Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 28. JANGAN ADA NIATAN LAIN


__ADS_3

"Kenapa Om nggak bisa jawab? Jangan bilang Om deketin aku cuma buat mainan?"


"Bukan begitu Tasya? Kamu nggak ngerti!"


"Ya jelas nggak ngerti lah, 'kan Om nggak ngasih tahu dan membiarkan aku menerka sendiri semua informasi tentang Om."


Tasya masih kekeh dengan opininya. Bahkan ia berpangku tangan sambil membuang muka. Dave hanya mengelus dadanya sambil melirik ke arah Brodi.


"Sorry Boss, tugas gue kayaknya sudah selesai, kalau begitu saya permisi!" ucap Brodi dengan menggunakan bahasa isyarat.


Dave mengangguk dua kali guna mengijinkan Brodi pergi. Akan tetapi sebelum pergi Brodi ingin memastikan jika Tasya tidak membencinya kali ini.


"Maaf, Non Tasya, sepertinya ini sudah larut sehingga saya harus segera pulang."


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya."


"Terima kasih, Non."


Sebagai rasa basa-basi Brodi juga berpamitan pada Dave.


"Tuan Dave, saya permisi dulu. Semoga Tuan dan Nona Tasya segera pulih, Aamiin."


"Hati-hati, ya."


"Siap."


Setelah Brodi pergi, rupanya ketegangan di ruangan itua masih berlanjut. Dave bingung harus memulai bercerita dari mana, sementara itu Tasya semakin tidak nyaman dengan segala bantuan yang sering diberikan padanya oleh Dave.


"Sya, Om mau cerita. Menghadap ke sini dong," pinta Dave dengan lembut.


"Janji nggak bakal bohong, 'kan ceritanya?"


"Iya, udah hadap sini, ya."


"Hm."


Setelah beberapa saat akhirnya Tasya mau menatap Dave kembali dan Dave memasang senyuman mautnya. Ia sama sekali tidak mau jika Tasya marah. Baginya kemarahan Tasya sama saja seperti membuat semangat hidupnya hilang.


"Oke, aku mulai dari sini ya."


"Aku memang pernah menikah, Sya. Akan tetapi pernikahan yang aku jalani gagal dan aku ditipu oleh mantan istriku. Sehingga aku kehilangan pekerjaan dan sekarang hanya menjadi karyawan biasa."


"Serius?"


"Iya. Statusku sekarang adalah duda tanpa anak. Hidup sendirian dan hanya bertemankan sepi."


"Nyebelin, jangan pegang-pegang."


"Oke."


"Jadi, apakah kamu mau menjadi temanku, Sya? Atau justru kamu terganggu dengan statusku?"


"Menurutku tidak, hanya saja aku tidak ingin menjadi pengganggu untuk rumah tangga orang. Jadi kalau hanya sebagai teman, ingat hanya sebagai teman sih nggak apa-apa, asal jangan ada niatan lain."

__ADS_1


"Niatan apa?"


"Mencari istri baru, maybe?"


"Secara ya, Om ganteng, dan mungkin tajir. Mungkin aja 'kan saat ini sedang mencari sugar baby gitu?"


"Kan banyak Om-om yang suka jalan sama cewek tetapi cuma buat simpenan aja."


Dave tergelak akan ucapan jujur Tasya. Baginya sikap unik Tasya memang berbeda. Jauh lebih cerewet dibandingkan dengan Chamomile yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.


Akan tetapi, jauh diluar semuanya Dave selalu menyukai apapun yang dimiliki oleh Tasya. Termasuk sikap tidak gampangan ketika disentuh oleh lelaki.


"Oh, ya. Kalau Om sudah jujur, lalu apakah Om boleh bertanya tentang sesuatu pada kamu?"


Tangan Tasya sontak mengisyaratkan jika ia tidak mau menjawab apapun tentang dirinya.


"No, Om nggak boleh tanya apapun padaku. Ingat kita hanya teman jadi tanyalah hanya sebatas teman jangan melewati privasi seseorang."


"Bukankah kamu baru saja mencari informasi tentang diriku? Apakah itu bukan privasi?"


"Itu karena Om telah banyak berbohong padaku, makanya aku ingin tahu kejujuran Om sampai mana."


"Gini-gini aku nggak mau ya jika ada yang datang trus wanita itu mengataiku sambil bilang gini, hei gadis ingusan beraninya kau bermain cinta dengan suamiku."


"Trus ujung-ujungnya aku dijambak, 'kan nggak seru Om. Malu-maluin banget deh kesannya."


"Ok, aku mengerti."


"Good, dah Tasya ngantuk, Om pulang aja!"


