HANYA RINDU

HANYA RINDU
Hanya Rindu 1


__ADS_3

Sinar mentari muncul menembus kulitku. Panasnya sangat terasa saat aku melewati tengah lapangan basket outdoor disekolah ku.


Aku berhenti tepat ditengah lapangan basket. Aku mendongakkan kepalaku keatas, melihat kearah cerahnya awan dan matahari yang bersinar tepat diatas kepalaku.


Aku tersenyum, kembali mengingat kejadian 2 tahun yang lalu.


°°°


"Aduh," rintih ku saat kepalaku terkena bola basket.


Gabriella Adara Louis, teman ku yang panik melihatku terkena hantaman bola basket yang tidak tahu siapa pelakunya.


"Woi minta maaf, lo." teriak Ella pada siapapun itu yang sedang bermain bola dilapangan basket.


Aku menarik tangan Ella, menyuruhnya untuk diam. Aku sungguh tidak mempermasalahkan hal ini.


"Gak terlalu sakit kok. Bola juga gak terlalu kencang tadi kenanya." ucapku sembari tanganku terus mengusap kepalaku agar sakitnya mereda.


"Gak sakit?" tanya Ella sembari mengambil bola basket yang tepat berada dibawah kaki ku.


Ella sudah bersiap menempatkan bola basket pada kedua tangannya untuk dihantamkan kembali ke kepala ku.


"Iya sakit," ucapku memberhentikan tindakan yang akan dilakukan Ella.


Ella mendengus kesal karena tidak ada yang menghiraukan ucapannya.


brak, brak...


Suara langkah kaki mengejutkan ku. Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang berdiri dihadapanku.


"Sorry. Temen gue gak sengaja ngelempar tadi." ucapnya dengan suara deep.


Alden Leon Pramudya, kapten team basket sekolah. Siswa kebanggaan guru dan para siswi seantereo sekolah.


Alden merupakan siswa yang rajin dan patuh pada gurunya, tak heran jika ia sangat terkenal dikalangan guru. Selain itu, wajah tampannya mampu membuat siswi yang melihatnya terpikat.


Kenapa harus Alden yang minta maaf, tuhan.


"Santai aja, salah gue juga kok lewatnya ditengah lapangan." balas ku.


Alden terus menatapku dengan sorot mata khawatir. Jika aku tidak salah mengartikannya.


"Lo gapapa kan? ada yang sakit?" tanyanya dengan menatap kedua manik mataku.


*Bluss...


tahan Nad, jangan ngefly*.


"Gapapa kok." jawabku dengan nada sesantai mungkin.


Alden tersenyum. "Syukurlah, sampai ketemu nanti." ucapnya sebelum pergi dengan membawa bola yang tadi dipegang Ella.


Aku melihat kearah Ella, meminta penjelasan arti dari perkataan Alden.


°°°


"Minggu depan, team basket sekolah kita ada turnamen basket lawan SMA Rajawali. Alden selaku kapten team minta tolong ke kita untuk mendokumentasikan acara tersebut." ucap ketua ekstrakurikuler fotografi Dani pada seluruh anggota ekstra.


"Sekarang gue akan bagi tugas perorang." sambung Dani.


"Rania, Rizki, Aira, Alana, dan Risma kalian bagi tugas untuk mendokumentasikan SMA Rajawali. Satu orang harus memfoto satu model." lanjut Dani menjelaskan.


"Sedangkan Riri bagian David, Ella bagian Reza, Ica bagian Azka, Kiki bagian Tio, dan Nada bagian Alden."


aku terkejut saat Dani mengatakan aku harus memegang kendali dokumentasi Alden.


"Kenapa gue kak yang ambil alih bagian Alden?" tanya ku karena tidak setuju dengan pembagian ini.


"Karena lo lebih kompeten, dan hasil jepretan lo bagus untuk Alden yang posisinya sebagai center."


Aku pun pasrah, karena aku sadar posisiku saat ini sebagai anggota team.


"Pulang sekolah hari ini, untuk yang bagian memegang kendali team sekolah kita jangan pulang dulu. Karena kalian harus mengambil beberapa foto saat Alden CS latihan." ucap Dani memberitahu.


"Baik."


°°°°


Sinar mentari mulai meredup, tanda akan berakhirnya sang surya menyinari bumi pertiwi dan akan digantikan oleh sang rembulan dengan bantuan bola lampu disekitarnya.


Jam menunjukkan pukul 6:30 pm, tetapi aku masih berada di sekolah. Sungguh melelahkan.


"Shoot!" teriak Alden mengarahkan.


Suara tepuk tangan terdengar saat wasit memberhentikan pertandingan.


