
Senja datang dengan indahnya. Warna jingga nan kemerahan menghiasi langit dengan sempurna.
Perlahan, lampu-lampu mulai dinyalakan. Gemerlap cahaya lampu, ditengah redupnya sinar mentari akibat pergantian sore menuju malam hari. Sungguh pemandangan yang indah.
“Kalian sholat dulu, sebelum tanding.” Ucap Alden pada seluruh anggota team basketnya.
Sore ini, di lapangan basket yang outdor pertandingan antara Alden dan Rino kembali terjadi.
Alden dan team memilih lapangan yang outdor. Memang mereka sengaja melakukannya. Tempatnya pun tidak sepi, cukup ramai dengan adanya stan jajan dipinggir jalan.
Aku dan Ella yang sedang halangan, pergi untuk membeli minum. Kami hanya mencoba untuk perduli.
Oh iya, pertandingan kali ink tentu saja tidak melibatkan photographi. Hanya saja aku yang memaksa Ella untuk menemaniku menonton Alden.
“Enakan juga dirumah,” omel Ella.
Aku melihat kearahnya yang sedari tadi memasang wajah cemberut.
“Lo gak ikhlas ya nemenin gue?” Tanyaku pada Ella.
Ella mengangguk. “Lagian, tumben banget sih mau nontonin orang main basket,” ucap Ella sembari menatapku.
Aku tersenyum, memamerkan deretan gigi ku yang putih. “Namanya juga PDKT. Lagian, gue gak mau ya lihat Alden berantem lagi sama Rino.” Ucapku menjelaskan pada Ella.
Ella memutar bola matanya jengah.
“Lagi? Sejak kapan lo lihat Alden sama Rino berantem? Orang waktu itu lo pingsan,” ucap Ella dengan terus berjalan menuju stan yang menjual air mineral.
Aku berjalan, mensejajarkan langkah ku dengan Ella.
“Lo suka gitu.” Ucapku dengan mendorong pundak Ella pelan.
Tiba-tiba saja Ella menghentikan langkah kakinya. Spontan, aku ikut berhenti. Menatapnya seolah bertanya ada apa?
Ella menatapku dalam, “lo bahagia sama Alden?” Tanyanya tiba-tiba.
Aku mengangguk. Mengiyakan pertanyaannya.
Ella tersenyum setelah melihat reaksiku. “Langgeng deh,” lanjutnya.
Bicara soal pertanyaan Ella.
Aku memang bahagia bisa kenal dan dekat seperti ini dengan Alden.
Tapi, untuk langgeng?
Apakah cocok untuk statusku saat ini?
“Lo juga, coba buka hati buat Reza deh.” Ucapku mengalihkan perhatian.
Ella tidak menggubris ucapanku. Melainkan ia hanya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.
Pantas kah jika aku yang menginginkan status?
°°°°
Permainan dimulai. Aku dapat melihat kedua team yang mulai beradu untuk memperebutkan bola dan menjaga rumahnya agar tidak kemasukan lawan.
Setiap pergerakan Alden, tidak luput dari pandanganku. Keringat perlahan menetes dari kening dan membasahi wajahnya.
Auranya sungguh sangat kuat. Semakin melihatnya, semakin timbul rasa untuknya.
Semilir angin malam seakan menemani hatiku yang sedang gusar.
Bughh...
Aku terkejut saat Alden tersungkur ke lantai lapangan. Aku membelalakkan mataku, sembari berdiri.
Rino memukulnya. Reza dan Adrian, serta beberappa teman Rino mencoba untuk memisahkan mereka berdua.
Reza berlutut, melihat keadaan Alden yang masih tersungkur dilantai lapangan.
Hatiku merasa gelisah saat melihat Alden dengan keadaan seperti itu.
Tidak lama setelahnya Alden bangun, berdiri menatap kearah Rino.
“Dari awal, emang lo yang cari masalah.” Ucap Alden dengan mengeratkan rahangnya.
Rino tersenyum remeh kearah Alden. Dari sini, aku dapat melihat Alden mulai mengepalkan tangannya saat melihat ekspresi wajah Rino.
“Pengecut!” Teriak Alden dengan suara lantang nan tegas.
Aku segera berlari saat Alden mulai terpancing emosinya.
°°°°
ALDEN POV
Langkahku terhenti seketika, saat ada tangan mungil yang melingkar sempurna di pinggangku.
Aku sedikit melangkah maju, tapi semakin aku melangkah kedua tangan itu semakin erat memelukku.
