Godaan Sugar Daddy

Godaan Sugar Daddy
Part 41. PENYESALAN


__ADS_3

"Kamu tinggal di sini?"


"Iya, kamu keberatan kalau kamar kita berseberangan?" tanya Alvino dengan wajah menyebalkan.


Bagi Tasya meski Alvino tampan, tetapi sikapnya lebih cenderung menyebalkan. Belum lagi ketika melihat kedua matanya yang selalu saja berapi-api ketika melihatnya.


"Bisa nggak matanya biasa aja!"


"Memangnya kenapa?" ucapnya santai.


"Mata kamu tuh tatapannya sangat menyebalkan, ngerti nggak?"


"Enggak!"


Alvino terkikik akan ucapan dari Tasya. "Apa aku salah jika mengagumi keindahan dari ciptaan Tuhan yang paling sempurna seperti kamu?"


Plak


Kesabaran Tasya ada batasnya maka dari itu ia pun segera menuntaskan kemarahannya dengan menggunakan jurus lempar kain.


"Bangun woi, jangan ngehalu tinggi!" ucap Tasya sesaat sebelum ia masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Tasya melempar kain yang berada tepat di kamarnya ke arah Alvino lalu bergegas masuk kamarnya sendiri. Ia pun tidak peduli dengan kemarahan dari Alvino karena terkena lemparan kain yang rupanya miliknya sendiri.


"Manis, kalau marah justru tambah manis."


Selepas mengerjai Tasya ia kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sesungguhnya Alvino melakukan hal itu karena ia merindukan adik kecilnya yang mungkin seusia Tasya. Sejak ia memilih pergi, keduanya lost kontak.


"Semoga kamu baik-baik saja di sana ya, Dek."


......................


Prang


Sebuah gelas kaca terjatuh dari tangan Laura. Tangan yang mulus itu tergores pecahan kaca yang berasal dari gelas miliknya.


Rupanya, Laura tidak tahu jika saat ini Dave sedang berada di luar negeri. Dave merasa jika hanya wanita yang bisa membaca jalan pikiran sesama wanita. Maka dari itu, hanya ibu Dave yang bisa membantunya membawa kembali Tasya.


"Nyonya, ini tehnya," ucap salah satu pelayan setia Morena.


"Makasih ya, Bik. Oh ya apakah putraku sudah menelpon?"


"Sudah Nyonya, Tuan Dave memberikan kabar jika saat ini ia sudah tiba di bandara. Kurang lebih satu jam lagi ia akan sampai di sini."

__ADS_1


"Baguslah, jangan lupa bersihkan! ... Dave sama sekali tidak suka melihat barang kotor dan berdebu. Nanti penyakit alerginya kambuh."


"Siap, Nyonya.


Sepeninggal art, Nyonya Morena lebih memilih untuk menikmati pemandangan taman kecil yang dibuat di depan rumahnya. Setidaknya dengan berkebun ia bisa melupakan permasalahan yang menghimpit hidupnya. Terlebih lagi ia harus tinggal sendirian di negeri asing itu selama bertahun-tahun. Lalu suaminya memisahkan antara dirinya dan juga putranya.


"Mama sangat bahagia ketika mendengarmu akan segera kembali ke sini dan mengunjungi Mama. Setidaknya Mama tidak akan kesepian, Nak."


Penerbangan Dave kali ini sungguh terasa sangat lancar. Hanya saja perjalanan darat menuju villa sang Mama terasa lebih jauh karena cuaca yang tidak bersahabat.


"Kita akan sampai ke rumah sekitar berapa jam lagi, Pak?"


"Jika jalanan dan kondisi cuaca yang mendukung kita akan segera sampai kesana dalam waktu kurang dari 45 menit."


"Syukurlah."


Ketika Dave masih memainkan laptop miliknya, terlihat jika ada panggilan masuk dari Brodi. Ia menghela nafasnya karena saat ini sedang tidak ingin mengangkat panggilan telepon darinya.


Beberapa saat berlalu, telepon dari Brodi belum juga diangkat. Hingga akhirnya Brodi mengirimkan pesan pada Bosnya tersebut. Kedua mata Dave terbelalak ketika melihat isi dari pesan itu.


Dengan cepat Dave membalas pesan tersebut dan memberikan perintah tambahan agar Brodi secepatnya mengatasi masalah Laura.

__ADS_1


"Tasya, kemana kamu pergi? Kenapa rasanya sangat nyeri ketika melihat kamu pergi dengan amarah. Maafkan aku ...." ucapnya dengan nada menyesal.


__ADS_2