas apapun.