__ADS_1
Amarah ku perlahan mereda. Aku membalikkan badanku, dan mendapati Nada yang memelukku dengan menundukkan kepalanya.
Aku sedikit menunduk, melihat wajahnya. Ia menutup mata sembari menggeleng.
Apa ia melarangku?
Aku meraih dagunya, menyentuh dan perlahan menyuruhnya untuk menatapku.
Aku tersenyum saat Nada membuka matanya.
“It’s okay. Kamu Cuma perlu tutup mata,” ucapku padanya.
Ia menggeleng dengan kuat, seolah melarangku melakukan hal diluar batas.
Wajah sendunya, menghangatkan hatiku. Tatapan matanya yang seolah menyuruhku untuk tidak melakukan hal kasar, mampu membuat amarahku perlahan meredam.
Aku mengangguk setuju sebelum akhirnya berbalik untuk menyelesaikan masalahku dengan Rino.
“Cih, budak cinta.” Sindir Rino.
Aku memejamkan mata sebentar, mencoba untuk mengontrol emosiku.
“Gue yang jalanin, bukan urusan lo.” Ucapku tegas.
Melihat setiap ekspresi wajah Rino, ingin sekali ku layangkan pukulan yang amat sangat keras dibagian rahangnya.
“Disini makin kelihatan siapa yang pengecut!” Ucapku yang membuat emosi Rino semakin memuncak.
Bugh....
Aku terkejut saat melihat Nada yang tersungkur di lantai lapangan. Suara nyaring terdengar memekik memanggil nama sahabatnya.
Ella berlari mendekati Nada. Aku berjongkok, melihat keadaan Nada.
Nada menunduk sembari meringis menahan sakit akibat tonjokan Rino. Aku melihat setiap sudut wajah Nada, dan mendapati luka dibagian ujung mulutnya.
Kulit wajah diujung mulut sebelah kiri Nada sobek. Walaupun tidak lebar, tapi itu sangat menyakitkan untuk Nada.
“Lo keterlaluan No,”
Aku dapat mendengar suara salah satu teman Rino yang sedaru tadi hanya menonton dengan diam.
“Gue gak bermaksud. Gue mau nonjok Alden, buka ceweknya.” Jawab Rino.
Mendengar jawabannya, aku pun berdiri dan melangkah mendekat kearahnya.
“Tonjok gue, kalau setelahnya gue bisa habisin lo.” Ucapku dingin dengan tatapan tajam.
“Den,”
Saat aku sedang menatap tajam kearah Rino. Aku dapat melihat beberapa orang yang tengah melangkah mendekat kearahku lewat ujung mataku.
“Semakin kalian mendekat. Semakin habis nyawa bajingan ini!” Teriakku.
Sudah habis kesabaranku. Dari awal memang Rino yang salah.
Mendadak Rino diam seribu bahasa. Ia tidak berkutik maupun bergerak sama sekali.
“TONJOK GUE!” Bentakku padanya.
Aku dapat melihat wajah takutnya saat mendengar aku berbicara dengan nada tinggi.
Aku melangkah semakin mendekatinya. Jariku sengaja ku daratkan di dada kirinya.
Jariku menujuk dadanya dengan keras sembari berbisik, “lo boleh ganggu gue. Tapi jangan sampai pernah lo ganggu orang yang berharga bagi gue.” Bisikku dengan nada tajam dan dingin.
Aku berbalik, berjalan kearah Nada yang masih tergeletak di lantai lapangan.
“Mana yang sakit?” Tanyaku padanya sembari menghadap kearahnya.
“Kepala ku pusing,” jawabnya dengan suara parau.
“Minum,” teriakku pada siapapun yang mau mengambilkan minum untuk Nada.
Ella memberikan sebotol air padaku. Aku membuka penutupnya, lalu meminumkannya perlahan pada Nada.
Sesekali ia meringis kesakitan saat membuka dan menutup mulutnya.
Hatiku terasa hancur saat melihat kondisinya saat ini.
Aku gagal dalam menjaganya.
Aku telah menyakitinya.
°°°°
NADA POV
Alden memapahku masuk kedalam halaman rumah. Ia menuntunku dengan sabar menuju pintu rumah.
Tangan besarnya mengetuk sopan pintu rumahku, sembari berucap permisi.
__ADS_1
Mengingat masalah tadi, ternyata ada bagian dalam diri Alden yang rapuh. Membuat ia mudah terpancing emosi.