"Iya, lagi pula Om kan punya rumah. Jadi wajar kan kalau aku nyuruh Om pulang?"


"Tapi aku nggak punya tempat untuk tinggal. Pokoknya aku mau jagain kamu semalam ini karena besok pagi aku harus kerja."


"Terserah, tetapi Om bisa melihat sendiri dimana enaknya tidur di Rumah Sakit dengan nyaman."


"Oke, terima kasih banyak, Sya."


"Sama-sama."


Akhirnya ketegangan itu selesai dan Tasya sedikit banyak penumpang itu telah di atur disana.


Di Kediaman Laura.


Mantan istri Dave itu begitu frustasi ketika mengingat jika Dave lebih memilih bercerai dan meninggalkan dirinya demi hidup sendiri.


"Harusnya kau tidak usah melakukan hal ini, Dave. Aku sungguh tidak menyangka kau justru berubah banyak hingga membuatku tidak bisa mengenal suamiku sendiri."


Tubuh Laura tampak luruh ke bawah. Sekian lama bersama kini timbullah rasa malu bersuamikan lelaki dingin dan angkuh seperti Dave. Kepergian Dave membuat Laura semakin kehilangan percaya diri.


Banyak pelayan yang ditugaskan untuk memberikan makan pada Laura tetapi selalu berakhir dengan kesedihan dan zonk. Tubuh kecilnya bergetar karena sesak yang menghimpit dadanya.


"Bagaimana kondisi Laura saat ini, Pa?"

__ADS_1


"Kamu bisa lihat sendiri bagaimana keadaan dia sepeninggal Dave."


"Dave benar-benar keterlaluan karena membuat Laura sampai seperti ini. Salah apa putri kita. Kalau begini ceritanya Mama sungguh menyesal dengan masalah perjodohan itu."


"Tenang, Ma. Papa sedang memikirkan sebuah cara agar Dave tetap bisa kembali dan membuat Laura hidup kembali."


"Memangnya bisa?"


"Dengan uang, kita bisa membeli semuanya. Oleh karena itu sebaiknya kita melakukan hal-hal buruk agar putri kita segera bangkit setelah kembalinya Dave nanti."


"Entahlah, aku sendiri tidak yakin jika Dave akan menyetujui usul kita."


"Percayalah semuanya akan indah pada akhirnya."


"Semoga saja begitu. Ingin rasanya Mama segera melihat putri kita kembali ceria seperti dulu."


Setelah obrolan panjang itu, keduanya kembali pada aktivitas masing-masing. Sementara itu di kamarnya Laura nekad melukai dirinya sendiri.


Laura mencoba bangkit dari tempat duduknya lalu segera melukai tangannya dengan pecahan botol parfum miliknya. Cairan kental berwarna merah itu mengucur dari urat nadinya.


Bagiamana pun itu adalah kaca sehingga goresannya cukup dalam. Ketika mendengar suara barang yang terbanting, sontak Mama Laura segera mendatangi sumber suara.


"Berasal dari mana suara itu?" tanya Mama Laura kepada salah satu pelayan yang lewat di depannya.


"Sepertinya berasal dari kamar Nona Laura."


"Apa!"


Sontak saja Mama Laura berlari menuju kamar Laura. Ia sungguh tidak ingin mendapatkan hal yang tidak terduga kali ini. Maka dari itu ia segera mempercepat langkahnya.


"Laura kamu harus baik-baik saja, Mama tidak ingin kamu kenapa-napa saat ini," ucapnya sambil mencoba membuka pintu.


Rupanya pintu kamar Laura terkunci dari dalam. Sehingga akan terasa mustahil jika membukanya. Beruntung otak Mama Laura bekerja dengan cepat. Ia pun segera memanggil salah satu pelayan untuk mengambilkan kunci cadangan.


"Pelayan, cepat datang kemari!"


"I-iya, Nyonya."


"Ada apa, Nyonya?"


"Pintu kamar Laura terkunci dari dalam. Sehingga tidak bisa dibuka!"


"Baiklah, biar saya saja yang mengambil kunci cadangannya."


"Cepat Bik, jangan lama-lama."


Di sisi lain, Laura sedang bertahan dengan hidupnya yang sama sekali tidak bisa bertahan di sana.


"Ma, Pa, maafkan Laura yang tidak bisa menjadi anak baik," ucapnya lirih lalu sesaat kemudian pingsan.


......................


Hayo, akankah Laura akan bertahan atau Tasya akan pergi karena tahu tentang status Dave? Kita tunggu lanjutannya ya. Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini, Kak. Makasih.

__ADS_1



__ADS_2