"Kerja bagus." ucap Alden sembari menepuk semua pundak pemainnya bergantian.


Aku menghela nafas lega. Aku berdiri untuk merenggangkan kaki dan seluruh badanku.


Sebenarnya dari jam 5 sore tadi sudah selesai mendokumentasi, tetapi Alden bilang jika tidak boleh bubar sebelum pertandingan basket selesai.


Aku berjalan menuju tas ku dan mulai memasukkan beberapa alat kedalamnya.

__ADS_1


"Nad, gue pulang dulu." pamit Ella padaku.


Aku tersenyum, "Hati-hati dijalan."


Setelah semua barangku sudah tertata rapi, aku mengambil ponselku dari saku tas bagian samping.


"Dek mama arisan dulu, papa belum pulang kerja. Pulang sendiri ya." 5:30 pm


Aku mendengus kesal, disaat seperti ini ada saja yang dilakukan oleh kedua orang tua ku.


"Masih ada abang,"


Aku mencari nomor Alvaro, kakak laki - laki ku satu- satunya. Hanya dia penyelamatku disaat seperti ini.


Saat dering ke 3 sudah terdengar suara khasnya disebrang sana.


Memang abang paling gercep.


"Ada apa?"


"Bang jemput dong, udah malem ini.* Gue masih disekolah."


"Gila lo masih disekolah?! Pulang cepat*!"


Aku menjauhkan ponselku segera saat mendengar Alvaro memekik dengan kencang.


"Ya gue mau pulang. Tapi gak ada yang jemput. Gimana dong?"


Aku mendengar dengusan suara Alvaro disebrang sana. Sepertinya dia sedang ada urusan.


"Lagian lo kalau ngabarin dadakan mulu, macem tahu bulat."


Sifat recehnya kembali muncul.


"Jemput gue sekarang. Gue sendirian di sekolah bang."*


"Kuliah gue hari ini jam malem. Pulangnya masih jam 8 malem. Lo pakai jasa ojek online deh, atau apapun itu yang penting lo aman."


*"Ngeselin banget sih."


Aku mematikan telpon sepihak. Tidak lama terdapat peringatan low battrey.


"Terus gimana gue pulangnya." omel ku dengan mencari powerbank didalam tas.


Hari ini sungguh melelahkan untuk ku. Bekerja sama dengan team basket sungguh menyusahkan.


"Gak pulang?"


Aku mengalihkan pandanganku kearah orang yang mengajakku bicara.


"Gak ada yang jemput." jawab ku singkat.


sungguh moodku sudah sangat hancur.


"Kemana orang tua lo?" tanyanya dengan mematikan mesin motornya.


"Sibuk."


Hening.


Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Alden hingga ia bungkam tidak mengajakku bicara, dan ia tidak juga meninggalkan ku sendiri.


"Lo gak pergi?" tanya ku saat Alden tidak kunjung pergi bersama motornya itu.


Ia menggeleng sembari menatap kedua manik mataku.


"Gue gak bisa ninggalin lo disini sendiri." ucapnya dengan terus menatap dalam kedua mataku.


Specheless.


Seketika aku bungkam. Aku tidak tahu mengapa ia sangat peduli. Mungkin pribadinya memang seperti ini.


"Kecuali,"


Aku membalas menatap matanya saat ia tiba - tiba menggantungkan kalimat.


"Lo mau gue anterin pulang." sambungnya.


Aku menggeleng. "Gue bisa pesan ojek online."


Disaat bersamaan powerbank ku akhirnya ketemu. Aku pun segera memasangkan kabel powerbank ke ponselku.


Lagi - lagi bukan keberuntunganku. Battery powerbank ku pun habis.


Aku menghela nafas pasrah.


Tidak lama kemudian tersengar suara ponsel mematikan daya.


Sekarang aku hanya punya Alden, orang yang akan mengantarkanku pulang.


"Gimana?" tanyanya sekali lagi saat mengetahui kalau aku sudah sangat frustasi.


Dengan terpaksa aku mengangguk. Rasanya malu sekali. Baru beberapa menit yang lalu aku menolaknya, dan sekarang aku menarik itu semua.

__ADS_1


"Pakai nih," Alden memberikan helm cadangan yang ia bawa padaku.


Laki - laki ini sangat menyiapkan segalanya.


"Tunggu." cegahnya saat aku hendak naik dan duduk diatas kursi penumpang motornya.


Aku terkejut saat melihat Alden tiba - tiba melepas jaketnya dihadapanku.


"Pakai sekalian. Angin malam gak bagus buat tubuh lo." ucapnya dengan memberikan jaket army padaku.


Entah mengapa disaat yang bersamaan, apapun yang diucapkan oleh Alden aku turuti.


