
"Aku apa?" tanya Dave terbata.
"Hiiih, om ini awas saja, ya!"
Tasya begitu kesal terhadap sikap Dave yang seolah selalu saja menyembunyikan sesuatu hal yang berkaitan dengan dirinya. Entah mengapa Tasya sudah bertekad untuk segera mencari tahu hal yang disembunyikan oleh Dave tersebut.
Sementara itu Dave sudah dua kali dibuat mati kutu di depan Tasya. Entah mengapa Tasya selalu saja bisa mengendalikan hatinya. Tidak seperti Laura yang selalu menyebalkan di depan matanya. Mungkin saja perbedaan usia menjadi faktor utama sebagai penentu sikap seorang wanita.
Usia remaja selalu dilibatkan dengan sebuah proses pendewasaan tetapi tidak merubah karakter orang itu sendiri. Sementara itu setelah menjadi dewasa sikap keibuan seorang wanita akan lebih dominan.
Ia juga akan lebih takut kehilangan sesuatu dibandingkan mencari sesuatu yang baru. Terkecuali jika apa yang dijaganya sudah tidak lagi menghargainya maka ia akan pergi.
"Napa liat-liat, sana pergi!"
"Enggak mau, 'kan Brodi belum datang!"
Tasya yang geram dengan sikap Dave segera melempar bantal miliknya. Bukannya mengenai Dave, bantal itu justru mengenai dokter yang mau memeriksa keadaan Tasya.
"Awww!" pekik dokter sambil mengusap kepalanya yang sakit.
"Ups, sorry ... nggak sengaja, dok!" ucap Tasya sambil meminta maaf.
Sementara itu Dave justru tersenyum karena berhasil membuat Tasya melupakan pertanyaan untuknya itu.
"Alhamdulillah, akhirnya semua yang terjadi tidak membuat Tasya terus mendesakku dengan pertanyaan yang sama."
Digaruknya tengkuk yang tidak gatal, Dave yang berhasil menghindar dari amukan Tasya segera bersembunyi di belakang tubuh dokter. Namun, sebelumnya ia sudah menjulurkan lidah untuk mengejek Tasya.
"OMG, Om Dave ternyata cukup menyebalkan!"
"Untung dokternya cakep," ucap Tasya di dalam hati.
Setelah tidak cukup nyeri, Dokter tersebut membetulkan kaca matanya. Lalu berjalan mendekat ke arah Tasya. Tidak lupa ia berdehem terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sepertinya Nona sudah membaik, nanti sore sudah boleh diijinkan pulang."
Tasya meringis menanggapi ucapan dokter. "Terima kasih Pak dokter yang ganteng."
"Hm, ganteng kok dilempar bantal!" sindir dokter muda itu pada Tasya.
"Ya, maaf dok. Niat hati buat nimpuk Om yang berada di belakang dokter itu, Lo."
Sejenak dokter itu menoleh pada Dave lalu segera kembali mengamati Tasya. Melihat tatapan tajam dari dokter, akhirnya Taysa membiarkan dokter itu memeriksa dengan seksama.
"Sesuai dengan ucapan dari saya tadi, nanti sore setelah semua urusan surat dan administrasi selesai maka Nona Tasya Matteo diperbolehkan pulang."
"Siap, Pak dokter. Terima kasih."
"Udah, gitu aja. Gantengnya mana?"
"Makasih Pak dokter yang ganteng."
"Awas aja ketemu lagi, gue bejek!"
Mulut yang mengerucut sembari komat-kamit itu terus saja terbayang di kepala Dave. Entah mengapa pesona Tasya sungguh memporak-porandakan hati Dave.
Kurangnya fokus pada jalan membuat Dave secara tidak sengaja menabrak tubuh mantan mertuanya. Sontak saja tangan Dave dicekal oleh ayah mertuanya hingga membuatnya menoleh.
"Dave? Kau di sini?"
Dave sangat hafal betul suara mertuanya, maka dari itu ia pun menoleh, "Papa?"
Tanpa perlawanan Dave menerima ketika dirinya dipeluk oleh Papa Laura. Ia sama sekali tidak mau membuat keributan di Rumah Sakit. Sehingga ketika melihat mertuanya ia diam saja.
"Kau pasti menghawatirkan kondisi Laura, ayo ikut Papa," ucapnya bersemangat.
Entah mengapa ada rasa tidak suka ketika disebutkan nama Laura. Mungkin saja hati Dave masih merasa tidak terima karena perlakuan Laura selama pernikahan. Sehingga ia lebih banyak diam dan mendengarkan setiap cerita dari ayah mertuanya dengan seksama.
__ADS_1
Hingga langkah mereka berhenti tepat di sebuah ruang rawat. Ibunda Laura terkejut akan kedatangan Dave dan suaminya.
"Pa, untuk apa kau mengajak lelaki brengsek ini? Bukankah Papa tahu yang menyebabkan putri kita terluka adalah dia?"
"Ma, biarlah Dave masuk lebih dulu. Laura pasti akan bahagia."
Mendengar Laura melukai dirinya sendiri membuat Dave yakin jika mantan istrinya itu memang suka membuat sensasi. Buktinya saat ini dia melukai dirinya agar mendapat simpati darinya.
"Maaf, Om. Sepertinya ini diluar kapasitas saya. Maaf, saya sebaiknya pergi."
Belum sempat Dave pergi, sebuah tamparan berhasil mendarat mulus di wajah Dave. Sontak ia terkejut bukan main. Rahangnya mengeras seolah ia ingin sekali menunjukan kebusukan putrinya dibandingkan dirinya sendiri.
"Itu hanyalah sebuah ucapan terima kasih dari Tante karena kau berhasil membuat putri kesayangan Tante terluka bahkan berniat bunuh diri."
Papa Laura memegangi tubuh istrinya takut ia akan berubah kalap lagi.
"Ingat, karma itu ada Dave. Sampai kapanpun kamu mencari seorang istri tidak akan pernah kau dapatkan wanita sebaik Laura."
"Dari kecil di didik agar mendapatkan hal terbaik dalam hidupnya tetapi kau lelaki asing yang justru membuat hidup putriku hancur."
"Sudah, sudahlah, Ma. Ingat ini Rumah Sakit. Semuanya akan melihat kita."
"Diam, kau Pa. Apa kamu tahu jika mantan menantu kita ini orang tersibuk yang sangat susah ditemui, maka jangan salahkan jika tempat ini menjadi saksi bagaimana rasa kecewanya menjadi seorang ibu ketika melihat putrinya sendiri terluka."
Bukannya takut, Dave justru menyunggingkan senyumannya. "Sudah cukup belum, Tante? Kalau belum silahkan Anda lampiaskan semua amarah Anda padaku."
"Dave, kau benar-benar manusia tidak tahu diri!" pekik Ibu Laura kesal.
......................
Kira-kira siapa yang akan menang dalam kesempatan itu? Apakah pandangan orang-orang terhadap Dave nanti akan membuat Tasya bersikap lain? Tunggu kisah kelanjutannya Dave, ya. Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini.
__ADS_1