
Namanya perasaan cinta memang jahat, bisa tumbuh untuk seseorang yang mungkin saja salah tempat. Saat berdekatan dengan Tasya entah mengapa dia merasakan aura yang begitu besar.
Bahkan sama sekali tidak seperti saat bersama dengan istrinya. Mungkinkah Dave sedang mengalami puber kedua ataukah cinta lama bersemi kembali.
Meski berbeda generasi, rupanya pesona Chamomile menurun pada putri satu-satunya tersebut, yaitu Tasya Matteo. Meskipun garis wajah Tasya lebih mirip kepada ayahnya tetapi senyum, cara pandangnya lebih condong ke Chamomile. Mungkin karena itulah Dave langsung jatuh cinta kepadanya.
"Gila, cinta benar-benar mengalahkan logika. Saat aku ingin melupakan dia, tetapi Tuhan mengirimkan seorang gadis yang sangat mirip dengannya."
Dave tampak asyik memainkan pulpennya. Ada sebuah rasa yang sangat sulit dimengerti oleh logika tetapi sepertinya hatinya menuntun pada sosok yang sama.
Sementara itu, di sisi lain Brodi harus mewancarai manager serta beberapa karyawan minimarket untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Tasya. Sudah pasti hal itu atas perintah Dave. Apalagi tempat itu sudah dibeli terlebih dahulu oleh Dave.
"Semua yang berurusan dengan cinta selalu melibatkan hati, tetapi untuk urusan disuruh kesana kemari, selalu saja gue!" ucap Brodi sambil melajukan sepeda motornya ke arah mini market.
Tugas utama Brodi kali ini adalah untuk membuat Tasya kembali bisa bekerja dengan nyaman di sana. Waktu yang singkat bisa ditempuh Brodi di jam sibuk dengan menggunakan sepeda motor. Kini ia telah sampai di lokasi tujuan.
Brodi turun dari motor dan langsung dipalak preman. Tanpa perlawanan, Brodi hanya mengambilkan uang lalu diberikan pada kang palak!"
"Ingat, jangan sekali-kali ataupun berniat malak orang lagi."
"Kenapa? tanya mereka kompak persis kayak di iklan sabun.
"Karena bekerja yang jujur sudah pasti akan lebih mendapatkan syafaat ketimbang mudharatnya."
"Aamiin."
Di sisi jalan yang lain, Dave sedang berbicara dengan Tasya karena kebetulan ia bisa mengantarkan Tasya pulang ke kost tempat tinggalnya.
"Oh, ya apakah kamu nyaman kerja di minimarket tadi?" tanya Dave di sela-sela menyetir.
Tasya mengangguk sumringah. "Tentu saja, apalagi para karyawan di sana baik semua."
"Oh."
__ADS_1
"Oh, ya Om. Kalau misalkan ada lowongan kerja di kantor milik Om, boleh dong aku masuk kesana."
"Kenapa?" tanya Dave pura-pura heran.
"Karena aku baru saja dipecat, Om. Miris banget kan aku?"
"Ya sudah, kerja di kantorku saja."
"He he he, kan aku baru lulus sekolah, Om. Jadi belum ada pengalaman kerja. Takutnya justru membebani hidup Om nanti."
"Enggak juga sih, kan cuma menghidupi kamu seorang. Sudah pasti lebih dari cukup, kok."
"Kok, gitu. Kan aku bukan istri Om, jadi kenapa mesti tanggung jawab gitu," ucap Tasya malu-malu.
"Akan tetapi semuanya sudah dikatakan, sehingga biarkan dia pergi. Lalu kamu boleh masuk ke kantorku."
Sontak saja hati dan pikirannya sangat bahagia. Sama seperti ketika ia bersama kedua orang tuanya.
"Ya, sudah om lanjut nyetir aja."
"Tapi kenapa Om suka banget deketan aku, jangan-jangan Om naksir aku, ya?"
Hampir saja Dave menginjak rem akibat ucapan Tasya barusan. Ia sama sekali tidak ingin menunjukkan keberadaan Tasya pada istrinya. Justru ingin memisahkan mereka jangan sampai ketemu. Maka dari itu ia memperkejakan Tasya di minimarket miliknya tadi.
