HANYA RINDU

HANYA RINDU
Hanya Rindu 8


__ADS_3

Semilir angin malam membelai kulitku. Membuat bulu halus ku berdiri akibat dinginnya nan sejuknya angin.


Aku berdiri di balkon. Duduk dikursi yang sengaja ku ambil dari dalam kamar.


Menikmati malam hari memang sangat menyenangkan, apalagi dengan suasana hati yang mendukung.


Bintang-bintang berhamburan di angkasa. Memaparkan gemerlap cahaya untuk bumi. Sang rembulan yang berbentuk bulat sempurna. Berwarna kemerahan, membuat ia tampak lebih sempurna nan indah.


Lamunanku bubar saat ponsel yang ku pegang berdering. Aku membukanya dan melihat notifikasi yang masuk.


Alden Pramudya.


“Lagi apa?”


Aku penasaran, apa ini yang dirasakan seseorang yang sedang jatuh cinta?


Perasaan bahagia yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan, ekspresi pun sulit untuk diperlihatkan walau hanya senyum.


“Cari angin di balkon kamar.”


“Pap coba. Siapa tahu bohong.”


“Gak percaya banget sih.”


“Kan aku gak suka dibohongin, jadi mau pastiin aja sih.”


“Gimana? Gue gak bohong kan?”



“Susah ya pakai aku kamu?”


Rupanya orang ini bisa menjadi sangat lembut.


“Maaf.”


“It’s oke. Kamu hanya perlu terbiasa.”


“Thank you.”


“Tidur, udah malem. Good night dear.”


Aku tersenyum malu namun senang membaca pesan Alden.


“Good night.”


°°°°


Aku dapat mendengar suara riuh dari atas kamarku. Ini masih pagi, mengapa sudah sangat ramai dibawah?


“Emang paling bisa lo ya,”


Aku dapat mendengar gelaga tawa Alvaro dari lantai atas.


Aku turun sembari menenteng tas sekolah ku menuju ruang makan.


“Tukang molor udah bangun ternyata. Tumben gak lupa kalau lagi janjian sama orang?” Ucap Alvaro saat melihatku yang baru saja keluar dari kamar.


“Sibuk banget sih urusin hidup gue.” Jawabku ketus.


“Ini cewek, ngga ada jaim-jaimnya di depan cowok.” Lanjut Alvaro yang gemar memakiku.


Aku memutar bola mataku jengah. Malas sekali menghadapi mulut Alvaro yang setara dengan ibu-ibu pkk.


“Sarapan dulu. Ajak Alden sekalian.” Ucap mama menghentikan perdebatan.


Aku menggeleng. “Dibuat bekal aja ma. Males sama Varo.” Ucapku kesal.


“Apa?!” Ucap Alvaro dengan nada tinggi saat aku memanggilnya tanpa embel-embel abang.


Aku meliriknya, “apa?! Lo sih masih pagi udah cari rival. Coba pulang sekolah. Abis lo sama gue!” Ucapku ketus.


Alvaro terkejut sembari menganga akan ucapan yang ku lontarkan.


“Oh gitu ya? Awas aja lo kalau sampai nangis lapor mama.” Lanjutnya.


“Serah gue dong. Mama mama gue juga,” ucapku sambil menjulurkan lidah padanya.


“Udah gede masih aja berantem.”


Suara besar milik papaku terdengar jelas saat aku dan Alvaro terus melanjutkan perdebatan kami.


“Abang sih godain Nada mulu. Buruan punya pacar gih, biar ada yang lu godain,” ucapku kesal.


Aku terbelalak saat mendengar suara tawa Alvaro yang sangat menggelegar. “Sendiri ngga punya pacar, ngatain abang sendiri.” Ucapnya.


Ah, benar.


Aku tidak punya pacar.


“Loh ini siapa?” Tanya papaku saat mengetahui keberadaan Alden.


