
"Dave, seharusnya kamu tahu jika seorang wanita sedang marah itu artinya dia memintamu untuk lebih memperhatikan dirinya. Bukannya kamu justru semakin acuh kepadanya."
"Tapi, Ma--"
"Sikap keras kepalamu sungguh membuat teringat akan seseorang."
"Ma, please jangan bahas orang itu saat ini."
"Baiklah, tapi berjanjilah bawa kembali gadis impian kamu. Apapun keadaannya Mama sangat mendukung kamu," ucap beliau sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian, Dave segera memeluk Mamanya. Ia sangat bersyukur karena dengan kedatangannya kepada Mamanya akhirnya ia menemukan titik temu.
Di sisi lain, Tasya sedang mengikuti Alvino dalam mengamen. Ia beberapa kali tampak terpukau akan bait lagu yang dibawakan oleh Alvino.
Mengetahui pujaan hatinya bahagia akan lagu yang ia bawakan membuat hati Alvino menghangat. Tidak ada hal lain yang lebih indah kecuali memikat hati Tasya.
__ADS_1
Bahkan dari beberapa lagu yang dibawakan olehnya membuat Alvino dan Tasya tidak sengaja berduet. Beberapa penonton pun mengikuti lirik lagu yang dibawakan oleh Alvino.
Syair lagu yang dibawakan oleh Alvino adalah "Seberapa pantas" dari band Sheila on seven. Suasana Jogja yang sejuk karena semilirnya angin membuat semuanya terhanyut dalam lirik lagu tersebut.
Setelah beberapa saat kini giliran Tasya untuk membawakan kaleng yang akan digunakan menampung uang dari para penonton. Awalnya baik-baik saja, tetapi sesaat kemudian justru terjadi tindak pelecehan yang dilakukan oleh salah seorang penonton.
"Nona cantik banget, kenapa kamu justru memilih untuk jadi pengamen. Bukankah sebaiknya kamu menjadi istri keduaku saja."
"Eh, astaga! Bapak ngaco, ya? Nggak ingat umur, Pak?"
"Cantik-cantik tapi budek. Kasihan banget, lebih baik kamu belajar lagi di sekolah daripada mengurusi kehidupan orang lain."
Beruntung sebelum ini Tasya sudah belajar beladiri bersama Dave, sehingga di saat genting seperti ini ia dapat menggunakan ilmu bela dirinya dengan baik. Tasya mengarahkan pukulannya tepat di atas dada lelaki yang melecehkannya.
"Argh! Sakit!"
__ADS_1
"To-tolong!"
Alvina yang semula ingin menolong Tasya justru dibuat terpesona akan ilmu beladiri yang dikuasai oleh Tasya. Ia sungguh tidak menyangka jika Tasya bisa beladiri. Meskipun dari luar ia terlihat sangat polos dan lemah, tetapi sebenarnya ia sangat hebat.
Alvino menyunggingkan senyumannya secara sempurna. Kekaguman itu perlahan menumbuhkan rasa yang istimewa di dalam hatinya.
Hanya membutuhkan beberapa menit, akhirnya penjahat itu berhasil kabur dengan babak belur. Sementara itu para penonton memberikan standing aplause untuk Tasya.
Suasana yang semula kondusif kini berubah menenggangkan karena muncul Satpol-PP. Sehingga mau tidak mau Alvino segera menarik tangan Tasya dan membawanya pergi sejauh mungkin.
Tasya yang biasanya energik justru kelelahan, mungkin saja ia sedang kelaparan sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan Alvino kecuali membawanya pergi ke sebuah gang sempit. lalu menghimpitnya seolah mereka sedang memadu kasih.
Satpol PP yang melihatnya hanya bisa memakinya. "Dasar anak muda tidak tahu tempat, kalau saja hari ini bukan memburu penjual asongan yang nakal, sudah pasti kalian akan kami tangkap!"
Sementara Tasya justru engap karena mendapati tangan Alvino yang membekapnya terlalu erat. Kedua natanya melotot tajam, apalagi saat itu ia sedang kelaparan akut.
__ADS_1
"Dudul, kamu mau membunuhku, ya!"
"Sorry, Sya ... tadi--"