Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 23. MENCARI CELAH


__ADS_3

Tertangkap oleh musuh adalah sesuatu yang sangat dihindari oleh Dave. Ia sama sekali tidak ingin tersentuh oleh siapapun. Namun, rupanya keberuntungan salah sasaran.


Orang yang seharusnya dibekuk justru bebas dan kebalikannya dia harus bertekuk lutut pada musuh. Tasya yang sebelumnya pingsan begitu terkejut ketika ada sosok lain di dalam kamar itu.


Sejauh kelopak matanya dilebarkan, hasilnya sama saja, gelap dan ia tetap tidak bisa melihat dengan jelas apa saja yang berada di sekitarnya. Tangannya mencoba memindai sekitar, sampai akhirnya pencariannya berujung pada dada bidang milik Dave.


Setelah beberapa saat pingsan, tentu saja kesadaran Dave mulai kembali. Hingga kedua tangan mereka saling bertemu satu sama lain. Reflek Tasya berteriak.


"Tasya! ini aku Dave."


Mendengar suara yang sangat ia hafal, Tasya segera menghentikan teriakannya.


"Om ganteng!" teriaknya.


Menyadari jika dirinya keceplosan membuat Tasya menutup mulutnya tetapi Dave lebih dulu merengkuh tubuh Tasya dan mengusap kepalanya.


"Kamu kemana aja, kenapa nggak menurut sama ucapan dariku?"


Tersentuh akan ucapan tulus dari Dave membuat Tasya menitikan air mata bahagia. Sudah lama ia tidak pernah merasakan pelukan kasih sayang kecuali dari ayahnya, Tuan Matteo.


Merasa dadanya basah Dave melonggarkan pelukannya. "Kamu menangis? Kenapa?"

__ADS_1


"Maaf, aku rindu pelukan papa, hiks."


"Ya, sudah sini biar aku peluk. Setidaknya bisa memberikan kenyamanan padamu."


Tasya benar-benar meluapkan emosi dan kerinduan pada ayahnya. Bagaimana pun sebelum ini Tasya adalah anak ayahnya. Selalu berada di dalam lindungan Tuan Matteo.


Tasya adalah berlian terindah untuk pernikahan dirinya dengan Ibu Tasya. Tanpa sadar Tasya mengucapkan apa yang menjadi beban di dalam hatinya.


"Jika bukan karena kecelakaan itu, sudah pasti papa dan mama masih bersamaku. Bahkan mungkin saat itu mereka bisa merayakan kelulusanku, hiks."


Dave bisa merasakan betapa Tasya sangat rapuh. Di dalam usia seperti ini seharusnya Tasya masih berada di dalam perlindungan kedua orang tuanya. Akan tetapi memang Dave sudah menyadari jika ada hal yang tidak beres di dalam kematian Chamomile.


Buktinya kasusnya tidak segera dilanjutkan dan justru ditutup dengan cepat. Hingga saat ini pun Tasya masih belum mendapatkan sepeserpun harta warisan Matteo.


Tasya mendongakkan wajahnya lalu mengusap bekas air mata. Entah mengapa detak jantung Tasya terasa bertambah cepat hingga membuatnya salting.


"Kenapa aku merasa jika semuanya tidak baik-baik saja saat ini? Rasa apa ini?" ucap Tasya kebingungan di dalam hatinya.


"Kok nggak jadi tanya? Gelap atau masih meragukan jika ini benar-benar aku?"


"Wkwkwk, sepertinya aku merasa engap jika berlama-lama berada di sini. Apa Om nggak mau mencoba untuk keluar dari sini?"

__ADS_1


"Pengen sih, tapi mana hitam dan putih nggak keliatan jadi mana bisa aku kabur?"


"Betul juga, ya? Entahlah tetapi aku merasa jika seharusnya mau berhasil atau enggak setidaknya kita sudah berusaha."


"Good, aku suka pemikiran mu. Kalau memang enak seperti itu ya sebaiknya kita memang mencoba untuk kabur."


"Oke, mau mencoba dari mana?"


"Terserah, yang penting bisa lebih cepat!"


Dalam kegelapan keduanya mencoba untuk mencari celah agar bisa terbebas dari tempat itu. Sayang, minimnya pencahayaan membuat mereka kesulitan menemukan pintu keluar.


Di saat mereka mulai bergerak rupanya beberapa anak buah Tomy mulai bergerak untuk masuk dan membawa keduanya keluar.


"Stt, ada orang mau masuk!" bisik Dave pada Tasya.


Dalam sekejap keduanya segera menghentikan aktivitas dan menunggu salah satu dari mereka masuk dan bergerak.


......................


Akankah mereka bisa selamat? Tunggu ya, sambil nunggu up jangan lupa mampir ke novel teman othor berikut.

__ADS_1



__ADS_2