Ia berjalan mendekat kearah papaku dan menyaliminya dengan sopan.


“Alden om, teman dekat Nada.” Ucap Alden memperkenalkan diri.


“Adik kok gak pernah cerita ke papa kalau punya teman dekat cowok?” Tanya papa padaku.


Aku menghiraukannya. Aku berjalan menuju mama yang sedang menyiapkan bekal untukku.


Aku mengambil bekal yang telah siap sedari tadi diatas meja makan, lalu menyalimi tangan mama sebelum berangkat sekolah.


“Pantes abang suka ngecengin. Orang nurun dari papa,” ucapku yang disambut tawa seluruh penghuni rumah.


°°°°


Suasa rooftop memang paling nyaman. Melihat bagunan yang menjulang tinggi dari atas, adalah moment paling menyenangkan.


Sekarang, rooftop adalah tempat ternyama kedua setelah rumah.


Kami duduk dilantai rooftop yang sudah kering, karena air hujan kemarin malam.

__ADS_1


Aku membuka kotak bekal yang dibawakan mama untuk kami berdua.


Kami pun memakan bekal dengan damai.


Hembusan angin menerpa, membuat rambutku berterbangan dan itu mengganggu aktivitas makan ku.


Sepertinya Alden tahu bahwa aku sedang kualahan memegangi rambutku sambil makan.


Ia menoleh kearahku sembari tersenyum. Tangannya ia ulurkan untuk memegangi rambutku agar tidak berterbangan lagi.


“Biar aku pegangin.” Ucapnya sembari tersenyum.


Aku mengangguk, lalu melanjutkan memakan bekal.


Sebenarnya aku tidak merasa risih sama sekali, saat Alden terus menatap kearahku.


Ia terus mengamati setiap pergerakanku.


Mengunyah, melirik, bernapas, bahkan saat menatapnya.


Aku baru sadar, jika kota bekal yang berada di pangkuan Alden belum habis.


Ia rela menyisakan bekalnya hanya untuk memegangi rambutku.


Aku meraih kotak bekal Alden, mengambil sendoknya lali menyuapkan sendok yang berisi nasi goreng ke mulut Alden.


Alden membuka mulutnya, menerima suapanku.


Kami menikmati suasana hangat namun sejuk karena angin yang berhembus diantara kami.


“Besok aku ada tanding basket,” ucapnya disela-sela keheningan.


“Sama siapa?” Tanya ku.


“Rino cs.” Jawabnya.


Soal Rino, aku jadi penasaran akan perkataan Ella beberapa hari yang lalu.


Alden memukuli Rino hanya karena Rino yang tidak sengaja melemparkan bola asal dan berakhir mengenaiku.


Apa Alden sepeduli itu padaku?


“Bukannya kemarin team kamu yang menang? Kenapa masih main lagi?” Tanyaku kembali.


Alden mengangguk, menyetujui ucapanku.


“Kemarin emang menang, tapi dia nantangin lagi karena gak terima kalah dan aku pukulin.” Jawabnya.


Aku mengernyitkan dahi sembari menatap Alden. Seolah tidak mengetahui kejadian tersebut.


“Rino kamu pukulin? Ada masalah apa?” Tanyaku memancing supaya Alden sendiri yang menceritakan padaku.


Alden menatapku sembari menggedikkan bahunya.


“Sebenarnya waktu dia sengaja main curang aku gak marah. Tapi perbuatan dia imbasnya kena kamu. Jadi ya aku harus ambil tindakan.” Ucapnya.


Aku mengangguk paham. Entah kenapa, ada bagian dalam diriku yang melesat terbang jauh.


“Nanti aku mau latihan, mau ikut?” Ajaknya sembari tersenyum padaku.


Aku mengangguk, menyetujuinya.


°°°°


Bel pulang sudah berbunyi. Aku keluar kelas dengan Ella sembari mendengarkan curahan hati Ella.