Dave yang terpesona akan kecantikan Tasya membuatnya nekad membeli minimarket itu agar Tasya masih tetap bekerja di situ. Ia ingin hal ini disembunyikan agar Tasya nyaman ketika bekerja.
Awalnya Tasya merasa terganggu akan pertemuan tidak sengaja dengan Dave. Akan tetapi setiap ada Dave entah mengapa dirinya baik-baik saja. Ataukah Tasya nyaman karena usia Dave hampir menyamai almarhum papanya.
Sesekali Tasya mencuri pandang ke arah Dave yang sibuk menyetir. "Bukan muda lagi, sih. Akan tetapi entah kenapa selama ada Om Dave rasa nyaman itu hadir sama seperti ketika Papa bersamaku."
Dave yang mengetahui jika Tasya mencuri pandang ke arahnya tersenyum tipis. "Rupanya dia mulai tertarik. Sudahlah Dave, pesonamu memang tidak akan terbantahkan. Setelah Tasya bertekuk lutut padamu, maka segera ceraikan saja Laura."
Dave sama sekali tidak takut jika namanya dicoreng dari daftar ahli waris. Toh dia juga sudah mempunyai perusahaan sendiri tanpa sepengetahuan keluarga besarnya. Dave sudah muak ketika ia terus menerus dijadikan boneka di dalam keluarga besarnya.
__ADS_1
Karen yang mengetahui jika Tasya tidak jadi dipecat begitu kesal. "Emangnya tuh minimarket milik siapa sih, udah gue bikin maslaah sebesar itu tetap saja tidak bisa mengusir Tasya dari sana."
Ibu Karen heran karena putrinya justru uring-uringan. "Bukankah sebentar lagi ia akan menyusul Enzo. Kenapa pula dia justru terlihat tidak baik-baik saja."
"Oke, akan kubuat rencana lain lagi. Setidaknya kamu akan lebih sudah ke depannya."
"Kau tidak akan bisa lepas dariku, Tasya. Apalagi Enzo masih saja memikirkan mu. Jangan harap kau bisa hidup bahagia selama aku masih berada di sini."
Niat hati ingin masuk, tetapi saat melihat amarah di mata Karen, ia pun mengurungkan niatnya.
Di sisi lain, Dave dan Tasya bisa sejenak melepaskan tawa bersama. Beberapa masalah perusahaan dan keluarga yang menghimpit Dave perlahan terasa menguap begitu saja. Apalagi kini Tasya tidak sedingin dulu.
Ia juga lebih akrab dengan Dave. Hanya saja Tasya tidak tahu isi hati Dave yang sebenarnya. Tidak terasa waktu yang mereka habiskan sudah cukup lama. Dering ponsel di saku Dave cukup lama diabaikan olehnya.
Namun, ketika hendak kembali mengantar Tasya pulang ia pun melihat ponselnya. Seketika matanya memicing ketika melihat isi pesan tersebut. Tasya sempat melihat perubahan wajah Dave.
"Ada apa, Om? Istrinya cariin, ya?"
Dave justru tergelak akan ucapan Tasya. "Apa kamu kira aku suami takut istri?"
"Maybe yes, maybe no."
"Dia nggak perduli denganku. Maka dari itu untuk apa perduli sama dia."
"Dih, jahat! Kalau nggak cinta kenapa harus menikah?"
Ucapan yang ringan dari Tasya barusan membuat ulu hati Dave nyeri. Bagaimana pun selama ini dia hanyalah sebuah bidak catur. Bahkan untuk bernafas pun selalu diatur keluarga besarnya. Kehidupannya semakin memuakkan ketika Dave dipaksa menikah untuk memperkuat ikatan bisnis.
Sejak saat itu hati Dave mati rasa. Selama menikah dengan Laura ia sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Bagi Dave itu hukuman karena memaksanya menikah.
Berbagai pertanyaan sering mewarnai kehidupan mereka, tetapi Dave punya sejuta cara untuk membungkam mulut Laura. Ya, sejatinya Dave memang jahat. Akan tetapi itu lebih baik sambil ia menunggu saat yang tepat membawa seorang wanita yang benar-benar dicintai olehnya.
......................
__ADS_1
Romantis, 'kan? Akan tetapi hal itu sangat jahat untuk Laura, mau gimana lagi Dave memang seperti itu. Semoga saja perasaannya membaik. Oh ya sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini ya.