Aku pun naik dan duduk dikurai penumpang bagian belakang motor Alden.


Ini adalah kali pertamaku dibonceng laki - laki selain Alvaro, abang ku.


Selama diperjalanan kami hanya bungkam. Bergelut dengan pemikiran masing - masing.


Rasanya sangat aneh jika aku harus memulai pembicaraan. Karena aku sadar, aku tidak dekat dengan Alden. Jadi aku harus menjaga sikap agar tidak lancang dihadapan orang asing.


Aku menikmati pemandangan malam yang indah ini. Lampu jalan dan juga bintang yang berhamburan sangat banyak disekitar rembulan.


Menemani rembulan agar tidak berjuang menerangi bumi yang luas ini sendirian. Begitu baik sekali, kau bintang.


Kencangnya angin malam menembus kulit telapak tanganku, saat Alden terus memacu gas motornya.


Untung saja ia meminjamkan jaketnya padaku. Jika tidak, mungkin badanku sudah menggigil.


Jalanan sangat sepi hari ini, dan itu membuat Alden semakin memacu gasnya untuk lebih kencang lagi.


Semakin Alden memacu gasnya, semakin aku meremas baju yang ia pakai. Bukan sengaja aku melakukan hal itu. Tapi aku terlalu takut.


Aku memejamkan kedua mataku. Aku tidak berani bicara pada Alden untuk memelankan gas motornya. Tapi aku sangat takut.


Aku merasa ada yang aneh saat suara kencangnya angin tidak begitu terdengar di telingaku.


Perlahan, aku membuka kedua mataku. Benar saja, Alden memelankan gas motornya saat bajunya tidak sengaja ku meremas bajunya.


"Sorry gue gak sengaja." ucapku paham jika Alden memelankan motornya karena ulahku.


"Kenapa gak bilang kalau takut naik motor kencang?" tanyanya.


"Gue gak takut. Cuma, tiap gue diboncengin Varo gak pernah sekencang itu." jawabku berdalih.


Dia diam beberapa saat. "Nanti ada pertigaan, belok kanan aja. Ada perumahan Grand City Blok 5A, itu rumah gue." ucapku menunjukkan arah.


Alden hanya mengangguk paham.


"Lo gak kedinginan?" tanya ku memecah keheningan.


Sebenarnya aku cukup penasaran dengan keadaannya. Karena aku saja merasakan angin malam yang dingin hingga menusuk kulit, apalagi dia.


"Udah biasa." jawabnya singkat.


Rasanya canggung sekali. Tidak ada yang dibicarakan.


"Varo? Siapa? Pacar lo?" tanyanya tiba - tiba.


Aku sempat terkejut saat Alden bertanya. Ku kira dia batu yang menjelma sebagai manusia.


"Alvaro itu pacar sekaligus abang gue." jawabku.


Ia terkekeh. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tertawa seperti itu.


"Jadi, kalau gue punya kakak cewek. Gue juga bilang kalau dia pacar sekaligus kakak gue. Gitu?" ucapnya sambil terkekeh.


Entah apa yang membuat aku harus ikut larut tawa bersamanya.


"Kenapa engga? Coba aja." jawabku.


"Biar cewek - cewek gak pada deketin lo lagi." lanjutku sambil terus tertawa.


Aku baru saja tersadar, ternyata sudah mendekati rumah ku.


"Rumah pagar hitam. Lo berhenti disitu, itu rumah gue." ucapku memberi arahan


Alden menghentikan motornya setelah sampai ditempat yang ku tunjukkan. Aku turun dan melepas helm serta jaket yang dipinjamkannya padaku.


"Thabk you. Sorry udah ngerepotin lo." ucapku mengucapkan terima kasih.


Alden mengangguk, "Ternyata searah sama rumah gue, jadi tenang aja."


Aku tersenyum sebelum akhirnya berpamitan untuk masuk kerumah lebih dulu setelah menyapanya mengucapkan kata selamat malam.


"Nad,"


Baru saja aku membalikkan badanku, kini Alden memanggilku.


"Ya?" jawabku sembari menatapnya.


Alden berdehem sekejap, "Thank you udah mau jadi partner gue. Gue mohon kerja samanya." ucapnya dengan memberikan seulas senyuman.


Aku mengangguk. Memang benar, tidak mudah menjadi partner Alden. Walaupun hanya menjadi partner kerja sama untuk Kompetisi Basket, tetap saja.

__ADS_1


Bagian Alden yang menjadi center sangat menyusahkan untuk ku. Karena ia harus menyerang dan berpindah tempat terus menerus.


"Lo belum lihat hasil kerja gue. Jadi santai aja." jawabku setelah itu aku masuk kedalam rumah.


__ADS_2