“Gue lihat sendiri, Arya kemarin boncengin cewek lain dong,” ucap Ella dengan wajah sedihnya.


“Lo udah tanya ke dia belum? Siapa tahu itu saudaranya,” jawabku berusaha menenangkan pikiran kabut Ella.


Ella mengangguk. “Udah. Kemarin kita video call, dan gue bisa lihat dari matanya kalau dia bohong, Nad.” Ucapnya lirih.


Dari wajahnya yang kemerahan. Ella sepertinya menahan tangisnya agar tidak keluar.


Aku menghentikan langkahku. Mendekat kearah Ella dan meraih bahunya.


“Sebelum terlambat, udahin aja. Daripada sakit dibelakang?” Ucapku sembari mengusap lembut punggung Ella.


Ella mengangguk, menerima masukan yang ku berikan.


Tidak lama, Alden datang dari arah depan. Ia berjalan mendekatiku yang masih memeluk Ella.


“Ada apa?” Tanyanya tanpa bersuara, hanya menggerakkan mulutnya.


“Sakit hati.” Jawabku persis seperti yang dilakukan Alden.


Ella melepaskan pelukannya saat menyadari kedatangan seseorang.


“Ngapain lo disini?” ucap Ella ketus saat menyadari keberadaan Alden.


“Gue mau ajakin Nada nonton gue main basket,” jawab Alden sembari menatapku.


Ella menatapku, meminta penjelasan.


Aku memberikan cengiran tanpa dosa untuk menjelaskan semuanya pada Ella.


“Ajak Ella aja, biar kamu ada temannya.” Ucap Alden setelah itu berjalan lebih dulu menuju lapangan basket.


“Lo udah baikan? Kok gak bilang gue?” Tanya Ella dengan menatapku sinis.


“Nanti gue jelasin,” jawabku sembari tersenyum.


Akupun menarik tangan Ella supaya mengikuti berjalan menuju lapangan.


Aku dan Ella duduk di bagian tribun lapangan. Aku bisa melihat Alden yang sedang melakukan pemanasan bersama teamnya.


Jersey yang ia kenakan sangat pas dibadannya. Membuat aura maskulinnya semakin keluar.


“Lo cerita ke gue, kenapa bisa baikan sama Alden?” Tanya Ella tiba-tiba saat aku sedang asik memperhatikan gerak-gerik Alden.


Aku menoleh kearah Ella, sembari menunjuk kearah lapangan.

__ADS_1


“Reza keren ya,” ucapku.


Aku sengaja mengucapkan hal ini pada Ella. Aku ingin membuat mereka saling mengenal satu sama lain.


Setelah semalam banyak bercerita dengan Alden, aku tahu bahwa ada seseorang yang sangat memperhatikan gerak-gerik teman kesayanganku.


“Kenalan gih sama Reza. Lo kan pegang kendali Reza di event basket.” Lanjutku sembari menatap Ella.


Ella menggeleng sembari tertawa, “gila lo?! Dia banyak yang suka, gue Cuma remahan kerupuk bagi dia.” Jawab Ella.


Aku menggeleng. “Dia baik kok. Lagian apa bedanya sama Alden? Dia juga banyak yang suka,” ucapku mencoba membuka hati Ella.


“Kalau memang sudah punya satu, kenapa harus cari yang lain?” Lanjutku dengan terus menatap Ella.


Ella mengalihkan pandangannya kearah lapangan. Aku bisa melihat kemana ia melihat.


Reza, ia melihat Reza dari jauh.


“Kita sama Nad, takut untuk jatuh cinta sendirian.” Ucap Ella yang membuatku diam seribu bahasa.


°°°°


“Yah gak ada yang bisa jemput gue Nad,” ucap Ella sembari memainkam ponselnya mencari orang untuk menjemputnya disekolah.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pm. Artinya ini sudah malam. Tidak mungkin kalau Ella menunggu sendiri atau pulang sendirian.


