
"Mulai sekarang kamu nggak perlu lagi buat kembali ke kost, karena mulai saat ini aku dan kamu akan tinggal di sini."
"Ha-ah, maksudnya? kita bukan suami istri atau adik kakak?"
Dave mulai meletakkan barang milik Tasya di dalam kamar barunya. Sementara itu Taysa kebingungan karena baru pertama kali diajak ke rumah Dave. Ya, Tasya menganggap jika rumah itu adalah milik Dave. Padahal kenyataannya rumah itu sengaja Dave beli untuk Tasya.
"Option pertama boleh, kalau kedua nggak mungkin lagi," ucap Dave dengan santai.
Kedua mata Tasya semakin terbelalak karena ucapan dari Dave seketika membuat dirinya pusing dan bingung.
"Om, becanda?"
"Enggak."
"Apa kata orang nanti jika aku tinggal sama Om Dave?" ucap dalam hati.
__ADS_1
"Tenang, tetapi sebelum itu kita akan menikah lebih dulu."
"What's!" pekik Tasya.
Seolah bisa membaca isi hati Tasya, Dave justru mengatakan hal itu secara terang-terangan. Bukankah itu sama artinya dengan mengatakan jika Dave menaruh asa padanya. Ekspresinya pun sangat natural dan Tasya bisa memastikan jika apa yang diucapkan oleh Dave barusan adalah kesungguhan hati.
Demi mengingkari hatinya, Tasya lebih memilih untuk menolaknya.
"Woi, Om kira Tasya suka sama Om? Kok bisa-bisanya bilang begitu?" protes Tasya.
"Kalau kamu tidak mau dilamar, kenapa kamu justru terlihat sangat ingin menjadi milikku?"
Jarak wajah antara Dave dan Tasya begitu dekat bahkan terkesan intim. Bagaimana pun saat ini Tasya tidak ingin jika dirinya disakiti lagi oleh lelaki. Maka dari itu Tasya tidak mau secepat ini menerima kehadiran Dave.
Dari luar memang Dave sangat terlihat baik. Akan tetapi ia tidak mau terus menerus dianggap sebagai wanita penggoda. Tasya masih belum mengetahui seluk beluk Dave. Statusnya pun ia belum tahu. Sehingga saat ini Tasya membuang muka.
__ADS_1
Debaran jantung yang semakin meningkat itu semakin membuat Tasya hampir saja hilang kendali. Dimanja dan dilindungi oleh Dave memang membuat Tasya seolah dimanja dan melambung. Akan tetapi entah mengapa Tasya belum sepenuhnya yakin.
Oleh karena itu, Tasya memilih mundur. "Maaf, Om. Tasya tidak ingin terluka sekali lagi."
Tasya beranjak dari tempat duduknya dan lebih memilih untuk melihat ke arah lain. Hatinya sangat sakit jika terus menerus terkena penyakit cinta. Maka dari itu ia lebih memilih untuk tidak ingin jatuh cinta dalam waktu dekat.
Dave menghela nafasnya. Ia tahu jika saat ini Tasya sudah pasti belum siap. Trauma dikhianati oleh pacarnya membuat Tasya seketika menjadi dingin terhadapnya.
Akan tetapi mau apa lagi, rasanya Dave benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Ia sangat tidak bisa kehilangan Tasya, maka dari itu Dave lebih memilih untuk tidak mau membuat keselamatan Tasya terancam. Baginya Tasya adalah prioritas saat ini.
"Oke, jika kamu merasa tidak ingin bersama untuk saat ini, bolehkah aku tetap menjadi sahabatmu?"
Tasya menoleh menatap lelaki yang sudah berhasil mencuri hatinya itu. Meski cinta tetapi ketakutan Tasya lebih besar saat ini. Di tambah lagi ia belum berhasil mencari dalang dibalik kematian kedua orang tuanya.
"Kalau kamu ingin memikirkan hal ini lebih dulu, aku akan memberikan waktu. Akan tetapi jangan sampai kau lari lagi dariku. Aku tidak ingin menyakitimu. Kamu bisa memegang janjiku, Sya."
__ADS_1