Tak lama kemudian wajah mama muncul dari balik pintu. Aku senang saat mama selalu memberikan senyum hangatnya pada Alden.
Alden menyaliminya dengan sopan.
“Maaf tan, saya sudah gagal untuk kedua kalinya menjaga Nada.”
Aku terkejut saat Alden berusaha untuk menceritakan kejadian tadi pada mamaku.
Mama menoleh kearahku, melihat setiap sudut wajahku.
Wajah santainya seketika berubah menjadi panik saat melihat ada luka sobek dibagian ujung bibirku.
“Kok bisa begini? Kamu ngapain aja?” Tanya mama padaku dengan wajah khawatirnya.
“Itu salah saya tan. Saya lalai menjaga Nada, jadi dia kena tonjok diwajahnya.” Jelas Alden pada mamaku.
Mama menatap Alden, meminta penjelasan lebih lanjut.
“Siapa yang tonjok? Gak tau ya kalau negara ini diatur oleh undang-undang?!” Ucap mama dengan nada bicara yang perlahan semakin meninggi.
Mamaku sudah terpancing emosinya. Bahaya.
“Ma Nada baik-baik aja.” Ucapku dengan vokal yang tidak terlalu jelas.
“Ngomong gak jelas gitu, bilangnya baik-baik aja.”
Saat mama marah memang tidak terlalu nampak. Karena ia tidak pernah marah dengan fisik.
Ia hanya akan memberikan nasihat untuk berbuat benar kedepannya.
“Nanti Nada ceritain. Biar sekarang Alden pulang dulu, udah malam.” Ucapku lirih.
Mama mengangguk setuju. Alden pun pamit sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumahku.
°°°°
Tangan putih namun kulitnya yang sudah tidak kencang, perlahan membersihkan luka ku dengan sabar.
“Kok bisa sih dek?” Ucap mamaku.
Aku tahu, mamaku hanya tidak ingin anaknya mengalami kejadian seperti ini.
“Kapten lawan marah sama Alden tanpa alasan. Ngata-ngatain bahkan sampai nonjok ma,” ucapku yang mencoba untuk menjelaskannya secara singkat.
“Bahkan nonjoknya dua kali loh, dan yang kedua ini sengaja kena wajahku sih.” Lanjutku.
Mama menatapku sembari tersenyum geli.
“Mau belain Alden ya?” Tanya mama.
Aku mengangguk, mengiyakan ucapan mama.
“Tapi gak gini juga dek. Imbasnya kena kamu jadinya.” Lanjut mama sembari merapikan kotak obat.
Aku mengangguk. Benar apa yang diucapkan mama. Tapi aku tidak menyesal sama sekali.
Ponsel ku bergetar tiba-tiba. Aku segera melihat notifikasi yang masuk.
Gya Adelina.
“Apa kabar Nad? Sombong nih sekarang.”
Aku tersenyum senang saat melihat siapa orang yang mengirimkan pesan padaku.
Gya Adelina adalah sepupu ku. Ia lebih tua satu tahun dariku. Tepat tahun lalu, ia dan keluarganya memutuskan untuk tinggal di Kanada karena masalah pekerjaan.
Adel sudah aku anggap seperti kakak perempuan ku sendiri. Kami sangat dekat. Sering menghabiskan waktu bersama, oleh karena itu aku merasa sangat kesepian saat tahu ia pindah ke Kanada.
“Kakak dong yang sombong. Punya pacar jadi lupa sama adeknya. ☹ “ tulisku.
“Tadi kesakitan. Sekarang senyum gak jelas,”
Aku melirik kearah mamaku yang menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menatapku.
“Kak Adel chat aku dong ma, setelah sekian lama.” Ucapku dengan nada gembira.
“Iya, katanya bulan depan kalau gak ada masalah mereka mau main ke Indonesia.” Ucap mama.
Mataku berbinar mendengar penyataan mama.
“Serius?” Tanyaku.
Mama mengangguk sembari berdiri dari tempat duduknya.
“Sekarang kamu istirahat ya,” ucap mama sembari mengecup keningku dengan sayang.
Aku mengangguk lalu memasukkan badanku kedalam selimut.
Hari ini adalah hari bahagia untuk ku.
__ADS_1
Setelah seharian bersama Alden, kini Adel akan pulang untuk bermain bersama ku.
Semoga perasaan bahagia ini bisa kurasakan setiap hari.