“Gue bisa anter lo pulang,” ucap Reza tiba-tiba.


Aku tersenyum, ini adalah kesempatan.


“Yaudah sama Reza aja. Lagian udah malem loh El,” ucapku yang seolah mendukung Reza.


Aku dapat melihat raut wajah Ella yang tampak berpikir keras. Aku pun menyenggol bahunya, supaya ia tidak berpikir terlalu lama.


“Bahaya kalau harus pulang sendirian,” tambahku menakut-nakuti Ella.


“Yaudah iya, gue pulang sama Reza.” Ucap Ella final.


Aku tersenyum puas pada Ella. Reza dan Alden pun mengambil motornya yang berada di parkiran sekolah.


Sedangkan kami menunggu di depan gerbang sekolah.


“Have fun bareng Reza.” Ucapku yang meledek Ella.


Ella menatapku sinis saat mengatainya.


Tak lama, sinar lampu motor menyorot kearah tempat kami berdiri. Disana sudah ada Alden dan Reza.


“Jagain teman gue! Biarpun dia ngeselin, tapi gue sayang.” Ucap Ella sebelum menaiki motor Reza.


Alden dan Reza tertawa bersama.


“Siap boss,” jawab Alden sembari memberikan hormat pada Ella.


“Gue duluan ya, mau anterin Ella.” Ucap Reza berpamitan.


“Hati-hati,” ucapku dan Alden bersama.


Kini hanya tinggal aku dan Alden. Aku pun menaiki motornya setelah memakai helm.


Perlahan Alden mulai memacu kecepanan motornya, dengan kecepatan normal.


Angin sejuk namun berbahaya ini membuat suasana semakin nyaman.


Berjalan dibawah ribuan bintang bersama yang terkasih, adalah suatu keindahan luar biasa.


“Semoga deh mereka bisa cepat dekat,” ucap Alden disela-sela keheningan.


Aku mengangguka antusias, “iya aamiin. Asik dong nanti bisa double date,” jawabku.


Alden tertawa. Suara itu menjadi suara kesukaanku saat ini.


“Enakan juga one, kenapa harus double?” Ucap Alden.


Aku tahu ucapan Alden mengarah pada sesuatu.


Aku mencubit pinggang Alden, ia hanya terkekeh.


Semakin Alden melajukan motornya, semakin dingin pula angin yang menerjang.


Sepertinya hoodie yang ku kenakan tidak berfungsi untuk menghangatkan tubuhku.


“Kalau dingin, boleh peluk kok.”


Aku terkejut saat mendengar Alden berucap seperti itu.


Kedua tanganku yang sedari tadi ku letakkan diatas kedua pahaku, diraih sebelah oleh Alden.


Tangan kiriku ditariknya, dan berlabuh pada perut Alden. Badanku yang sedari tadi duduk tegap, kini sedikit condong akibat tarikan tangan Alden.


“Satunya juga boleh peluk kok,” ucapnya.


Aku pun mendaratkan tangan kananku pada perut Alden. Kini hangat sudah badanku.


Tangan kiri Alden sedari tadi mengusap lembut telapak tangan kananku yang terasa dingin.


Mungkin ia ingin memberi kehangatkan untuk ku.


“Makasih,”ucapnya tiba-tiba.


“Untuk?” Tanya ku yang tidak mengerti ucapan Alden.


Aku dapat melihat senyuman Alden lewat kaca spion. Ia tersenyum sangat lebar.


Tampan sekali.


“Untuk semuanya. Aku bahagia bisa sama kamu, nyaman disisi kamu, dan perlahan berbagi cerita sama kamu.” Jawabnya.


Bibirku tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Rasanya, ada bagian dalam diriku yang kembali melesat terbang jauh entah kemana.


Aku mengangguk. “Sama-sama.” Ucapku yang semakin mengeratkan pelukanku pada punggung Alden.

__ADS_1


__ADS_2