Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 9. MENJAGAMU


__ADS_3

"Haruskah ku jujur padamu, jika saat ini aku hanya mencintaimu? Setulus hatiku, sepenuh jiwaku."


"Mungkin aku memang jahat, tetapi aku jahat kepada istriku saja tidak padamu. Jujur aku tidak pernah mencintainya dan aku hanya melakukan pernikahan bisnis," ucap Dave dalam hatinya.


Meskipun begitu, binar kebahagiaan di dalam mata Tasya benar-benar membuat Dave semakin mencintainya. Ditambah lagi tawa renyahTasya seolah menghiasi hari-hari Dave dan membuatnya kian bersemangat.


Awalnya Dave merasa jika cinta sudah mati, ditambah lagi saat ini Dave tidak pernah merasa jika perhatian dari Laura selama pernikahan mereka berlangsung itu tulus dan hanya modus.


Kini saat Tasya bisa bersama Dave meski hanya duduk di taman dan bercerita panjang lebar, ia merasa sedikit beban di hatinya telah berkurang. Setidaknya ada kehangatan keluarga yang dirasakan saat bersama Dave.


"Mungkinkah aku merasa nyaman karena Om Dave bersikap lembut seperti Papa?" tanya Tasya di dalam hatinya.


Tidak terasa matahari telah condong ke barat. Pertanda jika saatnya mereka harus berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.


Merasa hari telah sore, Tasya meminta maaf pada Dave karena telah membuatnya meninggalkan pekerjaan demi menemaninya. Dave bahkan meluangkan waktunya untuk mendengarkan cerita dari Tasya.


Tasya menoleh dan meringis, "Om, maaf ya karena Tasya justru membuat pekerjaan Om di kantor dilupakan."


Dave memamerkan barisan giginya yang putih dan rapi, "No problem. Selama kamu bahagia, itu sudah lebih dari cukup."


"Tapi Tasya merasa tidak enak karena banyak merepotkan Om Dave."


"Sama sekali tidak merepotkan. Sehingga tidak perlu mengatakan terima kasih dan sungkan pada Om. Bukankah kita berteman, jadi lebih baik satu sama lain saling hormat."


Tasya tergelak akan ucapan dari Dave barusan.


"Jangan becanda, Om."

__ADS_1


"Gila, kenapa gue justru nyaman sama Om Dave? Seseorang yang baru gue kenal dan lebih dari sekedar hubungan biasa?"


Tasya merutuki pemikirannya yang terlalu jauh. Kenyamanan yang diberikan Dave benar-benar membuatnya terlena dan jatuh cinta. Akan tetapi untuk mengucapkan hal itu sepertinya sangat tabu.


"Nggak, gue nggak boleh suka sama Om Dave."


Melihat Tasya melamun, Dave melambai-lambaikan tangan ke hadapannya. "Mikirin pacar, atau lagi kangen sama dia?"


"Nggak juga, lagian dia udah punya yang lain."


Tasya pun bangkit dan berjalan menuju mobil milik Dave. Baginya mengungkit masa lalu sama saja mengorek luka di hatinya. Dikhianati pacar dan teman membuatnya sadar, hidup tidak perlu terlalu percaya pada orang.


Semakin kamu dekat dan percaya dengan orang itu sama saja kamu memberikan kesempatan padanya untuk bisa melukaimu, sama seperti yang dilakukan oleh Enzo dan Karen.


Berhubungan di belakang dan justru melukai hatinya. Tasya merutuki sikapnya yang terlalu mudah jatuh cinta pada lelaki. Dirinya yang polos justru dimanfaatkan secara tidak langsung oleh mereka.


"Om, ada apa?"


"Ma-maaf jika ucapanku tadi menyinggung kamu."


Tasya tersenyum, "Nggak apa-apa, lagian sudah biasa kok."


Ucapan sudah biasa membuat Dave terluka. Itu sama saja pengakuan jika sudah seringkali Tasya disakiti oleh pacarnya itu. Pantas saja ia begitu terluka saat Dave menanyakan hal tadi. Namun, apapun itu Dave tidak akan pernah membuat Tasya terluka lagi. Baginya tidak ada sesuatu hal yang boleh menyakiti gadis kecil pujaan hatinya itu.


"Dah, yuk pulang!"


Secara tidak sengaja saat Dave hendak melakukan mobilnya, dari arah berlawanan terlihat mobil milik Laura melintas. Bukan istrinya yang berada di kursi kemudi melainkan seorang lelaki muda.

__ADS_1


Tangan Dave mengepal, "Rupanya lelaki itu yang sudah membuatmu mabuk kepayang. Baiklah jika sudah tepat waktunya maka kau akan kubebaskan."


Perubahan ekspresi Dave yang begitu cepat membuat Tasya tidak berani bertanya-tanya. Baginya itu adalah ranah privasi, jadi tidak sembarangan orang bisa menyentuhnya.


Perjalanan panjang mereka terhenti di sebuah minimarket. Tasya tentu terkejut karena Dave membawanya kembali ke tempat itu.


"Loh, kenapa kembali lagi ke sini? Kirain diantar ke kost?"


"Kamu masuklah dan coba tanya apakah kamu jadi dipecat atau tidak?"


"Wah, Om becanda, ya? Bukankah sudah jelas jika Tasya tadi dipecat dengan cara tidak hormat."


"Sudahlah, coba aja masuk. Siapa tau ada keajaiban."


"Ya, sudah kalau Om maksa."


Dengan cepat Tasya melepas seat belt miliknya dan membuka pintu. Tanpa ragu ia pun masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian Tasya keluar dan bersorak riang.


"Alhamdulillah, gue nggak jadi dipecat. Itu sama saja dengan nasib baik lagi berpihak padaku."


Dave yang melihat Tasya bahagia ikut berbahagia pula untuknya. "Semoga aku bisa selalu menjaga kebahagiaan untukmu, Tasya Matteo. Aamiin."


......................


Semoga saja kisah cinta mereka berujung manis, Aamiin. Oh ya sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini ya.


__ADS_1


__ADS_2