
"Ketepatan waktu yang dibutuhkan untuk sampai disana hanyalah ...." Dave tampak melihat arloji yang menempel di pergelangan tangannya.
Lalu sesaat kemudian ia mulai melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Membelah jalanan di tengah hutan tanpa takut dengan binatang buas yang bisa saja muncul di hadapannya.
Jangankan hewan buas, lalat saja yang menghalangi jalan sudah pasti ia tabrak, kok. Kacamata hitam legam yang menempel di wajah semakin membuat pesona duda tampan satu ini semakin terpancar sempurna.
Ckit
Sebuah mobil Ferrari keluaran terbaru tampak telah berhenti sempurna tepat di pintu gerbang mansion milik Tomy. Dengan penjagaan super ketat sungguh sangat mustahil Dave bisa masuk ke dalamnya.
Beberapa satpam berbisik untuk membicarakan berapa harga mobil yang dipakai oleh Dave.
"Woah, itu 'kan mobil Ferrari terbaru."
"Iya, mobil dengan konsep mewah teratas tahun ini, konon katanya hanya ada tiga dibuat dengan tangan di dunia, dengan harga pasaran lebih dari 500 miliar."
"Bengek! Gila aja kalau cuma tiga biji yang punya. Satu Boss satu Tuan ini, yang satu mana?"
Melihat kedua penjaga justru saling ngobrol bukan menanggapi dirinya, Dave menjadi semakin marah.
__ADS_1
"Hei, stop mengobrol! Cepat katakan pada atasanmu kalau aku ingin masuk saat ini!"
"Emangnya kamu siapa dan ada urusan apa kok mau bertemu dengan Boss?"
"Dave Rahardian ingin bertemu saat ini!"
Mendengar nama Dave tentu saja mereka tahu siapa yang sedang dihadapi saat ini. Salah satu penjaga tersebut akhirnya menjawab ucapan dari Dave.
"Ba-baik, tunggu di sini Tuan."
Dengan cepat ia mengambil alat komunikasi miliknya lalu segera menelpon ke dalam rumah untuk melaporkan jika ada tamu yang tidak diundang memaksa masuk ke dalam.
Melihat ponsel di atas nakas berbunyi membuat Tomy segera melepaskan cengkeraman tangan yang diberikan pada Tasya. Akan tetapi sorot mata tajam diarahkan kepada Tasya agar ia tidak bersuara selama Tomy menelpon.
"Boss, ada tamu tidak diundang sedang berada di depan gerbang. Ia sedari tadi terus memaksa masuk dan mengatakan jika namanya adalah Dave Rahardian."
Senyuman dari Tomy tersungging sempurna melihat hal itu. Entah mengapa rasanya ia sangat ingin mengatakan jika dirinya sedang bersama dan menikmati tubuh Tasya agar Dave semakin murka.
"Berikan alat komunikasi kalian padanya biar aku berbicara langsung dengannya."
__ADS_1
Tomy sengaja tidak mau mengatakan jika dirinya sedang berbicara dengan Dave. Tentu saja dia takut jika Tasya justru histeris dan mampu membuat Dave mengetahui letak kamarnya. Ia sangat yakin jika pemikiran Dave tidak sesederhana itu.
Salah satu pengawal segera memberikan alat komunikasi miliknya pada Dave. "Boss kami ingin berbicara secara langsung pada Anda."
Tasya sudah jengah sedari tadi mulutnya dibekap oleh Tomy sehingga tanpa ia ketahui Tasya sudah bersiap untuk menggigit tangan Tomy.
"Argh!" pekiknya kesal sambil menatap tajam ke arah Tasya.
"Makanya jangan dibungkam dong, 'kan pengap."
Tomy menahan amarah karena Tasya bertindak sesuka hati, maka dari itu hampir aja ia keceplosan jika saja Dave tidak berbicara lebih dulu.
"Jika sampai ada seujung kuku yang terluka maka sudah bisa aku pastikan kamu akan merasakan kehancuran!" ancam Dave tepat pada sasaran.
Tentu saja Tomy tergelak akan ucapan dari Dave barusan, karena bagaimanapun ia memang sedang memancing amarah Dave.
"Oke, kita lihat sampai mana kemarahanmu, Tuan Dave Rahardian."
......................
__ADS_1
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini ya kakak.